Dampak Corona, Penduduk Miskin di Asia Timur dan Pasifik Bakal Bertambah 11 Juta Orang

Liputan6.com, Jakarta - Wabah pandemi Virus Corona di hampir seluruh negara tidak cuma mengancam pertumbuhan ekonomi, namun berpengaruh pada usaha pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan oleh pemerintah.

Laporan Ekonomi Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik mencatat, jika pandemi Corona masih terus berlangsung dan melumpuhkan sebagian besar aktivitas ekonomi, maka diperkirakan jumlah penduduk miskin akan bertambah 11 juta orang.

"Proyeksi sebelumnya pada tahun 2020 diperkirakan ada 35 juta orang yang akan keluar dari garis kemiskinan, termasuk 25 juta orang dari China. Namun jika situasi ekonomi memburuk, lalu pertumbuhan ekonomi mencapai skenario paling buruk, maka jumlah penduduk miskin akan bertambah 11 juta orang," demikian dikutip dari laporan ekonomi, Selasa (31/3/2020).

Adapun, Bank Dunia telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik melambat menjadi 2,1 persen (skenario baseline) dan -0,5 persen (skenario lebih rendah), dari yang awalnya 5,8 persen pada 2019.

Bank Dunia menyarankan agar negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik dapat mengintegrasikan kebijakan penanggulangan pandemi Virus Corona yang nantinya akan berdampak juga pada ekonomi.

 

Kerjasama Internasional

Aktivitas warga di permukiman padat kawasan Muara Angke, Jakarta, Rabu (5/2/2020). Warga pesisir Jakarta yang mayoritas hanya berprofesi sebagai nelayan merupakan salah satu golongan rentan kemiskinan karena kesejahteraannya belum diperhatikan penuh oleh pemerintah. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Selain langkah-langkah fiskal seperti subsidi untuk membiayai pasien dan perawatan kesehatan, kerjasama internasional juga bisa membantu menggairahkan ekonomi di tengah wabah.

"Selain aksi nasional yang berani, kerjasama internasional yang lebih dalam bisa menjadi vaksin paling efektif untuk melawan ancaman ini. Negara-negara di Asia Timur dan Pasifik dan tempat lain harus melawan penyakit ini bersama-sama, menjaga perdagangan tetap terbuka dan mengkoordinasikan kebijakan ekonomi makro," ujar Aaditya Mattoo, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik.