Danone Indonesia Dukung Program Digital Preneurship Nahdlatul Ulama

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Danone Indonesia mendukung peningkatan potensi Warga Nahdliyin (Nahdlatul Ulama/ NU) khususnya generasi muda NU dalam bidang digital melalui seminar "Digital Preneurship: Menuju Kedaulatan Digital Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Wahid Hasyim dan NU Digital Services (NU Channel).

Dalam kesempatan itu, Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin menyampaikan tentang digitalisasi yang menjadi yang sangat penting dalam pengembangan dan pemberdayaan mitra dan UMKM yang dilakukan Danone Indonesia.

"Melalui berbagai program dan bentuk kerjasama, Danone Indonesia terus berkomitmen melakukan pemberdayaan terhadap komunitas, mitra, dan UMKM melalui digital. Terlebih kondisi pandemi Covid 19 membuat perkembangan digital menjadi semakin relevan saat ini," ujar Arif dalam keterangannya, Sabtu (20/3/2021).

Produk produk Danone Indonesia termasuk AQUA, VIT dan susu anak SGM Eksplor, Bebelac dan Nutrilon saat ini dijual lebih dari 1 juta pedagang yang sebagian besar pedagang kecil dan menengah (UMKM) termasuk warga Nahdliyin. Di era digitalisasi ini, Danone di Indonesia aktif memberikan edukasi bagaimana mengembangkan usaha kecil dan menengah melalui digital e-commerce.

Edukasi dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai pihak baik pihak pemerintah, swasta maupun organisasi kemasyarakatan, Arif menjelaskan. Digitalisasi dalam berbagai aspek terlihat dari peningkatan pengguna internet sebesar 14,6% atau menjadi 196 juta pengguna pada 2020. Sementara, pengguna media sosial aktif pada Januari 2021 mencapai sebanyak 170 juta atau naik 12% dibandingkan dengan tahun 2019.

Hadirkan Kemudahan

Era digital menghadirkan berbagai kemudahan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi maupun pemanfaatan untuk kepentingan sosial ekonomi. Namun, di balik itu, kemajuan digital juga membuka ruang kehadiran informasi salah tentang peristiwa yang meresahkan publik atau dikenal hoaks.

“Digitalisasi selain penting untuk perkembangan ekonomi masyarakat, tetapi juga harus diwaspadai terkait hoax dan disinformasi. Banyak sekali hoax dan disinformasi setiap hari kita terima,” jelas Arif Mujahidin. Wasekjen PBNU Imam Pituduh membenarkan saat ini ekosistem digital berkembang sangat pesat, termasuk dalam konteks penyebaran isu politik, sosial, keagamaan serta isu lainnya.

“Bagi NU, perlu ada handling serius soal HOAX, khususnya membangun dan mengembangkan narasi-narasi positif yang lebih intensif dalam wujud konten yang kreatif, sehingga penyebaran berita bohong, fitnah, polarisasi, dan radikalisme yang selama ini terjadi dapat diatasi dengan baik," jelas Imam Pituduh. Keberadaan Warga Nahdliyin yang saat ini berjumlah 100 juta jiwa berikut jejaring desa, komunitas dan UMKM merupakan potensi yang dapat menjadi modal untuk meningkatkan kapabilitas dan daya saing Indonesia.

"Produktivitas anak-anak muda NU yang memiliki karakter entrepreneur dan kreatif dapat menjadi tumpuan strategis pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional. Kehadiran komunitas Digital Preneurship NU dengan didukung kolaborasi multipihak diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya untuk menyusun peta jalan (road map) bagi terwujudnya Kedaulatan Digital Indonesia," tambah Imam.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: