Curhat Dwikorita: Peringatan Dini Bencana Kerap Diabaikan Masyarakat

Bayu Nugraha
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menumpahkan curahan hatinya (curhat) di depan Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri dan sejumlah menteri dan pejabat di sektor kebencanaan.

Saat hadir dalam acara forum diskusi sekaligus peluncuran Gerakan Budaya Siaga Bencana, Jumat, 23 April, Dwikorita mengungkapkan, bahwa seringkali peringatan dini atau informasi yang disampaikan lembaganya kerap diabaikan masyarakat.

Salah satunya contohnya, baru - baru ini, pernikahan pasangan selebritas, Atta-Aurel, lebih menonjol ketimbang pada waktu bersamaan dengan informasi BMKG yang menyampaikan badai atau siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur. Belakangan diketahui bahwa siklon tropis mengakibatkan bencana alam yang dahsyat yakni banjir bandang di Nusa Tenggara Timur.

"Jadi kalau informasi dari BMKG mohon maaf, kami mengeluarkan peringatan dini tidak selalu mendapatkan perhatian. Itu pelajaran bagi kami berarti peringatan dini kami kalah menarik," kata Dwikorita.

"Nah misalnya peringatan Seroja ada pakar media sosial menganalisis, saat peringatan dini dikeluarkan itu trendingnya naik. Tapi setelah jam 12 malam kalah dengan trendingnya pernikahan siapa Atta - Aurel. Jadi sudah kalah ini," sambungnya.

Walau begitu, Dwikorita bilang, pihaknya pun tetap mengoreksi diri. Ke depan dan selalu yang menjadi penekanan olehnya bagaimana memberi pemahaman agar masyarakat sadar terhadap bencana.

Ia lantas memberi contoh lagi, saat peringatan dini banjir Jakarta beberapa waktu lalu juga tak dihiraukan masyarakat. Menjadi heran, lanjut dia, justru peringatan dini mengenai banjir di Ibu Kota lebih menjadi rujukan ketika datang dari pihak Kedubes AS, yang datanya datang dari BMKG.

"Sebelumnya juga terjadi saat kejadian banjir di Jakarta kami memberikan peringatan dini seminggu sebelumnya, diulangi lagi 3 hari sebelumnya, dan sehari sebelumnya bersama Pak Doni (Doni Monardo Kepala BNPB). Tetapi ternyata masih tidak menjadi perhatian. Begitu Kedutaan Amerika menggunakan data BMKG untuk memberikan peringatan dini, semuanya karena bahasa Inggris, semuanya tertarik," tutur Dwikorita.

Menurut Dwikorita, data - data mengenai kebencanaan di Tanah Air sudah terang benderang. Sebagai gambaran, data di tahun ini selama 3 bulan terakhir, kejadian gempa bumi grafiknya selalu meningkat. Mulai Januari sebanyak 662 kali, kemudian Februari 526 kali dan Maret hingga 920 kali. Dan peristiwa alam tersebut terjadi, lanjut perempuan pertama yang pernah menjabat Rektor UGM ini, tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi sudah menjadi fenomena alam di berbagai negara.

Dan ia pun mendorong, terus dioptimalkannya sistem integrasi informasi mengenai peringatan dini tsunami yang berada di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PMNVBG) Kementerian ESDM. Sistem pemantauan peringatan tsunami itu harusnya juga terkoneksi dengan BMKG. Karena kejadian tsunami beberapa kali diawali oleh erupsi gunung api yang dipantau oleh PVMBG.

"Jadi mohon izin kami menyampaikan kendala ini yang benar - benar kami sangat mengkhawatirkan. Saat ini (kami sudah) bekerja sama dengan Badan Geologi kami telah berhasil mendapatkan integrasi data langsung dari monitoring Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Tapi masih banyak bulatan - bulatan (gunung api) sekitar 8 lokasi lain yang berpotensi menimbulkan tsunami," ujarnya.

Baca juga: KPK: Azis Syamsuddin Minta Penyidik Setop Kasus Walkot Tanjungbalai