Dampak Baik COVID-19: Populasi Elang Jawa di Bromo-Semeru Bertambah

·Bacaan 1 menit

VIVA – Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru (TNBTS) menjadi rumah bagi satwa liar dilindungi salah satunya adalah elang jawa (Nisaetus bartelsi). Menurut hasil pemantauan petugas di Balai Besar TNBTS, populasi elang jawa makin banyak.

"Populasi elang jawa meningkat berdasarkan pengamatan dan pemantauan di lapangan," kata Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar TNBTS Novita Kusuma Wardhani, Senin, 7 Juni 2021.

Elang jawa termasuk burung dari keluarga Famili accipitridae yang dilindungi oleh pemerintah. Peran dan fungsi sebaga top predator menjadi dasar kuat para burung pemangsa itu diharamkan untuk diburu atau dipelihara. Situs yang bisa digunakan untuk melihat predator itu terbang di udara adalah Coban Trisula.

Berdasarkan pengamatan oleh Balai Besar TNBTS di tiga lokasi, yaitu Site Coban Trisula, sebanyak 10 ekor, di Bendolawang 14 ekor, dan di luar kedua situs itu dijumpai 3 ekor. Total pada 2020 ada sebanyak 27 ekor elang jawa di kawasan TNBTS.

"Pada 2019 lalu hanya ditemukan sebanyak 22 ekor total elang jawa. Efek pandemi COVID-19 ini juga berdampak positif terhadap ekologi, seperti rumput-rumput di kawasan TNBTS sekarang sudah mulai tumbuh. Juga satwa-satwa juga lebih bebas," ujar Novita.

Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar TNBTS Toni Artaka mengatakan, cara menghitung populasi elang jawa dengan memantau rutin di situs pemantauan. Untuk memastikan tidak ada penghitungan ganda, pemantauan dilakukan secara bersamaan di titik-titik yang berbeda.

"Melakukan pengamatan dimulai pada jam yang sama, selesai yang sama. Kemungkinan penghitungan dobel bisa kita minimalisir. Kita harus menjaga populasinya, jangan sampai di alam tidak ada tetapi di Pasar Burung justru banyak dijual," kata Toni.