Dampak wabah corona, impor Jatim dari China anjlok 16,44 persen

Agus Salim

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat merebaknya wabah virus corona yang disusul dengan penghentian impor bahan makanan dari China, menyebabkan impor Jatim dari negara itu turun 16,44 persen, dengan dominasi komoditas sayuran dan buah-buahan.

Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan kepada wartawan di Surabaya, Senin, mengatakan turunnya impor dari Tiongkok mendorong turunnya total impor Jatim selama Januari 2020, dengan total penurunan 1,08 persen, yakni dari 2,05 dolar AS pada Desember 2019, menjadi 2,02 dolar AS pada Januari 2020.

Baca juga: Kemendag terbitkan Permendag larangan impor binatang hidup dari China


"Turunnya impor ini terjadi baik migas maupun nonmigas dan terbanyak dari China, yakni sebesar 16,44 persen, dari 595,89 juta dolar AS pada Desember 2019 menjadi 497,93 juta dolar AS pada Januari 2020," katanya.

Dadang mengakui, selama ini impor dari China adalah bahan pangan, khususnya buah dan sayuran, dan pada Januari 2020 tercatat turun drastis, dengan catatan komoditas buah 133,44 juta dolar AS, sayuran 67,88 juta dolar AS, serta gula dan kembang gula 33,60 juta dolar AS.

Secara umum, kata Dadang, impor migas dan nonmigas Jawa Timur pada Januari 2020 mengalami penurunan dengan ditunjukkan oleh kinerja impor sektor nonmigas yang turun, meskipun impor sektor migas justru mengalami kenaikan.

Selain impor, kata Dadang, ekspor Indonesia ke China juga turun pada Januari 2020, yakni mencapai 211,50 juta dolar AS dari Desember 2019 sebesar 267,93 dolar AS, atau turun 21,06 persen.

Baca juga: Pemerintah buka impor bawang putih 103.000 ton dari China


"Jika dilihat menurut negara tujuan utama ekspor nonmigas, negara tujuan utama ekspor Jawa Timur pada bulan Januari 2020 adalah Jepang, disusul ke Amerika Serikat dan Tiongkok," katanya.

BPS mencatat, ekspor nonmigas Jawa Timur ke Jepang mencapai 275,79 juta dolar AS, sedangkan ekspor ke AS dan Tiongkok berturut-turut mencapai 220,12 juta dolar AS dan 211,51 juta dolar AS.

"Singapura menjadi negara utama dengan peranan sebesar 9,02 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Timur, diikuti Malaysia
dengan peranan sebesar 4,21 persen dan Vietnam dengan peranan sebesar 3,03 persen," katanya.

Baca juga: 30 persen bahan baku dari China, Menperin siapkan subtitusi impor


"Ekspor nonmigas bulan Januari 2020 ke Singapura sebesar 159,20 juta dolar AS, Sementara itu ekspor nonmigas ke kelompok negara Uni Eropa menyumbang 7,67 persen terhadap total nilai ekspor Jawa Timur," lanjutnya.

Dominasi ekspor ke Uni Eropa adalah ke Belanda sebesar 36,75 juta dolar AS dan diikuti ekspor ke Jerman sebesar 22,40 juta dolar AS.

"Secara umum, nilai neraca perdagangan Jawa Timur selama Januari 2020 mengalami defisit sebesar 226,61 juta dolar AS. Sektor nonmigas mengalami surplus sebesar 222,77 juta dolar AS, dan migas mengalami defisit 449,38 juta dolar AS," katanya.

Baca juga: Selain bawang putih, ini komoditas yang banyak diimpor dari China