Curhatan Kepala BKPM: Dorong Investasi Susahnya Minta Ampun

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terus perjuangan keras untuk mendorong investasi. Sebab tidak mudah mendatangkan investor untuk tanamkan modal di Indonesia dengan regulasi yang rumit.

"Proses perjuangan kita di 2014 dalam rangka mendorong investasi itu minta ampun susah," kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dalam penandatangan nota kesepahaman yang disiaran lewat Instagram @bpphimpi, Rabu (10/2/2021).

Meski terkesan susah, Bahlil mengaku senang realisasi investasi pada tahun anggaran 2020 bisa melebihi target yang ditetapkan. Menurutnya, capaian itu sudah cukup maksimal di tengah kondisi pandemi Covid-19.

"Begitu ada Covid-19 realisasi investasi kita revisi di Rp 817 triliun mampu kita realisasi Rp 826,3 triliun tumbuh sekitar 1,1 persen. Angka tersebut menurut saya itu sudah merupakan angka maksimal dalam perjuangan kita," kata dia.

Dia menekankan, investasi menjadi salah satu instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi domestik secara nasional ditopang oleh konsumsi dengan kontribusi pada PDB hampir mencapai 57-60 persen. Sementara investasi memberikan sumbangsih 30 persen kepada pertumbuhan ekonomi nasional.

"Nah lapangan pekerjaan ini adalah salah satu faktor penentu dalam mendorong sektor konsumsi tersebut dan bermuara kepada investasi," jelas dia.

Dalam upaya mempercepat investasi, BKPM memiliki sejumlah strategi yakni dengan jemput bola. Di samping itu, pihaknya juga terus berupaya dalam mempercepat pemberian perizinan berusaha.

"Sudah barang tentu harus tertib saya sering mengatakan bahwa sudah saatnya pengusaha tidak boleh mengatur negara, negara yang mengatur pengusaha. Tetapi negara juga tidak boleh semena-mena terhadap pengusaha karena pengusaha ini adalah pahlawan yang menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan negara," jelas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Realisasi Investasi 2020 Lebih Rp 9 T dari Target, Kepala BKPM: Semua pada Tertawa

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan akumulasi realisasi investasi di Indonesia yang mencapai Rp 826,3 triliun selama satu tahun penuh pada periode 1 Januari-31 Desember 2020.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, jumlah tersebut naik 2,1 persen dari pencapaian di 2019, dan juga tembus 101,1 persen dari target awal yang sebesar Rp 817,2 triliun.

"Realisasi investasi kita itu mencapai Rp 826,3 triliun dari target investasi kita Rp 817,2 triliun. Artinya ada kenaikan kurang lebih sekitar Rp 9 triliun," kata Bahlil dalam sesi teleconference, Senin (25/1/2021).

Bahlil menceritakan, pencapaian tersebut sekaligus menjawab keraguan sejumlah pihak bahwa realisasi investasi di sepanjang 2020 akan tersungkur akibat pandemi Covid-19 berkepanjangan.

"Dulu saya masih ingat ketika pandemi Covid-19 melanda negara kita di bulan Maret 2020, itu beberapa kelompok asosiasi yang mengatakan pada BKPM realisasi investasi enggak mungkin lebih dari Rp 700 triliun. Dan menurut kami itu stimulus terbaik bagi BKPM," tuturnya.

"Dan hari ini Alhamdulillah stimulus itu kemudian membuat BKPM semua pada tertawa, dan hasilnya Rp 826 triliun. Perlu saya sampaikan, hidup itu jangan terlalu pesimis. Ada masalah, tapi jangan dihadapi dengan pesimistis," imbuh dia.

Dijelaskan Bahlil, realisasi investasi Rp 826,3 triliun ini terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang sebesar 50,1 persen, dan Penanaman Modal Asing (PMA) senai 49,9 persen.

"Mungkin ini dalam sejarah belum pernah terjadi, sangat berimbang. Jadi sedikit saya katakan bahwa di era pandemi Covid-19, peran PMDN sangat luar biasa sekali," ujar dia

"Kemudian di PMA sendiri pasti kita tahu, kenapa PMA kok bisa sedikit turun. Kita tahu di beberapa lembaga keuangan dunia mengatakan bahwa Foreign Direct Investment turunnya sampai 30-40 persen. Indonesia itu tidak lebih dari 10 persen. Artinya kepercayaan ini ada," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: