Daftar Negara dengan Mata Uang Terburuk di Dunia

Merdeka.com - Merdeka.com - Nilai tukar Dolar AS (USD) terus menguat belakangan ini, yang dipicu oleh agresifnya Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga acuan.

Keputusan The Fed menaikkan suku bunga membuat dolar SD yang beredar di seluruh dunia, termasuk negara berkembang akan kembali ke AS. Sebab, masyarakat justru tertarik menyimpan uangnya di perbankan dibandingkan untuk digunakan (spending).

Dolar AS di seluruh dunia ingin balik ke Amerika supaya dapat bunga yang tinggi dan membuat nilai tukar negara lain melemah.

Di beberapa negara, kombinasi dari tekanan geopolitik dan langkah dari bank sentral telah mendorong mata uang negaranya masuk ke dalam jurang kematian. Dolar AS yang mengalami penguatan di tengah goncangan geopolitik dan makroekonomi sangat membebani pasar mata uang negara berkembang.

Setidaknya, saat ini ada 4 mata uang terburuk di dunia, berikut rinciannya:

Ghana

Profesor ekonomi terapan di Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke menerbitkan daftar mata uang dengan kinerja terburuk tahun ini. Terungkap bahwa Cedi Ghana berada di posisi teratas.

Cedi mencetak rekor terendah terhadap Dolar pada hari Rabu pekan lalu, mencapai angka 14,24 persen. Ini tidak terlepas akibat masalah yang terjadi di Ghana, termasuk meningkatnya biaya hidup.

Selain itu, beban utang yang telah memaksa pemerintah untuk meminta bantuan International Monetary Fund menjadi langkah yang tidak disetujui oleh partai yang berkuasa dan oposisi.

"Keruwetan masalah Ghana menjadi lebih mencolok ketika mempertimbangkan bahwa pejabat pemerintah bersedia mengambil pemotongan gaji besar-besaran dalam upaya untuk membebaskan sejumlah dana," ucap Jacques Nel, kepala makro di Oxford Economics Afrika, mengatakan dalam sebuah catatan baru-baru ini.

Guncangan terbaru terhadap mata uang terjadi ketika Bank of Ghana membatalkan lelang valuta asing yang dijadwalkan dan juga demonstrasi besar-besaran berlangsung di ibu kota Ghana, Accra pada bulan ini menuntut pengunduran diri Presiden Akufo-Addo.

Zimbabwe dan Kuba

Di tempat kedua adalah Peso Kuba yang turun 56,36 persen terhadap USD. Kemudian ada Dolar Zimbabwe, yang secara mengejutkan telah anjlok 76,74 persen nilainya terhadap dolar AS sejak Januari.

Baik Zimbabwe dan Kuba juga menderita karena tingkat inflasi yang mengerikan di negaranya. Hanke mengatakan pekan lalu bahwa lubang kematian ekonomi Zimbabwe terus berputar.

Badan statistik nasional ZimStat melaporkan bahwa inflasi negara itu mencapai 268 persen pada bulan Oktober, tetapi perkiraan Hanke sendiri menempatkannya pada 417 persen.

Mirip dengan Ghana, pihak berwenang di Zimbabwe telah berusaha untuk mendukung mata uang lokal dan memerangi inflasi dengan menindak pembayaran dolar Zimbabwe.

Inflasi setinggi langit juga merupakan masalah utama di Kuba, dengan perkiraan Hanke yang menempatkan kenaikan harga konsumen di Kuba mencapai 166 persen per tahun.

Mesir

Pound Mesir pekan lalu merosot ke level terendah terhadap dolar AS yang mencapai angka 24,42 persen dan masuk ke daftar 10 mata uang berkinerja terburuk tahun 2022 menurut Hanke.

Fitch Ratings baru-baru ini memangkas prospek kredit negara menjadi negatif mengutip posisi likuiditas eksternal yang memburuk dan risiko berkurangnya akses pasar obligasi. Sementara itu, cadangan devisa Mesir telah terkuras hingga di bawah USD 32 miliar di bulan Oktober dari USD 35 miliar di bulan Maret.

Fitch menyoroti bahwa masalah pembiayaan Mesir diperparah utang luar negeri USD 6 miliar yang akan jatuh tempo tahun depan, dan USD 9 miliar lagi yang akan jatuh tempo pada tahun 2024.

Sementara, mata uang lain masuk daftar kinerja terburuk selama 2022 ini pada daftar minggu lalu di antaranya termasuk Rupee Sri Lanka, Bolivar Venezuela, Leone Sierra Leone, Kyat Myanmar, Kip Laos, dan Hryvnia Ukraina.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah [idr]