Cuaca Ekstrem Jadi Biang Kerok Harga Pangan Meroket Tajam Jelang Tahun Baru

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi menyoroti harga pangan yang naik di luar dugaan jelang Tahun Baru 2022.

Berkaca pada pengalamannya sebagai Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), kenaikan harga beberapa komoditas seperti minyak goreng, cabai rawit merah dan telur memang kerap terjadi sebelum pergantian tahun. Namun, kali ini terlalu parah.

"Biasanya akhir tahun juga ada kenaikan. Tapi kenaikannya memang tidak terlalu besar seperti sekarang," kata Agung kepada Liputan6.com, Rabu (29/12/2021).

Agung menduga, faktor utama kenaikan harga bapok yang tidak wajar ini bukan berasal dari sisi produksi. Tapi lebih kepada cuaca ekstrem yang menimpa sejumlah wilayah Indonesia akhir-akhir ini.

"Ini juga mungkin dipicu oleh kondisi cuaca yang ekstrem. Cuaca ekstrem akibatnya mempengaruhi produksi," ujar dia.

Cuaca ekstrem tersebut pun turut berpengaruh kepada distribusi bahan pangan yang menjadi sulit. Ditambah pemerintah sebelumnya juga sempat menerapkan kebijakan PPKM berlevel.

"Kedua masalah distribusi, itu juga karena cuaca, karena PPKM (sebelumnya)," ungkap Agung.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Satgas Pangan Polri Sebut Harga Sembako Melonjak Akibat Faktor Alam

Pedagang menata cabai saat menunggu pembeli di kiosnya di Pasar Mede, Jakarta, Rabu (15/12/2021). Harga pangan menjelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) mengalami kenaikan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pedagang menata cabai saat menunggu pembeli di kiosnya di Pasar Mede, Jakarta, Rabu (15/12/2021). Harga pangan menjelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) mengalami kenaikan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Satuan Tugas (Satgas) Pangan Mabes Polri mengaku tak menemukan pelanggaran hukum terkait lonjakan harga sejumlah bahan pokok atau sembako di pasaran.

Seperti diketahui, harga sejumlah bahan pokok seperti cabai rawit, telur ayam, dan minyak goreng belakangan ini membubung tinggi di sejumlah daerah.

Kepala Satgas Pangan Mabes Polri, Brigjen Pol Whisnu Hermawan menyampaikan, kenaikan harga sembako lebih banyak disebabkan faktor alam.

Berdasarkan penelusuran Satgas Pangan Polri, ada beberapa faktor penyebab kenaikan harga pangan, seperti bencana alam serta curah hujan yang tinggi. Hal itu mengakibatkan petani mengalami gagal panen.

"Jadi, kenaikan harga cabe rawit lebih disebabkan gagal panen karena tingginya curah hujan dan erupsi gunung semeru serta berakhirnya masa panen di beberapa sentra produksi," kata Whisnu kepada wartawan, Selasa (28/12/2021).

Sementara kenaikan harga pada produk minyak goreng, Whisnu menerangkan, hal itu disebabkan oleh naiknya harga kelapa sawit sebagai bahan baku utama.

Sedangkan kenaikan harga telur disebabkan oleh peningkatan permintaan terhadap komoditi tersebut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel