Dana Kelolaan Manulife Aset Manajemen Indonesia Capai 104,7 T

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) tetap mempertahankan posisinya di industri reksa dana Indonesia selama 25 tahun. Berbagai inovasi juga dilakukan guna mendorong pertumbuhan perusahaan hingga menjadi salah satu perusahaan pelopor di Indonesia.

“Krisis yang kita alami adalah sesuatu yang belum pernah kita alami sebelumnya, pandemi Covid-19, tentunya kami bersyukur dapat bertahan melewati situasi tersebut,” ujar Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa, Selasa (31/08/2021).

Melalui perjalanan dan dukungan yang diberikan dari beberapa investor untuk menopang perusahaan, Afifa mengharapkan dapat memberikan dampak yang lebih signifikan bagi Indonesia, khususnya kebutuhan jasa finansial dan investasi.

Kepercayaan nasabah menjadi yang terpenting dan harus dijaga untuk meningkatkan kualitas dari layanan finansial yang diberikan. Hal tersebut yang membuat perusahaan dapat meraih pertumbuhan meskipun berada di tengah krisis.

“Adanya krisis ekonomi global, total AUM (assets under management) yang tercatat sebesar 30 persen yang mencapai Rp 97,2 triliun per akhir 2020, sedangkan pada semester pertama 2021, total AUM tumbuh sebesar 8 persen menjadi Rp 104,7 triliun per Juni 2021,” tambah Afifa.

Tak hanya itu, MAMI sendiri memiliki warna khas dengan berfokus pada literasi keuangan sejak lama. Kekhasan dan inovasi tersebut yang membuatnya menjadi salah satu pelopor, khususnya aspek finansial di Indonesia.

“Kami konsisten melakukan berbagai inovasi untuk memberikan pelayanan yang berkualitas,” jelas Afifa.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Edukasi Literasi Investasi

lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)
lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)

Edukasi seperti literasi investasi dicoba dibawakan dengan ringan agar lebih mudah dipahami oleh kalangan manapun. Modul-modul yang disiapkan juga berkaitan erat dengan keseharian orang pada umumnya.

“Modul edukasi kami sangat ringan dan tentunya ini sangat penting karena literasi terkait investasi di Indonesia sangat rendah, sebagaimana pernah disebutkan bahwa peran media sangat besar,” jelas Afifah saat menjelaskan mengenai inovasi yang pernah dilakukan perusahaan.

Tujuan dari edukasi tersebut ingin memajukan reksa dana dan memberikan kemudahan akses bagi masyarakat ke investor. Era yang serba digital dan cepat membuat tidak semua orang dapat mengikuti atau beradaptasi.

Menanggapi permasalahan tersebut, Afifa dan timnya melihat bahwa edukasi harus disisipkan ke masyarakat secara umum dengan membagi tiga nilai, yaitu insyaf, irit, dan investasi yang berisikan tahapan dasar untuk memulai investasi.

Selain edukasi, berbagai kegiatan seperti seminar, pameran, gelar wicara turut dilakukan guna pembelajaran akan investasi dan keuangan dapat semakin maju. Oleh karena itu, kerja keras yang dilakukan juga sekaligus ingin menarik perhatian investor agar tetap mempercayai perusahaan.

Hingga saat ini, layanan jasa finansial ini telah menjalin kerja sama dengan 32 mitra distribusi yang terdiri dari 20 bank dan 12 nonbank. Ditambah, kegiatan pemasaran juga dilakukan berbasis digital.

Menarik Perhatian Milenial

Ilustrasi Generasi Milenial (iStockphoto)
Ilustrasi Generasi Milenial (iStockphoto)

Tren dari pertumbuhan investasi dan reksa dana di kalangan milenial masih sangat tinggi dan diminati baik sebelum pandemi, maupun setelah pandemi.

Afifa memaparkan data bahwa sebelum 2018 sulit untuk menemukan investasi di kalangan milenial, tetapi pada akhir Juni 2021, pertumbuhan investor turut naik. Jumlah yang mendominasi terhadap perusahaan ternyata paling mendominasi.

“Jangan hanya ikut-ikutan tren. Harus kenali profil resiko dari calon investor antara satu dan lainnya,” jelasnya. Hal tersebut tentunya yang harus dikenali pemula dalam melakukan investasi, khususnya reksa dana.

Reksa dana menjadi salah satu investasi yang sebenarnya paling cocok untuk dipilih para pemula karena tidak perlu harus melulu memfokuskan diri memperhatikan investasi yang dilakukan.

Maraknya investasi ini semakin diminati akibat peralihan yang serba daring sehingga mempermudah orang-orang, terutama kalangan milenial mencoba mulai berinvestasi.

“Temen-temen millennial punya passion, masalah kerjaan. Kalau masalah investasi, harus pilih investor yang piawai mengatur investasi mereka,” tutup Afifa.

Reporter: Caroline Saskia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel