Dampak Panic Buying, Perawat Ini Menangis Kehabisan Bahan Makanan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah mewabahnya pandemi Covid-19, banyak warga yang melakukan panic buying. Mereka beramai-ramai membeli masker serta cairan pencuci tangan hingga persediaannya kian menipis.

Namun, tak hanya perlengkapan kesehatan, mereka juga memborong bahan makanan dan membelinya dalam jumlah banyak. Tak heran banyak toko yang kehabisan persediaan produk.

Nampaknya panic buying bisa berdampak buruk bagi sebagian orang. Hal ini seperti yang dialami seorang perawat asal Inggris, bernama Dawn Bilbrough.

Dawn yang tak memiliki banyak waktu untuk membeli bahan makanan tak kuat menahan tangisnya ketika tahu bahwa semua persediaan makanan yang hendak dibelinya habis.

Menangis

foto: FB Dawn Bolbrough

Melalui sebuah video yang diunggahnya di Facebook, Dawn mengungkapkan dirinya tak bisa membeli buah dan sayuran lantaran telah habis tak tersisa.

"Aku adalah suster perawatan kritis. Aku baru selesai kerja selama 48 jam dan aku hanya ingin membeli beberapa barang untuk 48 jam ke depan. Tapi ternyata tidak ada buah, tidak ada sayuran. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tetap sehat," ungkapnya sambil menangis.

Mengimbau orang-orang untuk menghentikan panic buying

Dawn pun memohon kepada orang-orang untuk tak melakkan panic buying. Pasalnya ada banyak orang yang tak memiliki banyak waktu seperti mereka juga membutuhkan makanan tersebut.

"Kalian yang hanya memborong makanan pokok, kalian harus menghentikannya. Karena ada orang-orang sepertiku, yang akan merawat kalian ketika di kondisi terparah... Tolong hentikan," ucapnya memohon.

 

Videonya

Tips cegah panic buying

Warga membeli beras dan minyak goreng saat Operasi Pasar di Pasar Palmerah, Jakarta, Jumat (20/3/2020). Perum Bulog menjual gula pasir, beras dan minyak goreng dengan harga murah dan terjangkau yang tersebar di 35 titik pasar. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Isu panic buying saat ini memang banyak diperbincangkan, namun ada baiknya kita menghindari hal tersebut. Ketua Pusat Krisis Universitas Indonesia (UI) Dicky Palupessy menyampaikan, dorongan panic buying didasari oleh kepanikan dan kecemasan yang merupakan respons atas pandemi virus corona Covid-19.

"Maka salah satu hal yang bisa dilakukan adalah membuat pikiran kita tetap berada di atas tingkat kecemasan kita. Rasionalitas kita diangkat di atas kecemasan kita, berdasarkan informasi yang benar," tutur Dicky di Kantor Graha BNPB, Jakarta Timur, Minggu (22/3/2020).

"Membeli secara rasional tipsnya cerdas belanja. Belilah keperluan yang sangat dibutuhkan dalam jumlah yang cukup untuk orang atau keluarga sesuai kemampuan," tambahnya.