Dahlan Dorong BUMN Migrasikan "Opex" ke"Capex"

  • Survei Ipsos: 'Standar Hidup di Jakarta Lebih Mahal dari New York dan …

    Survei Ipsos: 'Standar Hidup di Jakarta Lebih Mahal dari New York dan …

    TRIBUNnews.com
    Survei Ipsos: 'Standar Hidup di Jakarta Lebih Mahal dari New York dan …

    TRIBUNNEWS.COM - Hasil survey standar hidup baru yang dilakukan oleh Ipsos Business Consulting Indonesia cukup mengejutkan …

  • Alasan investor asing gandrungi capres Jokowi dan Prabowo

    Alasan investor asing gandrungi capres Jokowi dan Prabowo

    Merdeka.com
    Alasan investor asing gandrungi capres Jokowi dan Prabowo

    MERDEKA.COM. Pemilihan umum legislatif telah berakhir. Fase selanjutnya ialah pemilihan presiden. Di fase kedua ini, dua partai politik dengan masing-masing capresnya dijagokan untuk juara yakni PDIP dengan Jokowi dan Gerindra dengan Prabowo.Dalam pileg lalu, berdasarkan hasil hitung cepat, dua partai ini menempati posisi empat besar peraup suara terbanyak bersanding bersama Golkar dan Demokrat. Namun, hanya PDIP dan Gerindra yang kini tengah menjadi sorotan di sektor bisnis karena figur …

  • Industri Kertas Indonesia Kalah dari Singapura

    Industri Kertas Indonesia Kalah dari Singapura

    Tempo
    Industri Kertas Indonesia Kalah dari Singapura

    TEMPO.CO , Jakarta: Meski memiliki pasokan bahan baku kertas yang besar, Indonesia masih kalah dari Singapura dalam hal ekspor produk cetakan. Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jimmy Junianto mengatakan saat ini nilai ekspor barang cetakan Indonesia baru mencapai US$ 226 juta, hanya seperenam dari nilai ekspor produk cetakan Singapura yang sebesar US$ 1,5 miliar. …

Jakarta (ANTARA) - Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mendorong perusahaan negara memaksimalkan pemanfaatan biaya operasional (operational expenditure/opex) untuk kehandalan perseroan dan meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex).

"Migrasi opex menjadi capex sangat dimungkinkan dari sisi kepentingan BUMN, juga untuk kepentingan negara," kata Dahlan pada diskusi Opex Menjadi Capex BUMN, di sela-sela Rapat Koordinasi Kementerian BUMN dan BUMN yang diselenggarakan di Gedung Pertamina, Jakarta, Senin.

Dahlan bertindak sebagai moderator, sedangkan sejumlah panelis, antara lain Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, Dirut PLN Nur Pamudji, Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso, Dirut PT PGN Hendi P. Santoso, Dirut PT Bukit Asam Sukrisno.

Menurut Dahlan, pentingnya memobilisasi opex menjadi capex sejalan dengan arahan Presiden Susilo Bambag Yudhoyono untuk terus memaksimalkan kinerja keuangan seluruh BUMN.

Ia menjelaskan, opex seluruh BUMN (142 perusahaan) pada tahun 2011 mencapai Rp1.050,95 triliun, namun di saat yang sama capex mencapai sekitar Rp211,56 triliun.

Pemerintah sendiri dalam APBN 2011 menetapkan opex sebesar Rp1.300 triliun, sedangkan capex hanya mencapai sekitar Rp50 triliun.

"Pemanfaatan opex BUMN sangat mendorong capex dengan cara melakukan sinergi. Ini akan berdampak multipilier untuk pembangunan nasional," tegas Dahlan.

Dahlan menjelaskan, migrasi opex menjadi capex ini dapat disesuaikan dengan kondisi korporasi dan sektor perusahaan masing-masing.

"Migrasi opex menjadi capex sesungguhnya tidak sulit, karena dapat diserahkan melalui mekanisme korporasi. Untuk itu perlu dibentuk unit khusus yang akan mengelolanya," tegas Dahlan.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, menyatakan penggunaan opex menjadi capex sangat tergantung kondisi perusahaan.

Opex diarahkan untuk memelihara kehandalan perusahaan, sedangkan capex lebih pada kepemilikan perusahaan.

Ia menuturkan opex di Pertamina digunakan untuk pengadaan dan distribusi BBM ke seluruh Indonesia, sehingga tidak memungkinkan dialihkan untuk capex.

"Setiap tahun Pertamina mengeluarkan opex sekitar Rp487 triliun di mana sekitar 86 persen di antaranya untuk pengadaan BBM," ujarnya.

Jika pemerintah mengarahkan Pertamina mengalihkan opex menjadi capex, maka dibutuhkan mekanisme persetujuan dari direksi dan komisaris.

"Sesungguhnya pengalihan opex menjadi capex sudah dilakukan pada anak usaha, seperti pada perusahaan kapal angkutan minyak, dan jasa pengeboran," kata Karen.

Sementara itu, Direktur Utama PGN, Hendi P Santoso, menuturkan pengalihan opex menjadi capex merupakan hal yang sangat dimungkinkan terutama terkait dengan efisiensi biaya.

Ia menuturkan pihaknya selalu menurunkan besaran opex setiap tahun sekitar 7-10 persen.

Namun dipastikan dalam efisiensi tersebut faktor kehandalan operasional dan termasuk pemeliharaan dan perawatan aset-aset tetap terjaga pada tingkat yang tinggi.

Sedangkan Dirut PT PLN, Nur Pamudji, menuturkan pihaknya masih menyiapkan langkah-langkah untuk mengalihkan opex menjadi capex.

"Saat ini saja kami harus mengeluarkan biaya sekitar Rp7 triliun per tahun untuk pengadaan suku cadang listrik, belum lagi untuk angkutan batubara," ujarnya.

Menurut Nur Pamudji, untuk mengalihkan sebagian opex menjadi capex harus disesuaikan dengan skala ekonomis perusahaan.

"Butuh prosedur yang baik sehingga tidak menimbulkan efek negatif terhadap perseroan," ujarnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...