Dampak Pandemi COVID-19, Belanja Iklan Televisi Alami Penurunan

Hardani Triyoga, Fajar Sodiq (Solo)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) mengeluhkan pandemi COVID-19 yang berdampak terhadap penurunan belanja iklan di industri pertelevisian Indonesia mengalami penurunan.

"Hitungan kita adalah minus 21 persen tahun lalu. Jadi, dari yang terkecil 15 persen sampai ada yang penurunannya mencapai 43 persen sehinga rata-rata 21 persen," kata Wakil Ketua I Asosiasi Televisi Swasta Indonesa (ATVSI) Neil R Tobing saat menjadi pembicara di seminar daring 5 jam non-stop kupas tuntas penyiaran di Indonesia di Monumen Pers Solo, Rabu, 31 Maret 2021.

Menurut dia, adanya penurunan pendapatan belanja iklan tersebut sangat berdampak terhadap operasi di industri televisi nasional. Padahal, dengan situasi pandemi COVID-19 ini biaya untuk memproduksi program mengalami peningkatan biaya produksi.

"Ini tentunya sangat berdampak terhadap operasi kami. Memang di satu sisi belanja iklan menurun karena terjadi kontraksi terhadap ekonomi, di sisi lain dalam memproduksi program-program juga peningkatan ongkos produksi," ujarnya.

Lebih lanjut, Neil mengungkapkan biaya produksi yang semakin meningkat itu karena adanya penyesuaian terhadap penerapan protokol kesehatan dalam memproduksi program. Tak hanya itu, kondisi industri televisi juga makin berat karena antara pendapatan belanja iklan dengan biaya yang harus dikeluarkan tidak seimbang.

"Dan yang lebih diperparah adalah secara umum karena ekonomi kita juga terkontraksi terjadi mismatch yang luar biasa antara revenue dan collection," kata dia.

"Jadi, kita punya revenue side, kita juga punya payable side. Payable-nya harus dilakukan secara ontime, sementara revenue kita makin lama makin jauh. Secara operasional sangat berdampak," tambahnya.

Pun, Neil menggambarkan kondisi industri televisi saat awal-awal terkena dampak pandemi COVID-19. Sejumlah stasiun televisi tidak memproduksi program baru, melainkan kembali menyiarkan program-program yang pernah ditayangkan sebelumnya.

"Mungkin kalau bisa diperhatikan selama empat bulan pertama dimulainya COVID memang tidak ada program fresh tapi packaging program-program lama. Karena memang ya tidak mungkin untuk melakukan produksi program fresh," ujarnya.