Dalam Hitungan Menit, Anak-Anak Bisa Terpapar Hoaks Seputar Covid-19 di Tiktok

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - NewsGuard dalam studinya menemukan TikTok dengan cepat memberikan informasi salah yang berbahaya seputar covid-19 kepada anak-anak berusia sembilan tahun setelah mereka mendaftar ke platform tersebut. Ironisnya, konten video tersebut juga bisa disaksikan tanpa label peringatan apapun.

Studi tersebut dilakukan Newsguard pada Agustus dan September 2021 ini. Mereka menghadirkan sembilan anak yang berusia sembilan hingga 17 tahun untuk membuat akun TikTok baru.

Hal ini ditujukan untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan platform untuk memberi mereka informasi salah atau hoaks tentang covid-19. Dan hasilnya pun cukup mencengangkan yakni hanya beberapa menit saja.

Video berdurasi pendek yang diterima oleh anak-anak tersebut meliputi rentetan konten berbahaya yang menyatakan bahwa vaksin itu mematikan dan bahwa covid-19 adalah konspirasi genosida. Video tersebut diterima meski akun tersebut tidak mencari jenis informasi seputar covid-19.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara TikTok bersikeras bahwa pihak mereka telah berupaya melakukan berbagai tindakan preventif bagi akun yang menyebarkan disinformasi.

"Keamanan dan kesejahteraan komunitas adalah prioritas kami, dan kami bekerja dengan rajin untuk mengambil tindakan terhadap konten dan akun yang menyebarkan informasi yang salah. Kami juga mempromosikan konten terpercaya tentang covid-19 dan mendidik pengguna tentang literasi media,” ujar juru bicara TikTok, dikutip Newsweek.

Meski TikTok melarang anak-anak di bawah 13 tahun menggunakan platformnya, anak-anak berusia sembilan tahun dapat dengan mudah masuk tanpa bimbingan dari orang dewasa.

"Kita sedang memerangi penyebaran informasi yang salah yang jauh lebih cepat, ini membuat tugas untuk mengakhiri pandemi semakin sulit. Terlebih lagi, informasi yang salah semacam ini merusak kepercayaan pada sains yang benar-benar kita butuhkan saat ini," ujar Direktur Institut Imunologi Sekolah Kedokteran Perelman di University of Pennsylvania, John Wherry.

(MG/ Azarine Jovita Halim)

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel