Dampak COVID-19 ke Sri Mulyani: Biasa Bawa Map, Sekarang iPad

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pandemi COVID-19 dinilai telah mendorong percepatan transformasi dalam bekerja. Teknologi digital menjadi peran utama saat ini karena adanya pembatasan sosial atau lockdown.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun mengaku harus melakukan transformasi tersebut baik dalam proses kerjanya sebagai menteri, maupun terhadap seluruh bawahannya.

Hal itu dia ceritakan saat memberikan pidato kunci di acara Indonesia Digital Conference 2020 yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia secara virtual, Rabu, 16 Desember 2020.

"Kita semua tahu dalam rangka menghindari COVID-19 semua dipaksa untuk transformasi berinteraksi melalui teknologi informasi dan komunikasi digital," tuturnya.

Tak heran perusahaan digital berkembang pesat saat ini. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, Asia Tenggara kini punya 12 startup unicorn atau bervaluasi US$1 miliar.

"Maka permintaan terhadap jasa dan bagaimana, infrastruktur digital kita, teknologi informasi dan komunikasi jadi tulang belakang yang sangat menentukan," ungkap Sri.

Sri menegaskan, Kementerian Keuangan pada dasarnya sudah memasukkan digitalisasi pekerjaan dan pemanfaatan teknologi ke dalam rencana strategis 2020-2024.

Ditargetkan hal itu bisa selesai dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Tapi, katanya akibat COVID-19 saat ini transformasi tersebut secara tidak langsung sudah berjalan dan efektif melayani masyarakat.

"Jadi Kementerian Keuangan ditransformasikan secara paksa oleh COVID-19 secara sangat akseleratif. Alhamdulillah sampai sekarang kita bisa melakukan," tutur dia.

Bagi dirinya, Sri mengatakan, COVID-19 juga telah mengubah cara kerja menteri keuangan saat ini. Sebab, dia harus benar-benar bisa beradaptasi dengan digital.

"Maka Anda lihat komputer di depan layar saya dua, satu khusus saya bekerja. Seluruh kebutuhan komunikasi sekarang ditransformasikan," ucap Sri.

Baginya, data menteri keuangan saat ini ada di komputer dan iPad. Dua teknologi itu dikatakannya menjadi kombinasi antara perpustakaan menteri keuangan dan ruang kerjanya.

"Dulu Anda mungkin melihat menteri keuangan sering bawa map yang banyak, sekarang saya enggak pernah bawa map. Buat saya sekarang semua ada di komputer saya, ada di iPad saya. Saya selalu mengatakan ini kombinasi antara library sama middle dan back office," ucapnya.

Oleh sebab itu, ditegaskan Sri, pemerintah telah menganggarkan Rp26 triliun untuk mendorong transformasi pelayanan publik melalui pengadaan alat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada 2021.

"Dalam mendesain keseluruhan program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) ini kita juga memasukkan teknologi digital yang seharusnya bisa membantu implementasi dan eksekusi dari program-program penanganan COVID-19 dan juga dari sisi pemulihan ekonomi," tutur Sri. (art)