Dadang Hemingway: The Oldman and The Chess

Syahdan Nurdin, paasfals0911-942
·Bacaan 3 menit

VIVA – “Muda berkarya, tua berjasa.” Sungguh quotes yang tak asing, begitupun dengan Pak Dadang. Sebelum viral, ia adalah bapak-bapak tua lokal nan biasa saja yang kesehariannya hanya melihara burung dan suka main catur di pos ronda.

Namun apa daya, pandemi rusuh ikut campur dalam tatanan kehidupan jagat raya yang membuatnya terpaksa main catur online yang belakangan ini melambungkan namanya.

Tak dapat dipungkiri, terlepas ia “cheater” atau tidaknya, ia membuat olahraga otak ini khususnya di Indonesia menjadi hegemoni yang luar biasa dan sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam percaturan duniawi. Ia definisi tua yang berjasa, valid no debat!

Dalam hal ini saya pun merujuk pada bapak-bapak Amerika yang “sama-sama suka” pada bidangnya, dalam hal ini kepenulisan. Saya menyangkutpautkannya dengan Ernest Hemingway dengan alasan karena sebelumnya karyanya kurang dikenal khalayak hingga pada akhirnya ia menerbitkan novel fiksi pada usia senja yang berjudul : “The Oldman and The Sea” pada tahun 1952.

Sebuah karya fiksi dengan alur yang biasa saja akan tetapi penuh makna dan pelajaran hidup. Ajaibnya, pak tua yang suka mancing yang ada dalam buku tersebut nyatanya seperti menggambarkan masa depan karier si penciptanya.

Buku tersebut ibarat tangkapan besar si pak tua yang membuatkan jalan kepada dunia tentang karya-karya yang lainnya, dan bapak tersebut digadang-gadang membawa perubahan dunia fiksi modern.

Catur olahraga yang sulit, setidaknya dibutuhkan otak yang encer untuk memainkannya. Ia melibatkan hampir segala aspek kecerdasan manusia: strategi, analisis, ingatan, imajinasi, menciptakan peluang, dan pengambilan keputusan.

Pak Dadang Subur adalah seorang yang tak gentar walau kalah melawan GM yang awalnya saya kira GM itu masih cupu lah setara grandmaster di mobel lejen, namun itu merupakan jelas merupakan kekalahan yang sangat layak sekaligus terasa sangat menyenangkan juga dengan seratus juta rupiah sudah di tangan.

Pak Dadang subur mengubah negeri ini. Ia adalah penyebab yang membuat kalangan masyarakat demam catur, kita akhirnya ngulik lagi tentang catur. Apa itu GM, siapa saja pecatur Indonesia kelas dunia, opening catur, bahkan mungkin ada yang bela-belain nonton serial Queens Gambit agar kiranya bisa sedikit mengerti untuk modal nonton pertandingan live tadi sore yang jumlah penontonnya melebihi pelantikan presiden negara manapun. 1,3 juta Viewers bung! Pemerintah emang gak ada bakat jadi Youtuber.

Berbicara Toutuber, Deddy corbuzier yang menjadi penyelenggara ajang tersebut memanglah Father of Yotube walau saya agak malas mengakuinya, ia layaknya bapak yang menyelesaikan pertengkaran kedua anaknya, baik curhat ataupun ngasih duit buat jajan.

Apakah mungkin arwah Don' Vito Corleone menaungi podcastnya? Kan tapi doi bijak juga kaga haha. Kayaknya metafor yang tepat seperti ini: Deddy ini kayak investor sawit, Pak Dadang atau siapapun yang sedang viral adalah Omnibuslaw, dan kita adalah demonstran.

Dan ada satu hal penting dalam permainan catur, saya pun akhirnya mengetahui makna slogan yang selama ini digaungkan oleh tokoh politik, atau motivator-motivator beken, dari kata “pion” saja. contohnya: “jadilah pionir perubahan!.” “Jadilah pionir muda penggerak bangsa!.”

Dan pion itu dalam catur kan jalannya maju mulu dan ia tidak mundur seperti kasta-kasta di atasnya. Yang artinya mengajarkan kita untuk terus melangkah maju walau badai menghadang, walau ombak menerjang, dan walau rezim menentang.

Akhir kata, Pak Dadang menurut pakar Komunisme post-modern, yakni Rifki Naufal berkata: “Dia tuh cuma bapak-bapak yang emang suka maen catur dan anaknya aja yang emang caper yang buat bapaknya dapet atensi sebesar itu.” Saya sepakat dan memang begitu adanya, apresiasi saya sebesar-besarnya untuk Pak Dadang. Lads and gentleman mari kita sambut: The Oldman and The Chess!