Cyrus Network Sebut Survei KedaiKopi Soal Kejaksaan Agung Ajaib

·Bacaan 2 menit

VIVA - Pendiri Cyrus Network Hasan Nasbi menyebut hasil survei milik KedaiKopi tentang opini publik terhadap kinerja Kejaksaan Agung ajaib lantaran berbeda dengan sebagian besar survei yang lain.

Hasan mengemukakan sejumlah indikator yang menjadi acuannya sehingga menyimpulkan hasil survei KedaiKopi ajaib misalnya dari sampling, potret demografi dan pertanyaan yang diajukan. KedaiKopi melakukan survei melalui telepon online di 34 provinsi dengan jumlah 1.047 responden.

"Ini mewakili siapa, database siapa, tapi lebih pas klaim surveinya opini publik para pemilik hp. Kalau hanya dari kontak person yang ada di masing-masing staf kedai kopi ya tidak bisa disebut opini publik," kata Hasan dalam diskusi yang disiarkan Total Politik dan juga dihadiri Founder KedaiKOPI, Hendri Satrio, dikutip pada Selasa, 17 Agustus 2021.

Hasan menuturkan judul survei KedaiKopi yakni "Kata Publik tentang Kinerja Kejaksaan" seharusnya sampling mewakili populasi masyarakat Indonesia.

Baca juga: Survei KedaiKOPI: 65 % Warga Lihat Kejaksaan Tak Adil Tangani Pinangki

Ia juga menilai potret demografi tidak mewakili publik seutuhnya. Seperti 57 persen responden yang lulus kuliah. Kemudian 42 persen responden berasal dari swasta dan BUMN.

Hasan menilai akan lebih tepat jika survei tersebut mewakili para pelaku pasar modal, bukan survei opini publik atau survei para pekerja BUMN.

"Jangan bilang survei publik, ini misleading," katanya.

Alasannya, lanjut dia, hasilnya tidak benar karena tidak mewakili publik. 'Apa kata pasar modal soal jaksa agung' ini lebih make sense (masuk akal). Diakui saja ini survei bukan mewakili publik, tapi mewakili kalangan tertentu," katanya.

Selain itu, Hasan melihat survei tersebut sudah diarahkan untuk mendapat jawaban tertentu. Ia menilik dari tendensius pada kalimat pertanyaan yang dilontarkan terhadap responden.

"Jaksa dalam kasus jaksa Pinangki hanya menuntut 4 tahun penjara, kenapa tidak lurus saja tidak usah pakai hanya. Karena ketika bilang "hanya", ada framing negatif," kata Hasan.

Setelah diarahkan dengan pertanyaan negatif muncul hasil ketidakpercayaan kepada kejaksaan. Sebab, menurut Hasan, pertanyaan sebetulnya tidak untuk masyarakat umum.

Beberapa pertanyaan, cenderung untuk para pelaku pasar modal. Sehingga, muncul jawaban para responden agar Jaksa Agung ST Burhanuddin diganti.

Hasil survei KedaiKopi juga menyebut penegakan hukum dalam kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) mempengaruhi kinerja pasar saham ataupun investasi di Indonesia. Beberapa investor asing kemudian hengkang dari Indonesia seperti Morgan Stanley.

"Pasar saham kehilangan momentum bangkit, menyusul hengkangnya broker global Morgan Stanley dari pasar Indonesia. Siapa yang paham ini, mundurnya diduga disebabkan ketidakpuasan investor terhadap penegakkan hukun di Indonesia," kata Hasan.

Atas indikator-indikator tersebut, Hasan memiliki kecurigaan survei tersebut memang dirancang untuk mem-framing negatif. Ia mendasarkan pada hasil sejumlah lembaga survei lain yang memiliki tingkat kepuasan berbeda dengah hasil KedaiKopi.

Sebelumnya, Lembaga Survei KedaiKOPI melakukan survei kinerja lembaga penuntutan atau Kejaksaan Agung. Sebab, belakangan kerap terjadi ketimpangan perlakuan penegakan hukum atau disparitas yang dilakukan Kejaksaan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel