Danau Makalehi Terancam Mendangkal

Manado (ANTARA) - Danau Makalehi, di Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara, terancam mendangkal akibat erosi permukaan.

"Kalau laju erosi di sekitar danau tidak diminimalisasi, pendangkalan danau tidak bisa dihindari. Bukan tidak mungkin danau ini hanya tinggal nama," ujar Kepala Bidang Konservasi Sumberdaya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, Arfan Basuki, di Manado, Selasa.

Potensi erosi menurutnya bisa diakibatkan pembukaan lahan yang ada di sekitar danau. Pembukaan lahan ini bisa mengganggu suplai air menuju danau.

"Pembukaan lahan harus dikendalikan dengan mengembalikan kembali fungsi pohon yang ada di sekitarnya," ujarnya.

Karena itu, ancaman pendangkalan Danau Makalehi menurut Arfan menjadi salah satu prioritas upaya konservasi BLH Sulawesi Utara.

"Rabu (24/8) tim BLH Sulut akan menghijaukan lahan sekitar danau Makalehi. Kami menyediakan sekitar 800 anakan pohon buah-buahan beragam jenis," kata Arfan.

Pohon buah-buahan yang akan ditanami bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten Sitaro menurutnya memiliki fungsi ganda. Selain berfungsi konservasi, pohon buah-buahan juga akan berfungsi sebagai sumber ekonomi masyarakat.

"Fungsi konservasi misalkan bisa menahan aliran permukaan, mencegah erosi, penyimpan cadangan air atau penyerap karbon dioksida. Fungsi lainnya adalah ekonomi masyarakat bisa meningkat bila pohon buah-buahan ini berbuah," imbuhnya.

Karena itu dia berharap, warga bisa menjaga kelestarian Danau Makalehi. Apalagi danau ini menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Sitaro.

"Marilah sama-sama kita melestarikannya. Bila pembukaan lahan tidak bisa dikontrol, danau ini semakin cepat mendangkal. Dengan sendirinya ada banyak manfaat yang akan hilang," tandasnya.

Danau Makalehi terletak di Desa Makalehi, Kecamatan Siau Barat. Meskipun desanya berada di daerah kepulauan, desa ini pernah memeroleh predikat juara I Desa Terbaik di Indonesia dalam lomba desa tingkat nasional.

Mengunjungi danau ini harus ditempuh tiga jam menggunakan kapal laut. Kapal pun tidak langsung sandar di pelabuhan karena tidak ada dermaga. Wisatawan biasanya harus menggunakan perahu katinting (jenis perahu nelayan tradisional) untuk merapat ke pesisir.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.