Dapat Curhatan soal Saham BUMN, Begini Jawaban Ustaz Yusuf Mansur

Raden Jihad Akbar, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVAUstaz Yusuf Mansur menjadi sorotan netizen karena unggahannya di media sosial. Dia mem-posting percakapannya dengan kerabatnya yang meminta saran terkait investasi di pasar modal.

Dikutip dari postingan @yusufmansurnew, dikutip Jumat 4 Desember 2020, tampak memperlihatkan lawan bicara Ustaz Yusuf Mansur mengikuti saran yang telah diberikan untuk membeli saham perusahaan-perusahaan BUMN.

"Doain ya Kyai bisa bantu" Negara dalam kepemilikan saham BUMN n lainnya biar keuntungannya bisa kita manfaatkan untuk dunia dakwah," sebagaimana isi pesan kepada Ustaz Yusuf Mansur tersebut.

Menanggapinya, Yusuf Mansur pun menegaskan bukan seorang konsultan saham. Dia pun meminta agar para netizen tetap melihatnya sebagai seorang ustaz dan bukan sebagai konsultan saham.

Baca juga: Penerimaan Minim, Sri Mulyani: 451.062 Wajib Pajak Minta Insentif

Dia bahkan menegaskan bahwa dirinya tidak berafiliasi dengan perusahaan sekuritas atau bahkan BUMN mana pun. Khususnya, terkait postingan-nya tersebut.

"Karena cinta aja. Ga pengen awalnya ada yg ngejelekin BUMN. Apa pun BUMN itu. Yg rusak, orang2nya. DIganti aja, beres. Diperbaiki, diubah. Ditingkatkan kinerjanya. Dipacu kreatifitasnya. Apalagi membawa amanah bangsa dan negara," tulisnya.

Dalam postingan yang sama, Yusuf Mansur juga berharap bahwa pandangannya terkait transaksi saham, khususnya BUMN, diharapkan akan mampu membawa manfaat bagi para perusahaan pelat merah tersebut.

Menurutnya, dengan membeli saham-saham milik BUMN, maka secara tidak langsung para umat itu telah ikut memiliki BUMN melalui sistem kepemilikan ala modern.

"Kan memang kesempatan dibuka dengan sistem kepemilikan modern. Bahwa siapa pun bisa menjadi pemilik. Di bursa saham, ketika aliran dana asing masuk, itu juga kadang ditandai sebagai sebuah hal yang baik," tambahnya.

Selain itu, apabila makin banyak masyarakat yang bermain di bursa saham dan ikut membantu membeli saham-saham milik BUMN, maka hal itu akan mampu mengubah stigma buruk terkait kepemilikan pihak asing di dalam tubuh BUMN tersebut.

"Insya Allah konsen yang tadinya ke asing, asing, asing, jadi bergeser. Dan udah mayan kebukti. Lagian, saat asing pergi, kan bisa juga jd kesempatan kita masuk. Pasukan anak2 muda, millenial, pasukan 1 lot, 10 lot, bisa bangun, datang, bangkit, dan rame2 mborong. Lalu jadilah kepemilikannya menjadi kepemilikan anak bangsa," ujarnya.