Dampak Taliban Berkuasa, Ratusan Keluarga di Afghanistan Terlantar Tanpa Atap dan Pangan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Kabul - Ratusan keluarga di Afghanistan yang telah berkemah di bawah terik matahari di sebuah taman Kabul setelah Taliban menyerbu provinsi mereka memohon makanan dan tempat tinggal.

Ini merupakan dampak krisis kemanusiaan nyata yang terjadi di negara yang dilanda perang itu.

Melansir Channel News Asia, Jumat (27/8/2021), pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban atas Afghanistan bulan ini, yang berpuncak pada penaklukan Kabul pada 15 Agustus, telah membuat negara itu kacau balau.

Sementara ribuan orang memadati bandara untuk mencoba melarikan diri, banyak lainnya, seperti ratusan keluarga yang menetap di taman tersebut, terjebak dalam ketidakpastian, tidak yakin apakah lebih aman untuk mencoba pulang atau tetap di tempat mereka berada.

"Saya dalam situasi yang buruk," kata Zahida Bibi, seorang ibu rumah tangga, duduk di bawah terik matahari bersama keluarga besarnya.

"Kepala saya sakit. Saya merasa sangat tidak enak, tidak ada apa-apa di perut saya."

Ahmed Waseem, pengungsi dari Afghanistan utara mengatakan mereka yang berada di taman itu berharap pemerintah pusat akan memperhatikan.

"Kami berada di lapangan terbuka dan dalam cuaca panas," katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tak Ada Pasokan Pangan

Warga Afghanistan berjalan di sebuah jalan di Kabul, pada Minggu (22/8/2021). Taliban merebut kembali kendali Afghanistan, hampir dua dekade setelah mereka digulingkan koalisi pimpinan AS. (AP Photo/ Rahmat Gul)
Warga Afghanistan berjalan di sebuah jalan di Kabul, pada Minggu (22/8/2021). Taliban merebut kembali kendali Afghanistan, hampir dua dekade setelah mereka digulingkan koalisi pimpinan AS. (AP Photo/ Rahmat Gul)

Seorang juru bicara Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok itu tidak memberikan makanan kepada orang-orang yang berada di taman dan bandara karena akan menyebabkan kepadatan lebih lanjut. Mereka harus kembali ke rumah masing-masing, katanya.

Kelompok itu telah menempatkan anggotanya di kementerian dan memerintahkan beberapa pejabat untuk kembali bekerja, tetapi layanan belum dilanjutkan, dengan bank masih ditutup.

Phalwan Sameer, juga dari Afghanistan utara, mengatakan keluarganya datang ke Kabul setelah situasi memburuk dengan cepat di kota kelahirannya.

"Ada banyak pertempuran dan pengeboman juga. Makanya kami datang ke sini. Rumah-rumah dibakar dan kami kehilangan tempat tinggal," katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa mereka hanya memiliki persediaan medis yang cukup di Afghanistan untuk bertahan seminggu setelah pengiriman diblokir oleh pembatasan di bandara Kabul dan Program Pangan Dunia PBB mengatakan negara itu sangat membutuhkan bantuan makanan senilai US$ 200 juta.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel