Cuma 30 Menit, Pasang Alat Pacu Jantung Kini Bisa Tanpa Operasi

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 3 menit

VIVA – Denyut jantung normal berkisar antara 60-100 detak per menit. Keteraturan irama denyut tersebut terjadi karena adanya sistem listrik yang unik dalam jantung, yang membuat otot-otot jantung berkontraksi membentuk denyutan.

Namun, jika timbul kerusakan dalam sistem listrik, akan membuat jantung berdetak lebih cepat, lebih lambat, atau tidak beraturan. Hal itu tak boleh dibiarkan, sebab irama denyut jantung yang tidak normal membuat fungsi jantung sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh terganggu.

Denyut jantung yang terlalu lambat atau disebut brakikardia, membuat tubuh tidak memperoleh darah yang cukup, sehingga dapat mengakibatkan seseorang kelelahan, mudah pingsan, atau berkunang-kunang, bernapas pendek-pendek, serta mengalami kerusakan organ vital yang pada akhirnya dapat berujung pada kematian.

Pada kasus ekstrem, kelainan tersebut juga bisa menimbulkan stroke, yakni ketika suplai darah ke otak kurang dalam jangka tertentu, sehingga menyebabkan matinya sel-sel otak.

Kelainan tersebut dapat diatasi dengan konsumsi obat-obatan. Tapi, jika obat-obatan tidak mampu mengatasi masalah, pemasangan alat pacu jantung permanen atau pacemaker menjadi jalan keluar.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP (K), menjelaskan, alat tersebut berfungsi memacu jantung untuk berdenyut secara normal.

“Alat pacu jantung juga dibutuhkan oleh pasien yang membutuhkan pemacuan di jantung akibat mungkin ada kehilangan impuls listrik di jantung. Baik itu karena kabelnya yang sudah tidak baik untuk menghantarkan listrik, atau pembentuk impulsnya sendiri yang sudah terganggu," ujarnya saat konferensi pers yang diadakan Heartology Cardiovascular Center secara virtual, Kamis 25 Maret 2021.

Dokter Dicky menambahkan, kondisi ini biasanya sering terjadi pada orangtua. Di mana mayoritas penyebabnya adalah karena faktor degeneratif, karena kabelnya sudah mulai menua atau generator listrik di jantung yang alami sudah mulai 'malas'.

"Nah, kalau belum ada pacu jantung, pasien seperti ini akhirnya meninggal. Tapi dengan adanya pacu jantung bisa dipertahankan atau bahkan kualitas hidupnya diperbaiki kembali seperti sebelumnya, dengan dibantu alat pacu jantung ini," kata dia.

Berdasarkan penjelasan Dicky, selama ini pacu jantung dipasang dengan jalan operasi. Sementara operasi, membutuhkan sayatan dan terdiri dari generator dan kabel yang sampai ke jantung. Belum lagi, ada risiko terjadi komplikasi.

"Jadi, di bahu dibuatkan di sisi dan kabelnya ditanam melalui pembuluh darah dan akhirnya pacu jantung ini ditanam di bawah kulit. Itu kadang-kadang bisa nonjol dan ada risiko komplikasinya," tuturnya.

Menurut Dicky, beberapa risiko komplikasi yang terjadi, di antaranya paru-parunya bisa tertusuk saat dimasukkan kabel ke jantung, sehingga pasien mengalami kesulitan bernapas dan harus dipasang selang ke paru-paru.

"Belum lagi kalau masuk melalui pembuluh darah, kabelnya bisa terjepit oleh tulang kemudian terputus. Kemudian saat pemasangan terjadi perdarahan karena ini operasi. Apalagi orangtua harus minum pengencer darah, semakin besar risiko perdarahannya," ungkapnya.

Kemudian, risiko yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya infeksi, karena luka operasi mungkin tidak sembuh dengan baik, sehingga berujung infeksinya bisa menjalar ke mana-mana.

"Bisa juga infeksinya bikin kulit makin terkelupas, sehingga pacu jantungnya bisa keluar kaya bisul. Walaupun risiko komplikasinya rendah di bawah 10 persen, tapi itu bisa terjadi pada pasien dengan pemasangan alat pacu jantung konvensional. Tetap manfaatnya lebih besar dari risikonya, tetapi pada orangtua risikonya malah lebih tinggi," pungkas dia.

Nah, untuk semakin meminimalkan risiko, Dicky mengungkap, kini ada teknologi terbaru yang disebut pacu jantung tanpa kabel atau leadless pacemaker, yang bisa dipasang tanpa harus melakukan operasi.

"Proses pemasangan leadless pacemaker tidak memerlukan operasi, cukup dimasukkan dengan menggunakan kateter melalui sayatan kecil di pangkal paha dan dengan panduan X-ray, kateter akan diarahkan ke jantung," terang dia.

Lalu, kata Dicky, pasien akan diberikan bius lokal di sekitar area tersebut. Setelah kateter berada di dalam bilik kanan jantung, pacemaker akan ditempatkan. Pacemaker akan dites untuk memastikan bahwa alat terpasang dan bekerja dengan baik.

"Setelah itu, kateter dikeluarkan, luka sayatan ditutup dengan cara ditekan. Prosedur ini hanya memakan waktu sekitar 30 menit, tergantung kondisi dan anatomi pasien," tuturnya.

Dicky membeberkan, beberapa keuntungan melakukan prosedur leadless pacemaker, antara lain tidak memerlukan kabel atau generator, sehingga tidak perlu operasi dan secara kosmetik lebih baik, karena tidak ada sayatan operasi.

"Risiko komplikasinya juga rendah dan prosedur lebih singkat, yaitu cukup menginap 1 hari di rumah sakit. Pasien dapat segera beraktivitas dan tidak ada keterbatasan gerakan di sekitar dada. Leadless pacemaker juga dapat bertahan hingga 12 tahun," tutup dr. Dicky Armein Hanafy.