"You and I" dapat penghargaan di festival film dokumenter Copenhagen

Maria Rosari Dwi Putri
·Bacaan 3 menit

Film "You and I" meraih penghargaan di ajang Copenhagen International Documentary Festival atau biasa dikenal CPH:DOX, dalam kategori Next:Wave Award. Kategori ini punya fokus memutar karya perdana dari berbagai pembuat film di seluruh dunia. Film ini bersaing dengan 12 film lain dari berbagai negara seperti Venezuela, Serbia, Prancis, Denmark, Belanda, Iran hingga Inggris.

CPH:DOX adalah festival film dokumenter internasional yang didirikan pada 2003 dan diadakan tahunan di Kopenhagen, Denmark. CPH:DOX sejak itu tumbuh menjadi salah satu festival film dokumenter terbesar di Eropa.

Penghargaan yang diumumkan pada (1/4) lalu di Denmark, menambah rekor kemenangan "You and I" di ajang nasional maupun mancanegara. Film yang sudah bisa ditonton di aplikasi Bioskop Online sejak tanggal 9 April ini, menjadi satu-satunya film dari Asia Tenggara yang lolos dan berhasil menjadi pemenang.

Film ini merupakan debut Fanny Chotimah sebagai sutradara yang merasa bersyukur dan berpendapat bahwa kemenangannya adalah hadiah kerja keras bersama dengan tim yang memproduksi filmnya dengan sepenuh hati.

Baca juga: "Pulau Plastik" diharapkan jadi pembuka film dokumenter di bioskop

“CPH:DOX merupakan festival film dokumenter internasional yang cukup prestisius di Denmark dan Eropa. Film You and I berkompetisi di Next:Wave Award bersama 12 nominasi film dokumenter lainnya dari seluruh dunia. Tentunya merupakan sebuah kehormatan untuk terpilih sekaligus memenangkan penghargaan ini. Karenanya film ini penting untuk juga bisa diapresiasi di dalam negeri”, ungkap Fanny dikutip dari siaran resmi, Selasa.

Para juri menilai bahwa Fanny sebagai sutradara berhasil menjahit cerita dengan sangat baik dan mempunyai daya tarik bagi kedua protagonis dalam film, Kaminah dan Kusdalini, dengan menelusuri detail kehidupan sehari-hari sambil merefleksikan tahun-tahun yang mereka habiskan di penjara, karena keterlibatan mereka dalam paduan suara pemuda.

Memadukan catatan sejarah dan pengamatan, Fanny membawa penonton ke momen katarsis yang kuat. Kusdalini meninggal, Kaminah mulai menangis, dan sebagai penonton juri merasakan beban tragedi di balik air matanya. Dia berduka atas kematian pasangan hidupnya, rekan-rekannya yang di penjara, dan impian emansipatoris sebuah generasi.

"You and I: bercerita tentang Kaminah dan Kusdalini, dua sahabat yang dipertemukan di penjara. Kisah film ini akan menunjukkan bagaimana Kaminah dan Kusdalini mengenang kehidupan pahit mereka sebagai mantan tahanan politik pada 1965 lalu dan berusaha tak melupakan sejarah kelam yang pernah mereka lewati.

Sebelumnya, film ini telah berhasil menyabet berbagai penghargaan, seperti film dokumenter panjang terbaik Festival Film Indonesia 2020, penghargaan internasional di Asian Perspective Award dari 12th DMZ International Documentary Film Festival dan terpilih menjadi Official Selection di Asian Vision dari Singapore International Film Festival 2020.

“Melalui film ini, kami berupaya mencatat memori-memori para penyintas, serta bertujuan meningkatkan kepedulian untuk para Simbah penyintas ‘65. Kami mengajak anak muda Indonesia menonton dan mendiskusikan film 'You and I' sebagai salah satu usaha dialog antar generasi tentang sejarah kelam bangsa yang terlupakan.”, kata Tazia Teresa D., produser "You and I" dari KawanKawan Media.

Baca juga: Bioskop Online hadirkan film dokumenter "You and I"

Baca juga: Dokumenter pemenang FFI "You and I" hadir di Bioskop Online

Baca juga: "Pulau Plastik", sebuah alarm darurat sampah plastik