Darah Masih Keluar saat Brigadir J Mau Dievakuasi ke RS Polri

Merdeka.com - Merdeka.com - Jasad Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J ditemukan bersimbah darah di dekat tangga rumah dinas Ferdy Sambo pada Jumat (8/7) lalu. Seorang driver ambulans, Ahmad Syahrul Ramadhan mengevakuasi jenazah Brigadir J.

Jaksa menghadirkannya bersama empat orang saksi lain pada sidang lanjutan dugaan pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J di PN Jaksel hari ini (7/11).

Ketiga terdakwa yakni Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Bripka Ricky Rizal Wibowo dan Kuat Maruf menjalani sidang secara bersamaan.

Syahrul mengaku sebelumnya diminta oleh anggota kepolisian memastikan kondisi Brigadir J. Ketika itu, kondisinya sudah berlumuran darah.

"Saya pakai sarung tangan karet. Saya bilang nandinya sudah tidak ada. Lalu dibilang ‘pasti mas?’ Pasti pak," kata Syahrul.

Syahrul diarahkan segera mengevakuasi jenazah. Ketika itu, ia meminta izin mengambil kantong jenazah yang ada di mobil ambulans. Kebetulan, Syahrul termasuk dari mitra kepolisian Jaktim dan biasa ditugaskan mengevakuasi korban kecelakaan.

"Saya gelarkan kantong jenazah di situ ada tulisan Korlantas Polri. Katanya oh mitra polisi, yasudah minta tolong ini dievakuasi," kata Syahrul.

Syahrul mengambarkan kondisi jasad Brigadir J. Ketika itu, darah terus-terusan mengalir. Ia tak tahu dari mana sumbernya.

"Saya tidak mengerti apa keluar dari kepala, atau genangan darah. Karena itu juga wajah ditutup masker, saya tidak buka-buka," ujar Syahrul.

Syahrul mengatakan, luka yang terlihat jelas di bagian dada. Diduga luka tembak. Sementara, Syahrul tak melihat luka tembak pada bagian tubuh lain. ”Ada di dada, luka tembak. Itu bolong," ujar dia.

Hakim lantas bertanya luka lainnya. "Tangan, leher, kepala ada bekas tembak?" ucap Hakim.

"Tidak lihat," imbuh Syahrul.

Syahrul menerangkan, empat orang ikut membantu memasukkan jasad korban ke kantong jenazah. Syahrul mengatakan, kantong jenazah dengan ukuran badan Brigadir J tidak sesuai. Sehingga, Syahrul lantas menekuk bagian kaki korban.

"Karena kakinya terlalu panjang, tidak muat di kantong jenazah. Saya lipat dikit baru masuk, saya resleting. Saya tarik dikit saya ambil tandu. Saya bawa langsung saya masukin satu persatu. Lalu diangkat ke mobil," ucap Syahrul.

Syahrul mengatakan, ia saat itu hendak tancap gas ke Rumah Sakit Polri. Namun, diminta tunggu sebentar.

"Saya masuk ke dalam mobil. Pas saya mau menyalakkan lampu ambulans. 'Tahan dulu mas. Nunggu arahan saja, nanti dikawal'," kata Syahrul.

Syahrul mendapat pengawalan. Ada mobil Provos jenis Pajero di belakang. Saat itu, salah satu anggota menemani di dalam mobil ambulas. "Akhirnya saya jalan ke Rumah Sakit Polri," ujar dia.

Syahrul mengungkapkan, jasad korban tak langsung dibawa ke kamar jenazah tapi ke Ruang IGD. Syahrul sempat bingung.

"Saya tanya 'Pak izin kenapa dibawa ke IGD dulu, katanya 'Saya juga tidak tahu mas. Saya ikuti arahan," ucap Syahrul.

Syahrul menceritakan, ruang IGD sudah ramai. Ada Petugas Polri yang bertanya jumlah korban.

"Saya juga bingung dilihat 'waduh kok sudah kantong jenazah' ditanya 'korban berapa' satu, terus 'yaudah mas dibawa ke belakang saja kamar jenazah," ujar Syahrul.

Syahrul mengatakan, salah seorang anggota meminta menurunkan jenazah dari dalam mobil ambulans. "Saya langsung turunkan berjalan ke kamar jenazah lalu, saya pindahkan ke troli kamar jenazah," ujar dia.

Syahrul kembali menemui anggota karena hendak izin pulang. Namun, diminta tunggu sebentar. "Saya tunggu di masjid di samping tembok sampai jam mau subuh," ujar dia.

"Mau subuh saudara menunggu," hakim bertanya.

"Iya yang mulia," jawab Syahrul.

Mendengar itu, hakim kaget. "Buset," Hakim terkejut.

Syahrul mengatakan, petugas memberikan uang sebagai akomondasi ambulans dan cuci kendaraan sebelum meninggalkan lokasi. "Iya (saya pulang)," ucap dia. [rnd]