Curhat Eks Kasat Reskrim Jaksel Takut Dicopot Jika Tolak Buat BAI Putri Candrawathi

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ridwan R Soplanit menjadi saksi di persidangan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, hari ini. Di hadapan hakim, Ridwan mengungkap bagaimana upaya Sambo menyekenariokan pembuatan berita acara interogasi untuk istrinya Putri Candrawathi.

Ridwan mengaku terpaksa menuruti saja perintah Sambo karena takut dicopot dari jabatannya. Apalagi, Sambo adalah kepala divisi Propam Polri.

Dia menceritakan momen ketika didatangi AKBP Arif Rahman Arifin ke Polres Metro Jakarta Selatan pada malam hari. Namun, tidak disebutkan tanggal dan harinya.

Padanya, Arif mengaku membawa perintah dari Ferdy Sambo untuk membuatkan Berita Acara Interogasi (BAI) terhadap Putri Candrawathi.

"Kemudian, saya panggil untuk masalah pelecehan, saya panggil Kanit PPPA saya. Kemudian, saya panggil beberapa penyidik saya untuk berbicara terkait dengan kronologis yang dibawa oleh AKBP Arif saat itu," kata Ridwan dalam sidang, Selasa (29/11).

Menurut Arif, saat itu Putri masih dalam keadaan trauma. Sehingga, tidak dapat hadir langsung untuk membuat laporan atau BAI tersebut.

"Kemudian saya sampaikan kepada Kapolres saat itu, saya sampaikan 'mohon izin komandan, ini ada AKBP Arif diperintahkan Pak FS untuk buat BAI. Karena Bu Putri saat itu kondisinya belum bisa ke Polres, karena alasannya saat itu lagi trauma. Akhirnya, didatangi oleh AKBP Arif terkait dengan lembaran kronologis tersebut," ujar Ridwan.

"Kemudian dibuatkan BAI saat itu, dan BAI itu langsung malam. Setelah satu jam kita diperintahkan kapolres kita ke Saguling untuk membawa BAI tersebut ke Saguling," sambungnya.

Mendengar penjelasan Ridwan, hakim bertanya BAI yang diperuntukkan ke siapa. Dia menjawab atas nama istri Sambo, Putri Candrawathi.

"Saat itu dibuat di Polres Jaksel tanpa kehadiran Bu Putri, hanya mendengarkan penjelasan Arif?" tanya hakim.

"Kronologisnya yang dibawa. Yang AKBP Arif sampaikan bahwa itu kronologis dari Bu Putri yang disampaikan kepada beliau," jawab Ridwan.

"Wajar enggak begitu?," tanya hakim kembali.

Menurutnya hal tersebut tidaklah wajar.

"Untuk itu saya menyampaikan ke Kapolres untuk hal tersebut," jawab Ridwan.

"Saat itu saudara bisa menolak?" tanya hakim.

"Saat itu saya tidak merespons, saya bilang itu ibaratnya berdialog dengan penyidik terkait dengan masalah pembuatan BAI itu berdasarkan kronologis. Kemudian, dari kronologis itu memunculkan pertanyaan terkait dengan kronologis yang dibuat."

"Ya maksudnya itu kan tidak lazim, saudara menolak?" tanya kembali hakim.

"Saat itu saya kan keberatan yang mulia. Saya keberatan, saya sampaikan bahwa apakah kronologis ini kita sampaikan dalam bentuk pertanyaan. Apakah bisa mewakili semua dari pertanyaan yang ada. Tetapi saat itu langsung saya lapor ke Kapolres saya untuk datang ke tempat tersebut," jawab Soplanit.

"Kapolres izin kan?" tanya hakim.

"Kapolres saat itu ada di ruangan saya dan tetap melihat proses itu berjalan," jawabnya.

Saat itu, hakim kembali menanyakan soal kelaziman proses pembuatan BAI yang tanpa dihadirkan langsung oleh Putri.

"Ya saat itu Kapolres mengiyakan karena saat Kapolres datang ke ruang saya, dan melihat prosesnya berjalan. Kemudian, sempat menanyakan kembali dan saya menjelaskan bahwa ini berdasarkan kronologis saja yang disalin," ujar Ridwan.

"Maksudnya saudara sebagai kasat dan saudara Arief datang mewakili PC. Nah itu suatu enggak lazim dan jelas di luar prosedur. Kenapa anggota saudara langsung buatkan padahal saudara jelas katakan menolak?" ujar hakim.

"Ya saat itu Pak Arif sampaikan bahwa ini perintah Pak FS. Kemudian saya dengarkan seperti itu, saya juga laporkan ke pimpinan saya," ungkap Ridwan.

"Enggak, saudara kan sempat menolak. Saudara melaporkan pimpinan, tetapi anggota saudara tetap kerjakan. Artinya enggak sinkron. Seberapa besar ketakutan anggota saudara sama saudara FS saat itu?," tanya hakim.

"Ya saat itu Pak FS sebagai Kadiv Propam," jawab Ridwan.

"Coba gambarkan, kenapa itu di luar prosedur tetap dijalankan? Apa sih yang dirasakan oleh Polres Jaksel saat itu?," tanya hakim.

"Ya karena kita berhadapan dengan seorang Kadiv Propam Yang Mulia, dan kita melihat memang dari awal di TKP kan perangkat dari Propam juga mereka sudah ada di situ. Sehingga, memang yang kita bayangkan kita dalam pengawasan Kadiv Propam Mabes," jelas Ridwan.

"Terburuknya, kalau saudara sempat nolak, apa sih selain dicopot?" tanya hakim.

"Dicopot Yang Mulia," ungkap Ridwan. [lia]