Dari Bitcoin hingga Ransomware, Ini 5 Prediksi Ancaman Finansial 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan keamanan siber Kaspersky memprediksi, pada 2021, banyak pelaku kejahatan siber finansial cenderung menargetkan Bitcoin lebih sering dari sebelumnya.

Sementara kelompok hacker jahat lainnya akan beralih ke mata uang kripto transit ketika menuntut pembayaran dari korban.

Selain itu, praktik pemerasan akan menjadi lebih luas, baik itu sebagai bagian dari serangan DDoS atau ransomware, dengan operator sebagai pihak terakhir akan mengkonsolidasikan dan menggunakan eksploitasi tingkat lanjut untuk menargetkan korban.

Menurut Kaspersky, ancaman siber finansial termasuk yang paling berbahaya karena secara langsung berdampak pada kesejahteraan keuangan para korban, baik itu individu maupun organisasi.

Dmitry Bestuzhev, Peneliti Keamanan di Kaspersky, mengungkapkan pada 2021 akan ada perluasan yang lebih besar dari skimming kartu dan ransomware yang digunakan untuk menargetkan bank.

"Memperkirakan potensi ancaman yang akan datang itu penting, karena memungkinkan kami untuk mempersiapkan diri di masa datang, dan kami yakin prediksi para ahli akan membantu banyak profesional keamanan siber untuk mengerjakan model ancaman mereka," kata Bestuzhev, melalui keterangannya, Rabu (23/12/2020).

Berdasarkan tinjauan tentang apa yang telah terjadi selama tahun 2020, para peneliti Kaspersky dapat mempersiapkan prediksi lanskap ancaman keuangan (finansial) tahun 2021 untuk membantu organisasi membentengi diri dengan lebih baik. Berikut ringkasan prediksi utama mereka.

1. MageCarting

Ilustrasi Bitcoin (Liputan6.com/Andri Wiranuari)
Ilustrasi Bitcoin (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

MageCarting atau biasa disebut JS-skimming (metode mencuri data kartu pembayaran dari platform e-commerceb), akan berpindah ke sisi server.

Bukti menunjukkan bahwa dari hari ke hari semakin sedikit pelaku ancaman yang mengandalkan serangan sisi klien yang menggunakan JavaScript. Peneliti Kaspersky memprediksi tahun depan serangan akan bergeser ke sisi server.

2. Mata Uang Transisi (Transition Currencies)

Kemampuan berupa teknis khusus untuk memantau, menghapus nama pengguna, dan menyita akun Bitcoin akan menjadi metode yang digunakan oleh banyak pelaku kejahatan siber untuk meminta pembayaran.

Mata uang privasi lain yang ditingkatkan seperti Monero kemungkinan akan digunakan sebagai mata uang transisi pertama, dengan dana yang kemudian dikonversi ke mata uang kripto lainnya, termasuk Bitcoin, untuk menutupi jejak pelaku kejahatan siber.

3. Upaya Pemerasan Meningkat

Ilustrasi Hacker (iStockPhoto)
Ilustrasi Hacker (iStockPhoto)

Karena operasi mereka yang sukses dan berbagai pemberitaan yang luas tahun ini, pelaku ancaman di balik ransomware bertarget secara sistematis meningkatkan jumlah korban yang diharapkan untuk membayar uang tebusan.

Sekarang para peneliti Kaspersky mengantisipasi pertumbuhan yang lebih tinggi dalam upaya pemerasan sebagai cara untuk mendapatkan uang.

Organisasi menjadi pihak yang mungkin dirugikan oleh hilangnya data dan proses pemulihan yang melelahkan, dengan lebih banyak pelaku kejahatan siber menargetkan mereka dengan serangan ransomware atau DDoS atau bahkan keduanya.

4. Eksploitasi Zero-day Oleh Kelompok Ransomware

Ilustrasi Ransomware WannaCrypt atau yang disebut juga Wannacry (iStockphoto)
Ilustrasi Ransomware WannaCrypt atau yang disebut juga Wannacry (iStockphoto)

Selain itu, grup ransomware yang berhasil mengumpulkan dana dari sejumlah serangan yang berhasil pada tahun 2020 akan mulai menggunakan eksploitasi zeroday--kerentanan yang belum ditemukan oleh pengembang --serta eksploitasi N-days untuk meningkatkan efektivitas serangan mereka.

Meskipun membeli eksploitasi adalah upaya yang cukup memakan biaya, berdasarkan jumlah keberhasilan yang diperoleh beberapa operator ransomware dari korbannya, mereka sekarang memiliki cukup dana untuk diinvestasikan di dalamnya.

5. Pencurian Bitcoin

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Pencurian Bitcoin akan menjadi lebih menarik karena banyak negara jatuh ke dalam kemiskinan akibat pandemi.

Dengan ekonomi runtuh dan mata uang lokal jatuh, lebih banyak orang mungkin terlibat dalam kejahatan siber, yang mengarah ke lebih banyak kasus.

Seperti yang diantisipasi oleh para peneliti Kaspersky, karena kelemahan mata uang lokal, lebih banyak orang mungkin fokus pada penipuan yang menuntut Bitcoin, serta pencurian Bitcoin, karena ini adalah mata uang kripto yang paling luas.

(Isk/Ysl)