WHO dan Unicef Akan Saksikan 100 Kiai NU Jatim Divaksin AstraZeneca

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Selain Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Tohir, kegiatan vaksinasi dengan merek AstraZeneca dan Sinovac untuk seratus kiai NU Jatim di kantor NU Jawa Timur di Surabaya, Selasa besok, 23 Maret 2021, juga akan disaksikan oleh perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan Unicef.

“Nggih [Iya, WHO dan Enicef akan hadir],” kata Seketaris Pengurus Wilayah NU Jatim, Akhmad Muzakki, dikonfirmasi VIVA melalui pesan singkat.

Berdasarkan rundown acara yang diperoleh dari panitia, Menkes, Menteri BUMN, perwakilan WHO dan Unicef serta rombongan akan tiba di kantor NU Jatim sekira pukul 09.30 WIB. Mereka akan disambut di antaranya, oleh Rais Syuriah NU Jatim Anwar Manshur, Wakil Rais Syuriah Anwar Iskandar dan Ali Masyhuri, Ketua Tanfdziyah NU Jatim Marzuki Mustamar, Ketua Umum MUI Jatim Hasan Mutawakkil Alallah, dan lainnya.

Vaksinasi akan dilakukan terhadap kurang lebih seratus kiai NU dan pengasuh pesantren, serta aktivis NU Jatim. Untuk sasaran yang sudah pernah disuntik vaksin Sinovac dosis pertama dua pekan lalu, pada kesempatan itu mereka akan disuntik vaksin Sinovac untuk dosis kedua. Sementara bagi sasaran yang baru, mereka akan divaksin dengan merek AstraZeneca.

Pada Senin pagi, Presiden Jokowi melakukan pertemuan dengan sejumlah kiai sepuh di Kabupaten Sidoarjo dan meminta pandangan ulama tentang vaksin AstraZeneca. Setelah itu, Jokowi memantau pelaksanaan vaksinasi AstraZeneca dengan sasaran sejumlah ulama, tokoh masyarakat, dan warga di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo.

Jokowi pun mengaku telah memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar segera mendistribusikan vaksin AstraZeneca ke Jawa Timur. "Jatim siap diberikan vaksin AstraZeneca untuk digunakan di pondok pesantren di Jatim," katanya.

Di hari yang sama, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim mengeluarkan keputusan hasil sidang atau kajian hukum Islam terkait vaksin yang dipakai di Indonesia, termasuk AstraZeneca. Hasilnya, vaksin AstraZeneca suci dan halal.

Itu berbeda dengan keputusan Komisi Fatwa MUI Pusat yang menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca najis karena bercampur tripsin babi, namun boleh atau mubah digunakan karena kondisi darurat.

“Dan hukumnya [vaksin AstraZeneca] halalan thayyiban dan memang seharusnya untuk dimanfaatkan program vaksinasi pemerintah ini karena tujuannya tidak lain untuk menjaga jiwa dan keselamatan rakyatnya. Tidak ada pemerintah yang akan mencelakakan rakyatnya sendiri,” kata Ketua Umum MUI Jatim Hasan Mutawakkil Alallah.