Dampak PPKM, Ibu Dua Anak Penjual Kopi di Bandung Jadi Pemulung

·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang ibu anak dua bernama Cucu Nia (44) yang berdomisili Kampung Dusun Pasar RT 1/2 Desa Sukaratu Kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang Jawa Barat, terpaksa merantau ke Kota Bandung untuk mencari penghidupan akibat terdampak penggusuran waduk Jatigede.

Cucu yang terpaksa berjualan kopi seduh di alun - alun Kota Bandung itu pun semakin tersiksa akibat pandemi COVID-19 terlebih dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Demi menafkahi dua anaknya, Cucu terpaksa jadi pemulung karena aktivitas dagang kopinya terhenti.

"Seorang ibu mengaku terdampak gusuran akibat pembangunan waduk Jatigede, Sumedang. Perceraian dengan sang suami, mengantarkan dirinya menjadi penjual kopi di alun - alun Kota Bandung," ujar Anggota DPR RI Dedi Mulyadi disela pertemuannya saat kunjungan kerja di Bandung, Sabtu 31 Juli 2021.

Disela pertemuan itu, Dedi pun berbincang. Cucu mengaku telah berstatus janda dalam bertahan hidup selama pandemi. "Dia pun mengontrak di sebuah gang sempit di sekitar daerah itu. Sepinya pembeli akibat pandemi telah menghilangkan seluruh penghasilannya. Sehingga dia terpaksa menjadi pemulung," katanya.

Tidak hanya itu, lebih parahnya lagi, Cucu mengaku belum mendapat bantuan apapun selama pandemi COVID-19. "Bantuan pemerintah pun sampai saat ini belum mampir di rekening pada kartu yang dia miliki. Sehingga, dia tak mampu lagi membayar kontrakan dan membiayai anaknya yang masih usia sekolah," katanya.

Dedi berharap pemerintah setempat, lebih memperluas jangkauan distribusi bantuan kepada warga yang terdampak pandemi. "Semoga perjumpaan ini bisa menyelesaikan kesulitan yang dia miliki," katanya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana tak ingin membuang waktu dalam memberikan bantuan. Ketika Pemerintah Kota Bandung mendapatkan bantuan beras, dia lansung berinisiatif terjun langsung memberikan kepada masyarakat.

Sejak Rabu, 28 Juli 2021 siang, Yana sudah mulai menyusuri sejumlah ruas jalan Kota Bandung. Dia ingin menyasar para pekerja informal yang menurutnya sangat merasakan dampak secara perekonomian oleh pandemi Covid-19. "Pedagang, tukang tambal ban, ada juga penjahit di pinggir jalan, tukang becak, beberapa angkot juga kita berikan," ucap Yana di sela-sela pendistribusian ke Jalan Lodaya.

Kota Bandung mendapat bantuan beras premium sebanyak 30 ton dari Kementerian Sosial, yang sudah dikemas dalam 6 ribu paket masing-masing seberat 5 kilogram perpaket. Yana mengungkapkan bantuan ini melengkapi bantuan sosial tunai Pemkot Bandung yang saat ini telah mencapai 99 persen tersalurkan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan bantuan rutin untuk DTKS.

Guna memperluas jangkauan ini dirinya terjun langsung kepada masyarakat yang di tengah pandemi ini juga masih tetap berjuang mencari nafkah. "Hari ini kami menyisir keliling Kota Bandung untuk mendistribusikan bantuan dari kementerian sosial. Jadi menyisir warga yang belum mendapatkan bantuan terdahulu," tegasnya.

Yana menegaskan kepada jajaran kewilayahan ataupun Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung untuk segera mendistribusikan beras bantuan kepada masyatakat. Dia juga mengingatkan agar pemberian dilakukan secara cermat agar penerima sesuai target dan sasaran. "Karena alhamdulillah bantuan ini dikirim dari pemerintah pusat dan tadi malam diterima. Jadi hari ini saya yakinkan distribusi sudah mulai dilakukan supaya betul-betul masyarakat yang terdampak ini mulai merasakan bantun dari pemerintah," terangnya.

Baca juga: Aturan Baru PPKM di DKI, Makan di Warteg Harus Tunjukin Surat Vaksin

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel