Dampak Buruk Stunting dan Makanan yang Dibutuhkan untuk Mencegahnya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Usia batita (bayi dibawah tiga tahun) atau 1.000 hari pertama merupakan periode emas untuk pertumbuhan pada diri manusia. Di usia batita, pemenuhan gizi sangat penting karena bisa memengaruhi kualitas hidup anak di masa mendatang, terutama untuk mencegah stunting. Salah satu masalah tumbuh kembang yang saat ini masih banyak terjadi di Indonesia adalah stunting.

"Anak-anak Indonesia yang terkena stunting sampai dengan tahun lalu jumlahnya cukup banyak yaitu sekitar 17--19 persen, itu berarti sekitar 1 dari 5 anak Indonesia mengalami stunting," terang dr Dimple Nagrani, seorang dokter spesialis anak dalam webinar Gredu Ep. 04 bertemakan 'Sehat Itu Cerdas', Rabu, 24 Februari 2021.

Stunting sendiri merupakan kondisi yang menyebabkan anak lebih pendek dari anak-anak lain seusianya dikarenakan kekurangan asupan kalori dan malnutrisi atau kekurangan nutrisi. "Banyak yang menyangka kalau anak stunting itu pertumbuhan badannya lebih pendek dari anak-anak pada umumnya," tambahnya.

"Padahal bukan hanya masalah fisik saja, tapi juga otaknya, pola pikirnya akan lambat atau sulit berkembang. Kalau ini sudah terjadi pada anak diatas dua tahun akan sifatnya akan permanen, sulit untuk diperbaiki lagi," lanjut dr Dimple.

Ia menjelaskan, malnutrisi terjadi karena asupan makanan pada batita hanya mencukupi untuk kebutuhan jantung dan paru-parunya saja, tapi kurang cukup untuk tulang dan otaknya. Dampaknya, pertumbuhan fisik dan otak anak akan terhambat.

Beberapa dampak jangka pendek stunting adalah peningkatan angka sakit pada anak, penurunan intelegensi (IQ), penurunan kemampuan motorik dan berbahasa. Faktor-faktor tersebut bisa berdampak ke jangka panjang seperti, meningkatkan risiko obesitas, menurunkan kesehatan reproduksi, menurunkan prestasi di sekolah yang akhirnya dapat menurunkan kemampuan atau produktivitas saat bekerja.

Bisa Dicegah Sebelum Menjadi Ibu

Dokter Spesialias Anak, dr. Dimple Gobind Nagrani, Sp.A. (dok.screenshot webinar Gredu Ep. 04)
Dokter Spesialias Anak, dr. Dimple Gobind Nagrani, Sp.A. (dok.screenshot webinar Gredu Ep. 04)

Karena itu, menurut dr. Dimple, pencegahan stunting sangat penting, yaitu pada 1.000 hari pertama usia anak atau usia 0--2 tahun. Selain ASI, nilai gizi pada MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang biasanya diberikan saat bayi berusia enam bulan, harus diperhitungkan dengan baik.

"Itu dihitung sejak anak masih menjadi janin di dalam perut ibunya. Stunting bahkan bisa dicegah bukan hanya saat kehamilan, tapi juga sejak ibunya masih remaja atau belum menikah. Jadi, setiap wanita yang ingin menjadi ibu, harus memperhatikan gizi atau nutrisi dari makanan yang disantapnya sejak masih remaja. Ini memang agak sulit karena remaja cenderung mengonsumsi makanan yang menurutnya enak dan mengenyangkan," tutur dr Dimple.

Untuk itu, ia menyarankan beberapa pilihan makanan bergizi yang harus disantap para ibu maupun calon ibu agar anak atau calon anak agar terhindari dari stunting dan perkembangan otak atau IQ mereka berjalan dengan baik. Ada sembilan kategori makanan bergizi yang disaranakn, yaitu:

1. Energi: makanan yang mengandung kalori cukup tinggi

2. Protein: protein hewani, telur dan kacang-kacangan.

3. Lemak: lemak yang baik mengandung omega-3 yaitu lemak dari ikan.

4. Zat besi: hati ayam dan sayuran berdaun.

5. Seng: ikan, produk susu sapi dan kacang.

6. Yodium: garam dapur, seafood dan produk susu sapi.

7. Vitamin A: hati ayam, wortel, bayam dan ubi.

8. Choline: daging sapi, produk susu sapi dan telur.

9. Asam folat: hati ayam, bayam dan makanan terfortifikasi (contohnya, susu difortifikasi atau diperkaya dengan vitamin D).

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi. (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: