Dampak Pandemi Covid-19, Konsumen Lebih Pilih Rumah Tapak daripada Apartemen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada awal pandemi covid-19 tahun 2020 mengakibatkan ketidakpastian bagi dunia usaha, tidak terkecuali industri properti. Selain itu, dampak pandemi juga mempengaruhi adanya perubahan perilaku konsumen.

“Setelah setahun tidak terasa kita sudah memasuki selesai masa pandemi, ternyata juga banyak hal yang merubah tren daripada konsumen yang kita dapati. Beberapa perubahan perilaku yang kami bisa simak, ternyata peminat konsumen tidak lagi ke apartemen tetapi cenderung ke landed,” kata Executive Vice President, Nonsubsidized Mortgage & Consumer Division Bank BTN Suryanti Agustinar, dalam Media Briefing Virtual Rumah.com: Satu Tahun Pandemi, Selasa (16/3/2021).

Suryanti menyebut, peralihan ini ditandai dengan peningkatan penjualan di kategori landed house dan penurunan penjualan kategori apartemen. Saat ini konsumen cenderung lebih senang memiliki rumah dibanding hunian apartemen.

Selain itu, ketertarikan konsumen untuk memiliki hunian di perumahan lebih memilih yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti transportasi umum KRL, LRT, Busway, jalan tol, sekolah dan pusat perbelanjaan.

“Sekarang konsumen cenderung lebih senang memiliki rumah tidak mesti di Jakarta dan tidak harus dalam kota karena bisa WFH, yang penting transportasinya terjangkau. Jarak tidak menjadi hambatan mereka,” katanya.

Bahkan, saat ini rumah-rumah landed yang memang lokasinya jauh justru banyak peminatnya. kata Suryanti banyak konsumen yang tertarik dengan KPR di lokasi-lokasi pinggiran dengan harga sekitar Rp 500-800 juta saja.

Disisi lain, konsumen semakin sadar terhadap kesehatan dan lingkungan hidup yang bersih. Konsumen menginginkan fasilitas seperti jogging track, dan jalur sepeda untuk berolahraga maupun taman untuk melakukan aktivitas di luar ruangan.

“Kami lihat sekarang consumer semakin peduli terhadap kesehatan dan lingkungan hidup, mereka rata-rata mencari developer yang mempunyai konsep perumahan yang sehat, ada ruang untuk bekerja dan fasilitas lainnya lengkap. Jadi developer yang punya tempat olahraga menjadi pilihan mereka,” ungkapnya.

Perubahan Tren Konsumen

Anak-anak saat bermain di perumahan subsidi Green Citayam City, Ragajaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/2/2021). PT BTN Tbk optimis realisasi Kredit Pemilikan Rumah atau KPR mencapai 200-250 ribu unit pada 2021. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Anak-anak saat bermain di perumahan subsidi Green Citayam City, Ragajaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/2/2021). PT BTN Tbk optimis realisasi Kredit Pemilikan Rumah atau KPR mencapai 200-250 ribu unit pada 2021. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Oleh karena itu, developer harus memperhatikan perubahan tren konsumen. Agar kebutuhan konsumen bisa terpenuhi di masa pandemi covid-19. Dengan mengikuti tren tersebut, maka secara langsung sektor penjualan perumahan juga akan meningkat.

“Sebagai masukan, developer harus memperhatikan hal ini bahwa konsumen memilih rumah tidak hanya sekedar lokasi, tapi konsep-konsep kesehatan itu menjadi pilihan bagi para konsumen. Terutama bagi milenial, ternyata milenial itu sangat konsen dengan hidup sehat,” ujar Suryanti.

Demikian, dampak pandemi covid-19 ini membuat konsumen beralih ke teknologi digital dalam kehidupan sehari-harinya termasuk dalam mencari hunian rumah.

Migrasi konsumen ke teknologi digital ditandai dengan peningkatan pengunjung virtual expo yang diadakan oleh bank BTN, baik untuk melihat-lihat rumah maupun untuk pengajuan aplikasi pembelian rumah.

“Sekarang mereka (konsumen) tidak mau susah-susah mengajukan ke perbankan, makannya kami mengalami peningkatan melalui aplikasi online. Kemudian pemilihan lokasi juga semua online di portal kami, kerjasama dengan beberapa developer besar pun tidak lagi mengunjungi lokasi melainkan secara virtual,” pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: