Dahlan Iskan Tersenyum saat Tahu Buwas Tolak Impor Beras

Fikri Halim
·Bacaan 3 menit

VIVA – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan berkomentar terkait rencana impor beras yang akan dilakukan pemerintah sebanyak 1 juta ton. Rencana ini juga sudah jadi 'bisik-bisik’ petani.

Petani disebut khawatir impor beras akan membuat harga gabah di musim panen minggu-minggu ini akan jatuh atau tetap rendah.

"Di tengah kegalauan petani itu muncul angin segar, Bulog tidak akan impor beras. Yang mengatakan itu adalah Kepala Bulog sendiri, Komjen Polisi (Purn) Budi Waseso," ujar Dahlan dikutip dari Disway.id, Rabu 24 Maret 2021.

Memang, lanjut Dahlan, ada usulan dari Kementerian Perdagangan bahwa harus impor beras. Selain itu ada keputusan Menko Perekonomian soal impor beras. Dalam keputusan pemerintah itu, Bulog pun ditunjuk sebagai importirnya.

"Kelihatannya seperti ada yang tidak nyambung. Tapi Budi Waseso (Buwas) memang sudah terlihat independen sejak menjabat Kabulog," ujar Dahlan.

Menurut Dahlan sendiri, impor beras saat ini seperti pedang bermata lima. Impor beras akan menyulitkan Bulog, menyulitkan posisi politik Presiden Jokowi, menyulitkan petani, menyulitkan cash flow dan menyulitkan neraca perdagangan yang sudah sulit.

Berdasarkan angka di Bulog, posisi stok beras saat ini memang tinggal 900.000 ton. Angka itu bisa saja dianggap tidak aman. Khususnya oleh pemerintah. Lengah sedikit bisa terjadi gonjang-ganjing. Harga beras tiba-tiba naik dan inflasi terganggu.

"Angka inflasi memang telah menjadi kebanggaan baru pemerintah. Di tengah kesulitan pandemi yang panjang ini inflasi tetap terjaga bisa tetap rendah. Prestasi itu sangat jadi andalan prestasi ekonomi pemerintah," tutur Dahlan.

Pemerintah disebut Dahlan akan menjaga inflasi melebihi apapun. Stok beras di Bulog pun sudah biasa dianggap aman kalau berada di level 1,7 juta ton. Maka, stok yang sekarang ini dianggap berbahaya.

"Memang kebijakan impor beras itu seperti menyengat hidung. Tidak ada berita kemarau panjang. Tidak ada pula berita banjir yang sampai menghancurkan lahan pertanian secara luas. Pun tidak ada berita bahwa hama wereng ada di mana-mana. Ditambah, musim hujan kita begitu basah tiga tahun terakhir," kata dia.

Dengan keadaan seperti itu, lanjut dia, maka seharusnya produksi beras cukup. "Maka berita impor itu benar-benar seperti petir," ujar Dahlan.

Dahlan mempertanyakan apakah tidak diperhitungkan bahwa minggu-minggu ini sudah memasuki musim panen. Angka 900.000 ton di Bulog disebut bisa dengan cepat kembali ke atas 1 juta ton.

"Pun harus dilihat bahwa di musim panen, stok beras tidak hanya ada di gudang-gudang Bulog. Stok itu sebagian besar ada di rumah-rumah penduduk. Kecil-kecil tapi jumlahnya jutaan," katanya.

Selain itu, juga harus dilihat keadaan di pasar-pasar beras. Karena di sana ada stok beras yang di luar beras normal, atau beras khusus yang sifatnya tidak akan mengganggu petani. Misalnya beras untuk memasak nasi biryani.

"Petani kita tidak menanam padi jenis itu karena hanya orang Arab dan India yang memakannya," katanya.

Menarik juga, lanjut Dahlan, jika dilihat kenyataan di pasar beras, apakah hanya beras India yang ada di situ atau justru ternyata ada juga beras-beras Vietnam, Thailand dan mendapat izin impor khusus. Beras yang bisa saja diimpor dengan dalih sama yaitu beras khusus.

"Saya hanya bisa tersenyum ketika membaca penolakan pak Buwas untuk impor 1 juta ton beras sekarang ini. Rasanya para petani pun akan ikut tersenyum."