Dampak Covid-19, Keuangan Mikro Syariah Alami Dobel Krisis

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional Suminto mengatakan, Covid-19 menyebabkan Institusi Keuangan Mikro Syariah (IKMS) mengalami double crisis.

“Kita memahami teman-teman di lembaga keuangan termasuk BMT tentunya menghadapi tantangan yang lebih berat di situasi Covid-19, baik disisi likuiditas maupun pembiayaan,” kata Suminto dalam BMT Summit MUI 2020, Senin (16/11/2020).

Suminto menjelaskan, menurunnya likuiditas (Risiko Likuiditas) di mana anggota lebih memilih menarik simpanannya dan menghentikan membayar simpanan karena penghasilannya terdampak.

“Dari sisi likuiditas kita memahami teman-teman menghadapi tekanan likuiditas yang besar di tengah-tengah pandemi yang banyak orang lay off dan turun pendapatan dan ini berdampak pada DPK di lembaga keuangan,” ujarnya.

Selanjutnya, terhambatnya pengembalian pembiayaan (Risiko Pembiayaan) UMK yang sebagian besarnya adalah pedagang pasar dan kaki lima kehilangan penghasilannya karena berkurangnya jumlah pembeli secara signifikan.

“Begitu juga dengan sisi pembiayaan di tengah lesunya kegiatan UMKM, permintaan kredit turun signifikan,” katanya.

Demikian produksi juga terhambat karena sulitnya bahan baku dan distribusi terhambat, sehingga banyak anggota pembiayaan yang terdampak mengalami gagal bayar.

Strategi BI Jadikan Indonesia Pusat Ekonomi dan Keuangan Syariah Dunia

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng mengatakan untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia tidak mudah. Alasannya, literasi masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah di tanah air masih rendah.

Membutuhkan akselerasi dan pertumbuhan ekonomi yang baru untuk bisa mewujudkan cita-cita besar tersebut. Maka, penyelenggaraan Indonesian Sharia Economic Festival (ISEF) menjadi salah satu cara agar ekonomi dan keuangan syariah makin akrab bagi masyarakat. Sehingga nantinya bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

"Dalam hal ini penyelenggaraan ISEF tahun 2020 diharapkan dapat mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber perekonomian nasional," kata Sugeng dalam sambutannya di acara Penutupan ISEF Ke-7 2020, Jakarta, Sabtu (31/10).

Sugeng melanjutkan hal tersebut sangat penting bagi Indonesia agar bisa menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia. Meski target tersebut diakui cukup tinggi, namun dia optimistis Indonesia bisa mewujudkannya.

Alasannya, Indonesia memiliki kekuatan dan potensi untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. "Ini target kita memang cukup tinggi dan saya kira kita realistis karena kita punya kekuatan untuk mencapai itu tadi," kata Sugeng.

Rangkaian kegiatan ISEF tahun ini mengusung tema Pemberdayaan Ekonomi Syariah dengan Mata Rantai Industri dan Ekonomi Halal untuk Kesejahteraan Umat Dunia. Tema ini kata Sugeng dapat mengakselerasi visi Indonesia yang ingin dicapai.

Lewat kegiatan ini juga, bisa membuka mata semua pihak untuk memperbesar potensi industri syariah. ISEF juga kata Sugeng sebagai integrator pertemuan dan kesempatan bagi berbagai pihak.

Sehingga perlu pengembangan mata rantai industri ini perlu diintegrasikan untuk mengakselerasi keuangan ekonomi dan syariah. Untuk itu sejak saat ini perlu memperlihatkan komitmen masa depan Indonesia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: