Daden Masih Layani Ferdy Sambo dan Putri Meski Tak Lagi Jadi Ajudan, Ini Alasannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Daden Miftahul Haq mengaku masih melayani keluarga Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi meski dirinya telah ditarik dari kesatuan sebagai ADC atau Ajudan yang mengawal Kadiv Propam Polri.

Hal ini diungkap Daden dalam sidang perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J atas terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.

"Tidak lagi menjadi ajudan kapan?" tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

"Ditarik kesatuan sebelum bapak jadi tersangka," jawab Daden

"Sebelum bapak dijadikan tersangka, setelah itu dikembalikan ke kesatuan?" kata JPU memastikan.

"Betul," singkat Daden.

Meski telah ditarik dari kesatuan asal, Daden mengaku masih melayani keluarga Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi selayaknya ajudan atas inisiatif sendiri hingga saat ini.

"Sampai sekarang masih enggak?" tanya JPU.

"Masih," jawab Daden.

"Masih melayani, untuk sekarang saudara saksi, masih melayani keluarga terdakwa Pak Sambo dan Putri?" tanya kembali JPU.

"Siap masih," ujar Daden.

"Itu atas perintah atau inisiatif sendiri?" timpal kembali JPU.

"Siap, atas inisiatif diri sendiri," kata Daden.

Usai pernyataan itu, Daden ditanyakan perihal pembagian ajudan antara di Magelang Jawa Tengah dan Jakarta. Daden menjelaskan bahwa ajudan yang ditugaskan di Magelang adalah Ricky Rizal alias Bripka RR.

"Di Magelang itu Bang Ricky. Untuk membantu kegiatan anggota kami di sana," katanya.

"Termasuk juga ke dalam, sprin (surat perintah penugasan)?" tanya JPU.

"Untuk disprin tidak, tapi untuk perintah bapak (ditugaskan di Magelang)," katanya.

Sekadar informasi, selain Daden, Ferdy Sambo dikawal ajudan lainnya dalam menjalankan tugas yakni Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J dan Richard Eliezer alias Bharada E.

Kemudian, Ricky Rizal Wibowo alias Bripka RR, Bripka Matius Marey, Brigadir Romer, Brigadir Polisi Satu atau Briptu Deden, Bharada Sadam, dan Bharatu Prayogi.

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [tin]