Daerah suara mengambang jadi tegang setelah Trump berselisih dengan Iran

MONROE, Michigan (AP) - Dia dengan cemas pindah-pindah saluran berita, bersiap menunggu pengumuman bom yang jatuh dan pasukan naik pesawat untuk terbang ke Timur Tengah. Itu mimpi buruk yang dia harapkan tak akan pernah terlihat lagi.

Putra Michael Ingram, Michael Jr., meninggal dunia di Afghanistan pada 2010 dalam usia 23 tahun. Setiap hari sejak itu, Ingram berdoa agar para presiden Amerika mengakhiri perang di Irak dan Afghanistan dan memulangkan tentara sampai prajurit terakhir. Alih-alih yang dia terlihat pekan ini adalah Amerika Serikat semakin dekat dengan perang yang baru.

Pekan penuh pertaruhan pemerintahan Presiden Donald Trump manakala perselisihan dengan Iran mendorong kedua negara di ambang perang, dirasakan paling dalam oleh orang-orang seperti Ingram dan di tempat-tempat seperti Monroe. Sudut kerah biru di Michigan tenggara ini sudah memakamkan para prajurit muda pada tingkat yang lebih tinggi ketimbang sebagian besar tempat lain di Amerika. Di sini, masalah perang dan perdamaian sudah sangat pribadi.

Mereka juga secara politis penting pada November mendatang. Monroe adalah kabupaten bersuara mengambang di sebuah negara bagian suara mengambang, bagian dari klaster komunitas Rust Belt di sepanjang perbatasan Ohio dan Michigan yang memilih Barack Obama dari Partai Demokrat tetapi kemudian berbalik mengantarkan Trump ke Gedung Putih pada 2016. Penilaian daerah ini mengenia kinerja Trump sebagai Panglima Tertinggi menjadi penentu apakah dia akan bertahan tahun depan sebagai panglima tertinggi.

Percakapan dengan warga sini, termasuk banyak keluarga veteran dan keluarga militer, mengungkapkan betapa rumitnya penilaian itu. Janji kampanye Trump untuk menghentikan "perang tanpa akhir" bergaung kepada banyak orang, tetapi begitu pula janjinya untuk menjawab agresi dengan kekuatan tanpa belas kasih. Pendukung Trump di Monroe mengaku tidak menentang aksi militer. Mereka hanya ingin menang dan menang dengan cepat. Mereka mengaku mempercayai niat Trump.

Seminggu yang diawali dengan ketidakpastian dan teror berakhir ketika Ingram, dan yang lainnya di sini, sepertinya berdiri sepenuhnya di belakang Trump. Pekan lalu, Trump mengesahkan pembunuhan bersasaran jenderal top Iran, Qassem Soleimani. Iran menjawab dengan menembakkan lebih dari selusin rudal ke pangkalan-pangkalan Amerika di Irak dalam serangan paling agresif sejak menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979.

Larry Mortimer, veteran perang Irak berusia 36 tahun, tidak memilih pada Pemilu 2016. Dia kini menganggap dirinya belum menentukan pilihan. Tetapi pekan terakhir ini mendorong dia lebih condong memilih Trump yang kata dia karena presiden ini telah membuat Amerika terlihat tangguh.

Kabupaten Monroe yang berpenduduk 150.000 orang sudah kehilangan enam korban militer sejak 2001 yang membuat daerah ini berada di atas rata-rata nasional per kapita.

Tempat-tempat seperti Monroe yang harus menyaksikan putra dan putri mereka mati di luar negeri dengan tingkat lebih tinggi menyalurkan suara secara tidak seimbang kepada Trump, menurut sebuah studi 2017 oleh para peneliti Universitas Boston dan Universitas Minnesota.

Doug Kriner, salah satu penulis penelitian ini, melihat hubungan tersebut sebagai bagian dari seruan Trump kepada para pahlwan tidak dikenal Amerika. Sebagian besar negara ini kurang memperhatikan perang ketika sebagian kecil orang Amerika yang pergi berperang. Penelitian ini menyimpulkan warga Amerika merespons para politisi yang menjanjikan mereka tidak akan lagi diabaikan, tulis Kriner.

Kriner, kini profesor pada Universitas Cornell, melihat sebuah peringatan kepada Trump dalam penelitiannya: Trump berisiko mematikan pemilih yang memegang janjinya untuk menghindari "perang bodoh" dan dipandang sebagai "politisi baru yang mempedulikan ketidaksetaraan pengorbanan militer yang tak terlihat."

Ibunda Sersan Michael Ingram sudah bertahun-tahun tak memberikan suara. Politisi terus berjanji memulangkan pasukan Amerika dan tidak ada yang melakukannya, kata sang ibu bernama Patricia Kitts ini.

Seminggu terakhir ini adalah salah satu pekan terburuk baginya sejak kematian anaknya. Dia menyaksikan video tentara bersiap untuk perang: berbaris membelah landasan, menaiki tangga pesawat dan menghilang di dalam, menuju masa depan yang tidak pasti.

Dia sekarang akan menggunakan hak pilihnya, kata dia. Kepada kandidat mana pun yang meyakinkan dia bahwa pengakhiran perang akan menjadi prioritas.

"Bawa pulang anak-anak kita," kata dia. "Dan seandainya kalian berjanji memulangkan pasukan kita, maka kalian lebih memulangkan mereka."

___

Direktur AP untuk Riset Opini Publik Emily Swanson dan jurnalis data Angeliki Kastanis berkontribusi dalam laporan ini.