Curhat Guru Honorer: Senang Bisa Berbagi Ilmu tapi Cuma Digaji Rp500.000 per Bulan

Merdeka.com - Merdeka.com - Seorang guru honorer, Aulia (24) yang baru saja mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang guru pada Agustus tahun lalu mengakui bahwa profesi ini sangat menyenangkan. Sebab, dapat bertemu dengan anak-anak berbagi ilmu yang dia dapat di jenjang sekolahnya dulu.

Walaupun hanya digaji Rp500.000 per bulan, Aulia tak pantang menyerah demi mengejar impiannya menjadi seorang guru.

"Gaji saya Rp500.000 per bulan, Karena merasa senang bisa ketemu anak-anak terus berbagi ilmu juga sembari nabung buat akhirat," ujar Aulia kepada Merdeka.com, Sabtu (21/1).

Gaji yang dia dapat sebesar Rp500.000 diakui tidak akan cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi, harga kebutuhan terus mengalami kenaikan mulai dari komoditas pangan, tarif angkutan umum, bahan bakar dan lain sebagainya.

"Sangat tidak cukup. Apalagi harga sembako suka naik terus. Uang gaji saya kasih ke orang tua untuk kebutuhan keluarga," tuturnya.

Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, Aulia pun mengaku memiliki pekerjaan sampingan seperti berjualan makanan yang dibawa oleh sang adik, yang dijual di kampusnya.

"Ada, kebanyakan yang jadi guru honorer sampingannya banyak, ya kita perlu uang untuk sehari-hari kan. Aku kadang jualan makanan dibawa adikku di jual di tempat kuliahnya," jelasnya.

Harapan ke Pemerintah

Dia pun berharap agar pemerintah lebih memperhatikan para pekerja honorer khususnya guru honorer. Karena bagaimanapun guru lah yang mengajar anak-anak bangsa di lingkungan sekolah.

"Berharap diperhatikan pemerintah. Ingin dapat kesempatan jadi PNS (pegawai negeri sipil). Saya harap pekerjaan ini dapat dilihat oleh pemerintah bahwa kami juga butuh diperhatikan," tambahnya.

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu pemerintah pusat dan daerah tengah merancang alternatif terbaik untuk penyelesaian penataan tenaga non Aparatur Sipil Negara (non ASN) atau tenaga honorer.

Pemerintah melalui Kementerian PANRB menyusun beberapa opsi yang nanti akan disampaikan kepada parlemen. Beberapa alternatif itu segera dideteksi bersama tim dari provinsi, kabupaten, dan kota.

Menteri PAN-RB, Abdullah Azwar Anas mengatakan pemerintah pusat dan daerah berkolaborasi mencari alternatif terbaik tanpa mengesampingkan sisi kemanusian dan pengabdian beagi tenaga honorer.

"Kita tentu juga memasukan faktor-faktor seperti harus terus terjaganya kualitas pelayanan publik. Insyaallah nanti opsi terbaik bagi semuanya yang akan dijalankan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai faktor," ujar Anas beberapa waktu lalu. [idr]