Dampak Buruk Realitas Palsu di Media Sosial, Ayo Jadi Apa Adanya Aja

Liputan6.com, Jakarta Hidup di era digital yang semakin berkembang saat ini itu gampang-gampang susah. Karena perlahan budaya masyarakat banyak mengalami perubahan. Tentang kesederhanaan misalnya, kini tidak lagi jadi kebiasaan dan telah tergantikan dengan gengsi dan persaingan gaya hidup mewah.

Lihat saja media sosial, orang-orang melakukan banyak hal untuk bisa menampilkan citra diri yang baik, terlihat eksis, keren, populer, dan dikagumi. Selama itu sesuai dengan kepribadian dan kemampuan kamu silahkan saja, tapi jangan sampai terjebak dalam realitas palsu demi gengsi belaka. Sebab lebih banyak ruginya daripada keuntungan.

1. Terbiasa Lebay dan Berbohong

Demi menghasilkan konten yang menarik dan menawan, orang-orang jadi terbiasa menceritakan sesuatu yang berlebihan yang berujung lebay. Sepele memang, tapi kalau keseringan dapat mengubah kepribadian kamu. Apalagi jika sering melakukan hal ini, dapat mendorong kamu untuk membuat kebohongan.

2. Waktu Terbuang Sia-sia

Mereka terus membandingkan diri dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial, dimana pada realitasnya apa yang ada di “layar” saat ini sudah banyak di-edit, diberikan filter, atau dibuat-buat. Waktu mereka bisa jadi terbuang sia-sia untuk memilah milah foto, mengedit dan lainnya. Kalau memang kamu berkecimpung di profesi ini itu positif, tapi kalau tidak jangan sampai meniadakan tugas dan tanggung jawab yang lain hanya demi konten.

3. Terlilit Banyak Hutang

Demi menghasilkan konten yang keren dan mendapatkan pujian, orang rela membeli barang-barang diluar kemampuan. Mereka terdorong untuk hidup foya-foya dan glamor. Akibatnya malah mendorong mereka terlilit hutang. 

4. Menyebabkan Gangguan Kesehatan dan Mental

Penggunaan media sosial secara tidak tepat dan berlebihan dapat memberikan dampak negatif, baik fisik, psikologis, dan sosial. Dampak secara fisik, misalnya, masalah penglihatan dan masalah tidur. Penggunaan media sosial membuat individu menatap layar terlalu lama sehingga dapat membuat mata kelelahan.

Sementara untuk gangguan mental dan psikologis adalah munculnya cyberbullying, memunculkan ketergantungan dengan media sosial, keterampilan sosial yang kurang baik, dan merasa kesepian. Tak jarang, hanya karena suatu konten juga dapat menimbulkan perselisihan dan permusuhan.

Melihat fenomena tersebut, IM3 Ooredoo sebagai brand yang dekat dengan pelanggannya meluncurkan kampanye Apa Adanya, sebuah gerakan yang mengajak anak muda untuk hidup apa adanya, tanpa perlu berpura-pura, se-simple dengan jujur menjadi diri kita sendiri.

Apa adanya adalah bagian dari kampanye kontribusi IM3 Ooredoo dalam mewujudkan keseharian dan dunia digital yang positif untuk masyarakat Indonesia. Melalui kampanye ini, IM3 Ooredoo mendorong generasi muda, terlebih pengguna media sosial untuk membangun kesadaran akan hidup simple dan hidup yang apa adanya dengan membawa semangat yang positif.

Freedom Internet, Kuota Transparan dan Tanpa Syarat

Mengadopsi nilai apa adanya pada produk dan layanan yang diberikan, IM3 Ooredoo menyediakan paket Freedom Internet, paket simple dengan 100% kuota utama dan transparan tanpa syarat atau ketentuan tersembunyi.

Paket Freedom Internet menjawab kebutuhan pelanggan yang ingin tetap online sepanjang hari tanpa harus khawatir paket mereka akan cepat habis karena banyaknya batasan dalam paket.

Para pecinta internet dapat menikmati paket dengan 100% kuota utama ini dari paket bulanan mulai dari Rp 50.000 dengan kuota 10GB, Rp 75.000 untuk 18GB, hingga Rp100.000 untuk kuota 25GB. Selain itu, paket Freedom Internet juga dilengkapi dengan keunggulan Pulsa Safe yang menjaga agar pulsa pengguna tidak terpotong saat kuota habis, tanpa biaya tambahan.

Cara untuk menikmati paket Freedom Internet ini juga sangat mudah, pelanggan bisa mendapatkannya melalui *123# atau aplikasi myIM3 yang dapat di-download di Google Play Store atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, pelanggan dapat mengunjungi tautan ini.