Dahlan Iskan Cerita Bahaya D-dimer pada Pasien COVID-19

Fikri Halim
·Bacaan 3 menit

VIVA – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan mengungkap istilah yang belum banyak orang tahu. Bahkan, dia mengaku baru tahu istilah itu saat terkena COVID-19.

Dahlan diketahui berhasil sembuh dari COVID-19, setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kalau saja tidak terkena COVID-19, mungkin saya tidak kenal istilah ini, D-dimer," ujar Dahlan dikutip dari Disway.id, Selasa 9 Februari 2021.

Baca juga: Jakarta Banjir, Anies: Waspada Musim Hujan Belum Selesai

Ia menjelaskan, saat terkena COVID-19 pada Januari lalu, hasil D-Dimer darahnya berada di angka 2.600. Ini dinilai sudah cukup tinggi, karena normalnya maksimum 500.

Pembicaraan soal D-dimer ini, lanjut Dahlan, sebetulnya ramai pada pekan lalu. Yaitu saat seorang pasien COVID-19 meninggal dunia, justru setelah 10 hari dinyatakan COVID-nya negatif. Sudah double pemeriksaan, masih negatif.

"Ternyata, saya kenal almarhum, Santoso Widjaya. Umur 63 tahun. Kontraktor listrik, rekanan PLN sejak zaman dulu," ujar Dahlan yang juga mantan Dirut PLN itu.

Ia menceritakan, Santoso terkena COVID pada tanggal 9 Desember 2020. Lalu, pada 21 Desember dinyatakan sembuh. Hasil swab test-nya negatif. Lalu diswab lagi, tetap negatif.

Istri Santoso bercerita bahwa suaminya tidak pernah sakit dan tidak pernah masuk rumah sakit. "Ya, baru sekarang ini berurusan dengan rumah sakit. Meninggal," ujar Swanniwati, istri Santoso kepada Dahlan.

Sang istri mengaku tak ingin ada lagi orang yang senasib dengan suaminya, yaitu meninggal justru setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19.

Intinya, lanjut Swanniwati, pemeriksaan D-dimer itu penting. Karena walau pun sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19, bisa saja masih terjadi pengentalan darah.

Sang suami setelah dinyatakan sembuh pada 22 Desember, justru merasakan sulit bernafas. Tiba-tiba sang suami harus dimasukkan ke ICU non-Covid dan dipasangi ventilator.

Setelah diperiksa, ternyata D-dimer Santoso mencapai level 6.000. "Santoso tidak pernah lagi keluar ICU. Sampai ia meninggal dunia tanggal 1 Januari, tepat di tahun baru 2021," tulis Dahlan.

Meninggalnya Santoso, bukan berstatus sebagai pasien positif COVID-19 juga bukan karena paru-paru. "Tapi karena jantung. Jantungnya berhenti. Ada sumbatan D-dimer di dalam jantung itu," ujar Dahlan.

D-dimer muncul seperti 'cendol-cendol' di dalam darah

Dahlan menjelaskan, pernah bertanya kepada seorang dokter yaitu Prof Dr Med Puruhito, dr SpB TKV, ahli bedah jantung terkemuka dari Unair Surabya.

"D-dimer memang menakutkan para dokter di ICU COVID," ujar profesor tersebut.

Apalagi keberadaan D-dimer masih terus diselidiki, dan demikian juga bagaimana mengatasinya.

"D-dimer adalah munculnya cendol-cendol di dalam darah. Lapisan protein tertentu dalam darah menyatu dengan 'teman sejenis' sehingga membentuk gumpalan kecil-kecil. Saking kecilnya gumpalan itu tidak terlihat oleh mata. Bisa dilihat oleh mikroskop, Gumpalan itulah yang saya sebut cendol," kata Dahlan.

Dahlan menjelaskan, berdasarkan pemahamannya, ini beda dengan pengentalan darah yang terjadi saat seluruh darah mengental. Tapi di darah yang tidak mengental pun bisa muncul cendol-cendol kecil itu dan bisa menyumbat.

"Saya bukan dokter, maafkan kalau penggambaran saya itu salah," tulis Dahlan.

Namun, ia melanjutkan, sepemahamannya, cendol yang mengalir dalam darah itulah yang berbahaya. Apalagi kalau jumlahnya banyak dan bisa berhenti di jantung dan menyumbat saluran darah di jantung.

“Apalagi kalau cendol yang lain ikut nimbrung di situ. Kalau cendol itu berhenti di saluran darah di otak, terjadilah stroke. Kalau berhenti di paru terjadilah sesak nafas. Dalam hal Santoso tadi, 'cendol' itu berhenti di jantung," ungkap Dahlan.

Dahlan bercerita saat keluar dari RS Premier Surabaya lalu, hasil test D-dimer-nya masih 1.130. Masih sangat tinggi dari normalnya, maksimum 500.

"Saya akan test D-dimer lagi. Saya harus hati-hati. Jangan-jangan naik, meski harapan saya turun," kata Dahlan.