Dampak Digitalisasi di Sejumlah Wilayah di Indonesia saat Pandemi Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sistem digital saat ini sudah makin dimanfaatkan oleh sejumlah pihak saat pandemi virus corona atau Covid-19 oleh pemerintah daerah, salah satunya yakni Pemprov Sulawesi Selatan.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman mengatakan saat sebelum pandemi Covid-19, pihaknya harus melakukan perjalanan jauh bila ingin mengadakan pertemuan ataupun rapat bersama 24 kabupaten dan kota.

Namun saat ini, kata dia, sejumlah kegiatan dapat dilakukan secara online atau virtual dengan sejumlah pihak, termasuk dengan pemerintah pusat.

"Pandemi ini intinya mendapatkan persoalan yang mempengaruhi semua sektor. Pandemi tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tapi kita berjuang keras roda pemerintahan pergerakan sistem pemerintahan kita mau tidak mau secara cepat," kata Andi dalam diskusi Digital Nusantara di YouTube AMSI, Rabu (16/12/2020).

Saat ini kata dia, pihaknya juga telah menyediakan layanan aduan secara online dan sudah mulai diakses oleh masyarakat. Saat pandemi pengaksesan tersebut dapat dicapai hingga 60 persen.

Lanjut Andi, dengan penggunaan sistem online atau daring dapat mempermudah memperbaiki ataupun mengetahui keluhan langsung dari masyarakat.

"(Keluhan) Itu akan dikirimkan ke dinas atau UPT dan akan memberikan feedback ke laporan tersebut. Kita verifikasi hal tersebut kita akan turunkan tim untuk turun ke bawah," ucapnya.

Sementara itu saat ini dampak digitalisasi sudah mulai dirasakan oleh masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Dia menyatakan masyarakat mulai menggunakan kecanggihan teknologi digital sejak 2014, yakni di mulai dengan adanya program wifi gratis dan smart kampung.

Sektor Pariwisata Mulai Bangkit

Kata Anas, meski berdampak Covid-19, Banyuwangi mulai bangkit dengan reaktivasi wisata yang ada.

"Langkah cepat berbasis pemulihan, beberapa hotel di Banyuwangi juga udah penuh pada weekend ini hingga akhir tahun. Makan sistem terbuka, staycation kita kembangkan, banyak tempat sedikit orang. Itu new normal wisata di Banyuwangi," kata dia.

Menurut dia, hal tersebut dapat diketahui dari sejumlah aplikasi digital yang ada. Selain itu, menurut Anas, dampak teknologi digital juga terlihat dari penurunan angka kemiskinan.

Lanjut dia, saat tahun 2010 angka kemiskinan di Banyuwangi mencapai 20,9 persen dan sekarang turun 7,5 persen.

"Income perkapita juga naik Banyuwangi, afirmasi larang pasar modern, tata pasar baru, hotel budget kita larang sekarang ada 600 homestay tumbuh. Hasilnya sekarang income perkapita sekarang Rp 51,8 juta pertahun, tanpa mall dengan program pemeran pariwisata digital," jelasnya

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: