Dahsyatnya Puasa untuk Pengidap Autoimun

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVA – Memasuki bulan Ramadhan, tentu puasa menjadi aktivitas utama yang dijalankan umat Muslim. Selain sebagai bentuk ibadah, puasa juga berkhasiat bagi kesehatan. Salah satunya memberikan efek pada regenerasi sel. Nah, efek ini akan terjadi secara alami, atau dikenal dengan sebutan autophagy.

Autophagy pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan Jepang yang meraih penghargaan Nobel Kesehatan dan Kedokteran pada 2016, Yoshinori Ohsumi. Dilansir dari Medical News Today, Sabtu, 17 April 2021, autophagy merupakan reaksi normal sel imunitas tubuh, untuk memakan sel-sel yang berpotensi menjadi sel-sel penyakit.

Baca: Drone Bikinan China Mendarat di Indonesia, Bongkar Isi Dapurnya

Autophagy berasal dari kata auto yang artinya sendiri dan phagy yang memiliki arti makan. Dengan begitu, autophagy dipercaya memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh dengan cara membersihkan racun dan agen infeksi di dalam tubuh secara alami.

Penelitian membuktikan autophagy dapat meningkatkan prospek sel dalam menghadapi infeksi penyakit menular dan neurodegeneratif dengan cara mengendalikan peradangan. Selain itu, autophagy juga diyakini dapat membantu melindungi sel dari masuknya mikroba ke dalam tubuh.

Sebagai orang yang memiliki spektrum autoimun, Niken Tantyo Sudharmono tidak hanya menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan, tetapi menjadikannya sebagai rutinitas. Ia menyebut manusia memiliki sistem kekebalan dalam tubuhnya, yang biasa dikenal dengan istilah sistem imun.

Sejatinya, sistem imun berfungsi melindungi tubuh dari benda asing, infeksi dan penyakit, karena merupakan sistem pertahanan tubuh pada jaringan, organ, dan sel. Tapi, hal itu berbanding terbalik bagi pengidap autoimun.

“Kalau tidak sedang menjalankan puasa Ramadhan, saya rutin berpuasa minimal 17 jam. Bahkan, bisa sampai ratusan jam. Tapi, puasa yang saya lakukan tidak sama dengan puasa Ramadhan. Saya masih tetap minum air mineral, air lemon, air rebusan jahe, teh hijau, dan suplemen,” kata Niken.

Ia sudah lama mengidap spektrum autoimun. Tak mudah baginya untuk bisa sembuh dari autoimun. Niken sudah mencoba berobat ke dokter spesialis autoimun, baik di dalam maupun luar negeri.

"Saya bertekad harus bisa beraktivitas seperti layaknya orang tanpa autoimun, tanpa rasa takut kambuh lagi. Tapi, saya sempat berada di ambang putus asa karena saya sadar penyakit autoimun tak ada obat penyembuhnya,” ujar Niken, teringat.

Lalu, Niken menjalankan autophagy, yang merupakan salah satu rangkaian dari formula yang bisa diterapkan orang yang memiliki spektrum autoimun agar tetap bisa sehat dan bugar. Ia menamakan formula ciptaannya itu sebagai Lifestyle of Health (LOH). Ada tiga tahap yang ia namakan LOH123.

Tahap pertama menerapkan pola makan free dairy product seperti susu, keju, atau pun yoghurt. Niken juga tidak mengkonsumsi gluten, sugar free, dan telur. Begitu pun tanaman jenis nightshade seperti tomat, terong, dan cabai. Selanjutnya, perhatikan asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh.

“Saya lebih mementingkan vitamin D3, glutathione, dan probiotik. Untuk membersihkan racun dalam tubuh, saya mengonsumsi kyolic dan candida support,” tutur perempuan kelahiran Bandung ini. Untuk tahap ketiga dilakukan melalui beberapa tahapan, yang bisa dimulai dari water fasting selama 16 jam.