Cuaca Ekstrem, Kemenhub Imbau Pelayaran di Perairan Ini Waspada

Agus Rahmat, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, meminta seluruh aktivitas pelayaran untuk mewaspadai cuaca ekstrem akibat bibit siklon tropis.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad mengatakan, hal ini guna meminimalisir terjadinya kecelakaan akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Dia menambahkan, dengan adanya informasi yang telah dikeluarkan oleh BMKG atas dasar temuan perkembangan bibit siklon 94 W yang terbentuk pada tanggal 12 April 2021 jam 00 UTC (07.00 WIB) di sekitar Pasifik Barat sebelah utara Papua. Maka nakhoda kapal diminta untuk mengantisipasi atau berhati-hati dalam pelayarannya.

Baca juga: BMKG: Struktur Bangunan Buruk sebab Rumah Rusak saat Gempa di Malang

"Masyarakat pelayaran diimbau untuk tidak melakukan kegiatan pelayaran di tanggal 14-21 April 2021 pada wilayah perairan Papua Utara, Maluku Utara dan Sulawesi Utara," kata Ahmad dalam keterangan tertulisnya, Rabu 14 April 2021.

Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai ancaman banjir pesisir yang dapat terjadi pada saat bersamaan di fase pasang air laut. Di sisi lain, sirkulasi siklonik juga terpantau di Samudera Hindia barat daya Bengkulu, di Samudera Hindia selatan DI Yogyakarta, dan perairan barat Papua.

"Kondisi ini menyebabkan peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik tersebut," ujar Ahmad.

Berdasarkan informasi dari BMKG, pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) lainnya terpantau pula memanjang dari Sumatera Utara hingga Aceh. Dari Riau hingga perairan timur Semenanjung Malaysia, dan dari Jawa Tengah hingga perairan selatan pulau Belitung.

Kemudian dari perairan selatan Jawa Tengah hingga Samudera Hindia barat daya Lampung, dari perairan selatan Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Tengah bagian utara. Dari Kalimantan Timur bagian barat hingga pesisir barat Kalimantan Timur, dari pesisir utara Kalimantan bagian utara hingga pesisir timur Kalimantan Utara.

Selanjutnya, dari perairan selatan Sulawesi Tenggara hingga perairan timur Sulawesi Tenggara, dan dari perairan barat Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tengah. Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sepanjang daerah tersebut.

Karenanya, lanjut Ahmad, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyiagakan kapal-kapal negara, baik kapal patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) dan Kapal Negara Kenavigasian.

"Untuk mengantisipasi dan memberikan pertolongan SAR jika terjadi musibah atau kecelakaan laut," katanya.

Berikut perairan yang harus dihindari dan diantisipasi akibat adanya cuaca ekstrem yang menyebabkan gelombang laut tinggi:

- Tinggi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter:

Laut Sulawesi bagian tengah dan timur, perairan Kepulauan Sangihe-Kepulauan Talaud, perairan Kepulauan Sitaro, perairan Bitung-Likupang, Laut Maluku, Perairan Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, Samudera Pasifik Utara Halmahera, Perairan Raja Ampat, Teluk Cendrawasih dan Perairan Jayapura - Sarmi.

- Tinggi gelombang 2,5 sampai 4,0 meter:

Perairan Manokwari, perairan Biak, perairan Jayapura-Sarmi, dan Samudera Pasifik utara Papua Barat.

- Tinggi gelombang 4,0 hingga 6,0 meter:

Samudera Pasifik utara Papua.

Sementara itu, potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir serta angin kencang, diperkirakan akan terjadi di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat.