Dampak Serangan Israel, Listrik di Gaza Padam hingga Krisis Air

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Serangan bom terparah yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina di Jalur Gaza terjadi pada Minggu 16 Mei. Serangan tersebut membuat korban tewas di Palestina menjadi hampir 200, termasuk 59 anak-anak dan 35 wanita, sementara lebih dari 1.300 lainnya terluka.

Israel menargetkan rumah, apartemen, dan bangunan komersial, dan juga menghantam mobil serta restoran yang akhirnya mengakibatkan kematian.

Melansir Arab News, Selasa (18/5/2021), pengeboman tanpa henti telah melanda layanan listrik, air dan sanitasi di Gaza. Dampak ini pun meningkatkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan yang mendalam bagi 2 juta orang yang tinggal di sana.

Walikota Kota Gaza Yahya Al-Sarraj mengatakan, layanan penting telah dikurangi secara signifikan dalam beberapa hari terakhir karena sumber daya yang terbatas dan kerusakan jalan, saluran listrik serta pipa air.

Dia menuduh Israel sengaja menargetkan infrastruktur dan menghancurkan jalan-jalan utama, termasuk akses ke Rumah Sakit Al-Shifa. Sanitasi dan pasokan air untuk penduduk terpukul parah, kata Al-Sarraj.

"Satu-satunya pabrik desalinasi di Kota Gaza telah berhenti berfungsi sebagai akibat dari pemboman Israel di daerah sekitarnya dan ketidakmampuan pekerja untuk mencapainya, dan pemadaman listrik yang terus menerus telah mempengaruhi pemompaan air di sumur ke rumah," jelasnya.

Kesulitan Listrik

Polisi Palestina berdiri dekat reruntuhan bangunan kantor The Associated Press yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, Sabtu, 15 Mei 2021. Gedung tersebut juga menampung Al Jazeera dan sejumlah kantor serta apartemen. (AP Photo/Khalil Hamra)
Polisi Palestina berdiri dekat reruntuhan bangunan kantor The Associated Press yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, Sabtu, 15 Mei 2021. Gedung tersebut juga menampung Al Jazeera dan sejumlah kantor serta apartemen. (AP Photo/Khalil Hamra)

Salah seorang warga, Ziad Sheikh Khalil (44) mencoba menyediakan penerangan untuk rumah yang dia tinggali bersama istri dan keempat anaknya dengan mengisi baterai selama beberapa jam listrik tersedia.

"Kami hampir tidak mendapatkan listrik tiga jam sehari," katanya kepada Arab News.

"Saat listrik menyala, semua anggota keluarga bekerja dengan cepat untuk mengisi daya ponsel, serta mengoperasikan mesin cuci dan memompa air ke tangki di bagian atas gedung."

Jalur Gaza telah mengalami kekurangan listrik yang parah selama bertahun-tahun, tetapi dalam beberapa hari terakhir krisis telah memburuk karena kurangnya bahan bakar dan kerusakan pada 10 saluran listrik yang berasal dari Israel.

Enam dari 10 jalur listrik Gaza padam dan pasokan telah lebih dari setengahnya, menurut Mohammed Thabet, juru bicara Perusahaan Distribusi Listrik Gaza.

"Ada beberapa daerah perbatasan yang sama sekali putus aliran listriknya," katanya.

Penutupan penyeberangan Kerem Abu Salem juga telah mempengaruhi pasokan bahan bakar untuk satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza, katanya.

Thabit menambahkan, "Jaringan listrik di dalam Jalur Gaza juga terkena pemboman Israel di daerah pemukiman. Ini meningkatkan kesulitan yang dihadapi perusahaan."

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: