Dampak Negatif Pembelajaran Jarak Jauh Berkepanjangan Selama Pandemi COVID-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Pembelajaran jarak jauh selama Pandemi COVID-19 ini ternyata memberikan dampak negatif bagi anak didik. Hal ini seperti yang telah didiskusikan oleh Forum Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan dengan beberapa narasumber berkompeten di dunia mengajar serta dari Kemendikbud.

Berbagai temuan dan pandangan dalam diskusi tersebut menjadi masukan yang penting sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan sehubungan dengan persiapan pembelajaran tatap muka (PTM).

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berkepanjangan bisa berdampak negatif untuk anak Indonesia, dari risiko putus sekolah, penurunan capaian pembelajaran hingga penurunan kesehatan mental dan psikis anak-anak. PTM Terbatas adalah opsi untuk mengurangi dampak negatif tersebut.

Berikut Liputan6.com rangkum dari Kemendikbud, Jumat (24/9/2021) tentang dampak negatif pembelajaran jarak jauh berkepanjangan.

Dampak Negatif Pembelajaran Jarak Jauh Berkepanjangan

Seorang siswi memperhatikan ponsel saat belajar secara daring di Jakarta, Rabu (4/11/2020). Usulan perubahan sistem Pembelajaran Jarak Jauh dari Federasi Serikat Guru Indonesia kepada Kemendikbud terkait adanya tiga siswa yang mengakhiri hidupnya diduga lantaran depresi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Seorang siswi memperhatikan ponsel saat belajar secara daring di Jakarta, Rabu (4/11/2020). Usulan perubahan sistem Pembelajaran Jarak Jauh dari Federasi Serikat Guru Indonesia kepada Kemendikbud terkait adanya tiga siswa yang mengakhiri hidupnya diduga lantaran depresi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Banyak anak didik tidak bisa menyerap mata pelajaran dengan baik

Salah satu dampak negatif Pembelajaran Jarak Jauh berkepanjangan adalah banyaknya anak didik yang tidak bisa menyerap mata pelajaran dengan baik. Hal ini dikarenakan belum terbiasa mengikuti pembelajaran daring menggunakan aplikasi Zoom.

Kesuksesan PJJ sangat ditentukan oleh dukungan orang tua terhadap anaknya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Hanafi, yang merasakan kondisi ini pada jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA. Menurutnya, banyak dari siswa yang menggunakan waktu belajar untuk bermalas malasan dan enggan mengerjakan tugas dari guru. Hal ini disebabkan karena lemahnya pengawasan dari orang tua terhadap anaknya yang harus belajar di tengah kedaruratan.

Keterbatasan Sarana Pendukung

Selain faktor kemalasan, ada masalah teknis lain yang menyebabkan anak kesulitan mengikuti PJJ. Bantuan kuota pulsa yang diberikan Kemendikbud dianggap belum maksimal menutup permasalahan dalam PJJ. Hal ini disebabkan karena banyak anak didik di daerah terluar dan tertinggal yang tidak punya HP, sinyal untuk mengakses internet juga sulit, kalau pun ada sinyal putus nyambung.

Hubungan Anak Didik dan Guru

Temuan lainnya yaitu hubungan batin antara anak didik dengan guru menjadi dingin karena mereka tidak pernah saling sapa dan bertatap muka selama satu tahun. Peserta didik baru yang duduk di kelas 1 baik jenjang SD, SMP dan SMA yang paling merasakan ini. Di mana mereka satu tahun tercatat sebagai siswa, tapi tidak tahu siapa guru dan teman mereka di sekolah yang baru tersebut.

Angka Putus Sekolah

Angka putus sekolah (APS) juga terjadi sebagai dampak pembelajaran jarak PJJ saat pandemi Covid-19. Pernyataan tersebut diungkapkan Pelaksana tugas (Plt.) Direktur SMA, Kemendikbud, Purwadi Sutanto, pada diskusi tersebut. Menurut Purwadi, salah satu kasus APS terjadi pada siswa SMA di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada kasus tersebut anak memutuskan menikah dini. “Karena keterbatasan sarana telekomunikasi pendukung PJJ, siswa putus sekolah dan kemudian menikah dini,” kata Purwadi secara virtual.

Penurunan Kesehatan Mental dan Psikis Anak

Dampak negatif pembelajaran jarak jauh berkepanjangan berikutnya adalah penurunan kesehatan mental dan psikis anak.

“Ini kenapa surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang pembelajaran di tengah pandemi keluar. Karena kita ingin segera PTM terbatas diterapkan. Sudah banyak anak dan guru mengeluhkan stres karena PJJ,” lanjut Purwadi.

Dari berbagai temuan tersebut, Purwadi menyimpulkan besarnya keinginan dari anak didik, orang tua dan pendidik agar PTM dapat segera dilakukan. Tentunya dengan tetap berpedoman dan menjalankan protokol kesehatan. Bila tidak, PJJ dapat menimbulkan dampak buruk yang lebih besar terhadap anak didik.

Penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas

Siswa menggunakan hand sanitizer sebelum memasuki ruang kelas pada pada hari pertama uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Kenari 08 Pagi Jakarta, Rabu (7/4/2021). Pemprov DKI Jakarta mulai melakukan uji coba pembelajaran tatap muka secara terbatas di 100 sekolah (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Siswa menggunakan hand sanitizer sebelum memasuki ruang kelas pada pada hari pertama uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Kenari 08 Pagi Jakarta, Rabu (7/4/2021). Pemprov DKI Jakarta mulai melakukan uji coba pembelajaran tatap muka secara terbatas di 100 sekolah (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pendidik dan tenaga kependidikan termasuk sasaran target prioritas percepatan program vaksinasi COVID-19 untuk dukung pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Saat ini sekolah yang berada di wilayah PPKM Level 1-3 dibolehkan untuk lakukan PTM terbatas. Selain itu, untuk sekolah yang sudah vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan juga wajib tawarkan PTM terbatas sebagai alternatif Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas ini adalah opsi untuk mengurangi dampak negatif pembelajaran jarak jauh berkepanjangan yang telah disebutkan sebelumnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel