Dalam Tubuh yang Sehat (Belum Tentu) Jiwanya Kuat

Liputan6.com, Jakarta Bunuh diri. Kita boleh bersyukur tidak pernah memikirkannya. Tapi tragedi ini sebenarnya bisa menimpa siapa saja, bahkan oleh mereka yang hidupnya jauh dari nestapa dan penuh dengan puja-puji.

Rachman Kili Kili bergerak lincah di lantai pendopo Rumah Susun Pulo Mas, yang kini sudah berganti apartemen mewah. Tato-tato yang terukir di badan mengilat terkena sinar matahari yang masuk lewat sisi yang tak berdinding.

Sesekali tinju dilepaskan ke ruang kosong sembari bergerak ke kiri dan ke kanan layaknya menghindari pukulan lawan.

Jab-stright, jab-straight... dia tiba-tiba menunduk lalu melepas upercut ke udara. Gerakannya lincah. Kakinya yang kurus seperti tengah berdansa di lantai.

Sepuluh tahun lalu shadow boxing rutin dilakukannya. Terkadang setiap pagi saat tengah mempersiapkan pertandingan.

Saat itu olahraga tinju sangat populer dan jadi primadona stasiun televisi. Rezeki pun mengalir sederas pukulan demi pukulan yang dilepaskan Rachman di atas ring.

Rachman lahir di Buton, Sulawesi Utara, 15 Oktober 1974. Lewat kepalan tangannya, Rachman sukses mengukir sejumlah prestasi yang melambungkan namanya di kacah tinju nasional.

Di ajang amatir, Rachman beberapa kali mewakili Indonesia di pentas internasional. Salah satunya Pra Olimpiade yang berlangsung di Uzbekistan pada tahun 1995. Setahun sebelumnya, dia mewakili Indonesia di Asian Games Jepang.

Saat terjun ke arena profesional, Rachman sangat diperhitungkan. Kemampuannya lengkap: bertenaga, akurat, bernyali, dan menghibur. Modal penting dalam dunia tinju profesional.

Rachman merupakan juara nasional kelas bantam versi Komisi Tinju Indonesia pada 1999. Dia juga juara nasional kelas bulu junior versi Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) pada 2003. Tidak keliru bila banyak pengamat menilai Rachman layak diorbitkan ke kejuaraan dunia sebelum Chris John dan Muhammad Rachman mengharumkan nama Indonesia.

Namun di tengah karier yang cemerlang, Rachman memilih jalan yang kelam. Sejak tahun 2000, dia berteman dengan narkotik yang membuatnya justru semakin hilang arah.

Emosinya tidak terkendali. Tangannya semakin ringan menghunjam di luar ring. Akibatnya, dua kali dia masuk penjara karena menghajar polisi dan tetangga.

Setelah pertandingan terakhir pada 3 Maret 2005 melawan Edy Kamaro di Balikpapan, Kalimantan, Rachman tampak semakin menyendiri. Badannya tidak lagi gagah. Kepalanya lebih banyak tertunduk.

Rachman kemudian meninggalkan Jakarta dan tinggal bersama pamannya di Palembang, Sumatera Selatan. Namanya terus meredup. Kesendirian menenggelamkan pamornya sampai pada tahun 2007, Rachman ditemukan tewas gantung diri di kamarnya.

Kematian Rachman mengejutkan publik. Tidak ada yang menyangka petinju berbakat itu memilih jalan pintas. Tubuhnya yang bugar dan kesempatan emas yang pernah ada di depan mata tidak otomatis membuat jiwanya kuat melawan.

Rachman menyerah sebelum bel ronde terakhir dibunyikan oleh Sang Pencipta. Kematian Rachman sekaligus menambah panjang daftar atlet yang bunuh diri. 

 

Krisis di Puncak Karier

Marvin Sordell saat masih memperkuat Bolton Wanderers (AFP/Graham Stuart)

Dewasa ini, olahraga sebenarnya sangat menjanjikan. Tambang emas bagi mereka yang ingin mengubah nasib lewat tetesan keringat yang mengalir membasahi arena.

Namun itu saja ternyata tidak cukup mencegah atlet mengakhiri hidupnya. Tubuh yang sehat juga bukan jaminan jiwa yang kuat seperti kutipan latin yang sangat terkenal, Mens sana in corpore sano. Dan tidak jarang , keinginan bunuh diri justru datang saat altet tengah di puncak karier.

Marvin Sordell pernah merasakan ini. Keinginannya untuk mengakhiri hidup justru datang saat dia beralih ke klub profesional di usia yang terbilang muda.

Sordell memang tergolong wonderkid potensial di eranya. Tiga musim pertamanya terjun ke sepak bola profesional dilalui dengan cemerlang. Kesuksesan saat dipinjamkan ke klub Wealdstone dan Tranmere Rovers mengantarnya menjadi pemain reguler klub Championship, Watford, di usia 18 tahun. Ini menjadi titik balik karier Sordell.

27 gol dari 83 laga yang dicetaknya bersama Watford mengantarnya ke ajang Premier League sebagai pemain Bolton Wanderers dan skuat tim nasional Inggris Raya pada Olimpiade London 2012.

Pemasukan Sordell meningkat. Begitu juga popularitasnya. Di usia yang terbilang muda, Sordell sudah berada di jalur yang tepat untuk jadi superstar.

Namun semua ini justru jadi bumerang bagi Sordell. Kenyamanan yang mulai berada dalam genggamannya membuat Sordell ketakutan. Di balik karier yang gemilang, Sordell harus bertarung dengan gangguan mental yang terus menghantuinya sepanjang berkiprah di Premier League, kompetisi sepak bola level tertinggi di Inggris.

“Menurut saya, saya terlalu cepat mencapai titik tertinggi dalam karier saya, dan baru saat itulah semuanya mulai terurai dan saya tidak yakin dengan kondisi emosional saya,” kata Sordell.

Semakin tinggi pencapaian, Sordell semakin tidak tenang hidupnya. Kepercayaan dirinya anjlok.

“Saya mengalami krisis kepercayaan diri. Bahkan setelah bergabung dengan pemain-pemain elite dan ambil bagian dalam kompetisi elite Olimpiade 2012, saya masih tidak percaya diri,” beber Sordell.

“Berada dalam lingkungan tersebut terasa sulit. Saya merasa terkucil dan tidak berada di tempat yang tepat karena rendahnya kepercayaan diri saya. Karena berada di tempat yang buruk, saya tidak bisa menikmatinya, dan terus saja memaksakan diri,” kata Sordell.

Gangguan mental ini terus menumpuk dan semakin membuat Sordell tertekan. Dia bahkan sudah bertemu dokter dan berkonsultasi mengenai masalahnya. Dokter memintanya pergi ke biara. Namun hal itu mustahil dilakukan karena klub tidak akan mengizinkan.

“Mereka tidak mungkin berkata, ‘Oke, kamu bisa pergi, ambil cuti dua pekan.’ Mereka telah mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan saya dan memberi gaji yang bagus, jadi itu tidak akan terjadi. Saya harus terus fokus bermain sepak bola meskipun itu sulit,” beber Sordell.

Titik terendahnya terjadi pada 2013 saat Sordell berniat mengakhiri hidupnya sendiri. “Itu adalah periode paling gelap yang pernah saya alami,” kata pria yang kini bermain di klub Burton Albion itu.

Sordell lebih beruntung dari Rachman. Keinginan untuk mengakhiri hidup tidak kesampaian. Dia tetap hidup dan bangkit melawan. Berani muncul ke permukaan untuk berbagi kisah kelamnya kepada publik. Dari pengalaman pahit yang pernah menyelimutinya, Sordell pun mengingatkan klub-utamanya yang bermain di Premier League-agar berperan aktif menjaga kesehatan mental para pemainnya.

 

Bagaimana Mengakhirinya?

Ilustrasi Foto Bunuh Diri (iStockphoto)

Namun tidak semua atlet seberuntung Sordell. Seperti Rachman, masih banyak atlet yang terlambat memutuskan untuk bunuh diri meski karier yang mereka jalani justru sangat menjanjikan.  

Lalu bagaimana mengakhirinya?  

Dr. Glenn Mollette lewat kolom yang diterbitkan 16 September tahun lalu, menuliskan, bunuh diri sebenarnya bisa menimpa siapa saja tidak perduli profesi yang tengah digelutinya. Bahkan bunuh diri juga bisa dilakukan oleh mereka yang dalam kehidupan sehari-hari terlihat sangat bahagia. 

Siapa yang menyangka pembawa acara setenar Anthony Bourdain bakal melakukannya?

Bagi kebanyakan orang, hidup Bourdain terlihat sangat menyenangkan: bepergian ke berbagai tempat indah di berbagai penjuru dunia, mencicipi hidangan lezat, kaya raya, dan sangat terkenal. Namun kita semua terkejut saat mendengar kabar Bourdain mengakhiri hidupnya di Prancis, dua tahun lalu. 

Secara global, WHO menyatakan lebih dari 800 ribu orang setiap tahunnya meninggal dunia lewat cara bunuh diri. Dan menurut pedoman pemberitaan terkait tindak dan upaya bunuh diri yang diterbitkan oleh Dewan Pers menyebutkan, Indonesia sendiri berada pada urutan ke-6 terbanyak di Asia.

Sebelum mencari solusinya, Dr Mollette mencoba mencari penyebab utama orang bunuh diri. Dia berkaca dari pengalaman sendiri saat menghadapi istri pertamanya, Karen yang berniat melakukan itu saat hidupnya terpaksa harus bergantung pada alat bantu akibat penyakit Multiple Sclerosis.

"Kenapa kamu tidak membiarkanku meninggal," ujar Karen kepada Dr Mollette suatu ketika.

Menurut Dr Mollette, hidup istrinya sangat menyedihkan. Dia tidak bisa bergerak dan merasa terpenjara dalam tubuhnya sendiri. Menurutnya, bunuh diri akan melepaskannya dari penderitaan itu. 

"Bagi sebagian orang, bunuh diri adalah harapan untuk lari dari hal yang mustahil," tulis Dr Mollette. 

Ada banyak alasan bagi orang untuk mengakhiri hidupnya. Hanya saja, menurut Dr Mollette, bunuh diri hampir selalu hasil dari penyakit kejiwaan. Beberapa orang berpikir dan merasakannya dalam waktu yang lama hingga pada akhirnya nekat melakukannya. Sementara bagi yang lain, keinginan itu datang karena melihat itu sebagai satu-satunya jalan keluar dari momen yang sangat kelam dalam hidupnya.

Meski demikian, ada satu benang merah di antara berbagai kasus bunuh diri selama ini, yakni korban kerap merasa sendirian. Untuk itu, Dr Mollette menekankan pentingnya menjalin hubungan dengan sesama. Selain itu, konseling dan pengobatan medis juga terkadang sangat dibutuhkan. 

"Berbicara dengan seseorang yang telah terlatih dan dapat membantu Anda adalah penting," tulisnya. 

Dr Mollette juga menilai situasi yang mempengaruhi kondisi mental setiap orang bisa berbeda-beda. Artinya, rasa putus asa yang dialami Rachman Kili Kili bisa berbeda dari Sordell atau Bourdain. 

"Inilah sebabnya mengapa orang butuh bantuan dalam memilah-milah kabut pikiran mereka untuk memahami kekacauan mereka dan untuk melihat cahaya di ujung terowongan keputusasaan mereka. Doa, meditasi, arahan spiritual, konseling, pengobatan, dukungan kelompok, pekerjaan, kegiatan, hobi, sekolah, dan rencana adalah alat dalam memerangi penyakit mental dan bunuh diri."

"Perhatikan orang-orang dalam hidup Anda. Berikan cinta, pengertian, harapan dan bantuan. Cukup peduli untuk berbicara, mendengarkan, dan menjadi teman," tulis penulis buku dan pendiri Seminari Teologi Newburgh, di Indiana, Amerika Serikat tersebut. 

 

====

KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.tldigital.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.

 

Saksikan juga video menarik di bawah ini: