Daftar Pejabat AS yang Dipecat atau Resign Jelang Donald Trump Lengser

Raden Jihad Akbar, Dinia Adrianjara
·Bacaan 4 menit

VIVA – Jelang dijadwalkan lengser awal tahun depan dari kursi kepresidenan Amerika Serikat, Donald Trump melakukan berbagai langkah dramatis di akhir masa kepemimpinannya. Dia pun 'menyingkirkan' para pembantunya di kabinet yang dinilai sudah tidak sejalan.

Pekan ini, Trump memecat Kepala Badan Keamanan Siber, Chris Krebs, yang mengklaim pemilu 3 November lalu bersih dan tidak dicurangi. Sebagian pejabat di kabinet juga memilih untuk mundur sebelum masa jabatan Trump habis.

Baca juga: Premium Disebut Bakal Dihapus, Pertamina Sudah Siap-siap

Dilansir dari BBC, berikut ini 10 pejabat dan politisi dalam pemerintahan Trump yang dipecat maupun memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

1. Chris Krebs

Trump memecat Chris Krebs karena dituduh tanpa bukti membuat pernyataan yang sangat tidak akurat tentang keamanan pemilu AS. Pemecatan Krebs terjadi lantaran Trump menolak mengakui kemenangan presiden terpilih dari Demokrat, Joe Biden, sehingga dia memecat para pejabat tinggi yang dianggapnya tidak cukup setia.

Krebs membuat marah Gedung Putih atas situs web milik CISA yang dijuluki 'Rumor Control'. Pada website tersebut, pihak CISA membantah adanya informasi yang salah atau kecurangan dalam pemilu AS.

2. Mark Esper

Menteri Pertahanan Mark Esper ditunjuk pada 2019. Dia menggantikan James Mattis yang mengundurkan diri pada 2018, karena perbedaan pendapat dengan Trump soal Suriah.

Setelah menjabat selama 17 bulan, Esper tak sependapat dengan Trump terkait sejumlah masalah, salah satunya tentang penggunaan pasukan militer aktif untuk mengamankan aksi unjuk rasa di jalanan. Esper telah bersiap untuk mengundurkan diri atau dipecat, sejak kekalahan Trump dalam pemilu.

3. Kellyanne Conway

Sebagai penasihat senior presiden, Conway juga menjabat sebagai manajer kampanye Donald Trump pada pemilu 2016 lalu. Dia kemudian menjadi penasihat senior di Gedung Putih dan salah satu penasihat terdekat presiden.

Keputusannya untuk mundur diumumkan beberapa jam setelah salah satu putrinya, Claudia, mengatakan pekerjaan ibunya telah menghancurkan hidupnya. Atas hal itu, Conway memutuskan untuk mundur dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk fokus pada anak-anaknya.

4. Brad Parscale

Parscale menjabat sebagai direktur media digital untuk kampanye Trump pada pemilu 2016. Dia kemudian dipromosikan kembali untuk menjadi manajer kampanye, untuk pemilu presiden 2020 kemarin.

Beberapa waktu lalu, Parscale disalahkan oleh orang-orang terdekat Trump lantaran rally umum yang digelar di Oklahoma pada Juni lalu, hanya dihadiri sedikit orang. Padahal dia sudah sesumbar, sudah ada satu juta orang yang mendaftar untuk acara tersebut, namun hanya kurang dari 6.000 orang yang hadir.

Lewat cuitan di Twitter, Trump mengumumkan bahwa Parscale akan digantikan oleh Bill Stepien, mantan ajudan eks Gubernur New Jersey, Chris Christie.

5. Gordon Sonland

Sonlad ditunjuk sebagai Duta Besar AS untuk Uni Eropa pada Juni 2018. Sebelum terjun ke dunia politik, dia dikenal sebagai seorang pengusaha hotel.

Sonland dipecat setelah bersaksi melawan Trump dalam pemakzulan. Dalam kesaksiannya, Sonland menuduh presiden mengupayakan 'quid pro quo' dengan Ukraina.

6. Richard Spenser

Spenser dilantik sebagai Sekretaris ke-76 Angkatan Laut AS pada Agustus 2017. Selama menjabat, dia juga menjalankan tugas sebagai penjabat sekretaris pertahanan dan wakil menteri pertahanan.

Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan dia meminta Spencer untuk mengundurkan diri karena kurangnya keterusterangan mengenai kasus Navy Seal yang dihukum, karena berfoto dengan jasad saat bertugas di irak.

7. John Bolton

Bolton menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional pada April 2018, dan menjadi penasihat keamanan nasional ketiga untuk Trump setelah Michael Flynn dan HR McMaster. Saat itu, keputusan presiden untuk menunjuk Bolton sangat mengejutkan.

Lewat cuitan di Twitter, Trump mengumumkan bahwa layanan penasihat keamanan nasional tidak lagi diperlukan. Namun Bolton dengan cepat membalas di Twitter, bahwa dia sebenarnya telah menawarkan pengunduran dirinya.

Pengunduran diri Bolton menyusul pertengkaran dengan Trump atas pembicaraan damai pemerintah dengan Taliban.

8. Dan Coats

Selaku Direktur Intelijen Nasional, Coats mengawasi 17 badan intelijen Amerika Serikat termasuk CIA dan NSA. Namun penilaian Coats kerap dibantah oleh Presiden Trump, yang telah mengkritik komunitas intelijen AS.

Pada Januari, presiden menyebut kepala intelijennya pasif dan naif dalam penilaian mereka terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh Iran.

Dalam surat pengunduran dirinya kepada presiden, Coats mengatakan komunitas intelijen AS telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya selama 2.5 tahun masa jabatannya. Coats menyebut presiden memintanya untuk tetap menjabat, namun perbedaan mereka dalam kebijakan luar negeri tak bisa dikompromikan.

9. Kirstjen Nielsen

Nielsen menjadi Menteri Keamanan Dalam Negeri AS pada Desember 2017. Departemennya bertanggung jawab atas keamanan domestik mencakup semua hal mulai dari perbatasan hingga tanggap darurat nasional.

Telah terjadi ketegangan antara Nielsen dengan Trump selama berbulan-bulan, di mana dia disalahkan atas meningkatnya jumlah migran di perbatasan Meksiko.

10. Jim Mattis

Sebagai seorang Jenderal Korps Marinir, Mattis bertugas di Perang Teluk, Perang Afghanistan dan Perang Irak. Sebelum pensiun pada 2013, dia menjabat sebagai kepala Komando Pusat AS dan melanjutkan beberapa peran di sektor swasta, sebelum bergabung dalam kabinet Trump.

Mattis mengundurkan diri, satu hari setelah Trump secara kontroversial mengumumkan penarikan pasukan AS dari Suriah. Meski tak merujuk langsung, dalam surat pengunduran dirinya Mattis mengatakan presiden memiliki hak untuk memiliki seorang menteri pertahanan yang memiliki pandangan selaras dengannya.

Keduanya memiliki pandangan publik yang berbeda tentang sejumlah subjek, termasuk keputusan Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran. (ren)