Dam Cluwok Peninggalan Belanda di Tulungagung Jadi Monumen Pengairan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menetapkan Dam Cluwok yang dibangun pada era kolonial Belanda tahun 1931 sebagai monumen pengairan.

Peresmian Dam Vluwok yang sempat terbenam dalam tanah sedalam tujuh meter itu ditandai pemecahan kendi di atas bangunan dam kuno tersebut oleh Bupati Tulungagung Maryoto Birowo.

"Keberadaan dam atau bendungan ini menjadi bukti sejarah bahwa Kabupaten Tulungagung di era dulu sistem pengairan modern untuk mengendalikan banjir," kata Maryoto, Senin, 22 Maret 2021.

Penetapan Dam Cluwok sebagai monumen pengairan sekaligus menjadi momentum peringatan Hari Air yang jatuh pada 22 Maret, dilansir dari Antara.

Menurut catatan sejarahnya, Dam Cluwok dibangun pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1931. Dam ini dulunya memang dibangun untuk mengatasi banjir yang sering melanda Tulungagung wilayah (kecamatan) Boyolangu, Pakel dan Campurdarat.

Saat Tulungagung masih sering dilanda banjir, pertemuan air dari lereng Wilis dan dari wilayah timur berada di titik Dam Cluwok berada, sehingga keberadaan Dam Cluwok saat itu sangat vital dalam pengendalian banjir dan keirigasian.

Pengoperasian dam ini dilakukan manakala air yang masuk wilayah Tulungagung tinggi, sehingga dam akan ditutup dan air tidak sampai menggenangi wilayah Boyolangu, Pakel dan Campurdarat. Air saat itu masih mengalir ke itara menuju Kali Brantas.

Sempat Terkubur

Bupati  Tulungagung, Maryoto Birowo usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Maryoto Birowo diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Ketua DPRD Tulungagung Supriyono. (merdeka.com/Dwi Narwoko)
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Maryoto Birowo diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Ketua DPRD Tulungagung Supriyono. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Dam atau bendungan ini sempat beroperasi efektif hingga 1980-an. Namun karena permasalahan banjir semakin kompleks, pemerintah di era pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dinonaktifkan.

“Dam ini tercatat mulai dinonaktifkan sejak 26 Juni 1986," katanya.

Dam berkonstruksi beton ini berhenti beroperasi sejak diaktifkanya jaringan irigasi "Parit Agung" yang mengalirkan air menuju laut selatan, melalui Bendung Niyama.

Penonaktifan dam ini juga disebabkan pembukaan Dam Tulungagung Gate atau Dam Majan yang terletak di Desa Majan Kecamatan Kedungwaru. Sejak dinonaktifkan, dam ini tak lagi digunakan dan keberadaannya dilupakan.

Dam Cluwok selama tidak lagi difungsikan lambat laun terpendam lumpur dan tanah yang terbawa saat banjir melanda.

Pemkab Tuungagung melalui Dinas Pengairan, kata Maryoto Birowo, secara bertahap telah mulai melakukan penggalian Dam Cluwok yang selama ini terkubur hingga kedalaman tujuh meter di dalam tanah, dan hanya bagian atasnya yang terlihat.

Kepala Dinas Sumber Daya Air, Wilayah Perumahan dan Pemukiman Rakyat, Anang Pratistianto menerangkan akan melakukan penggalian pada Dam Cluwok hingga keseuruhan konstruksi bendung terlihat.

Saat ini pihaknya sudah menggali tiga meter bagian atas dam, dan akan dilanjutkan pada bagian dam yang masih terkubur. "Akan terus kami gali biar nampak bagian-bagian pintu air yang ada," katanya.

Dari bangunan yang telah nampak di permukaan, bangunan ini masih kokoh. Bangunan ini dibuat dengan cor beton era kolonial dengan ketebalan mencapai 40 centimeter, demikian Anang Pratistianto.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini