Dari 'cinta' sampai 'preman': Kemenangan Biden mengubah dinamika AS-Korea Utara

·Bacaan 3 menit

Seoul (AFP) - Pertemuan puncak yang menarik perhatian besar antara para pemimpin Korea Utara dan Amerika Serikat akan keluar dari agenda selama beberapa waktu, kata para analis, setelah presiden terpilih AS Joe Biden menyebut Kim Jong Un "preman" yang kebalikan dari deklarasi cinta dari Donald Trump.

Hubungan diplomatik yang ganjil dengan Pyongyang yang dijalin Trump berubah dari saling menghina dan mengancam perang menjadi "surat cinta" dan pertemuan pertama antara presiden AS yang sedang menjabat dan pemimpin Korea Utara.

Kedua pria penuh gairah itu bertemu dua kali lagi setelah pertemuan puncak mereka di Singapura pada 2018 tetapi tanpa kemajuan nyata dalam upaya denuklirisasi.

Kini kemenangan Biden menandai kembalinya norma diplomatik lebih berstandar, kata para analis, dengan pemerintahannya ingin melihat langkah-langkah nyata menuju denuklirisasi dan kemajuan pada serangkaian perundingan tingkat kerja sebelum pertemuan puncak yang dibuat untuk televisi.

Sewaktu kampanye, Biden mengatakan dia tidak akan bertemu dengan Kim tanpa adanya prasyarat dan menuduh Trump "menyemangati" pemimpin Korea Utara.

Dalam debat presiden terakhir bulan lalu, Demokrat mengecam Trump karena berteman dengan Kim dengan menyamakan pemimpin Korea Utara itu dengan Adolf Hitler.

"Dia berbicara tentang teman baiknya, yang adalah preman," kata Biden tentang Kim. "Itu seperti mengatakan kita berhubungan baik dengan Hitler sebelum dia menginvasi Eropa."

Sementara itu, ketika media milik negara di Pyongyang belum menyebut-nyebut pemilu AS dan hasilnya, negara itu sebelumnya mengecam Biden di mana Korean Central News Agency resmi menyebut Biden "anjing gila" yang harus "digebuk sampai mati".

Menurut para analis, Korea Utara menganggap pendekatan tidak ortodoks Trump sebagai peluang terbaiknya dalam mengamankan kesepakatan yang akan memungkinkan negara itu dalam menyimpan paling tidak sejumlah senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua (ICBM) miliknya yang keduanya dilarang oleh resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pyongyang akan "sedikit kesal terhadap perubahan kepemimpinan", kata mantan analis CIA Soo Kim.

"Rezim itu menyadari prospek pertemuan tingkat atas dengan seorang pemimpin AS kini akan tipis," tambah dia.

"Kami mengharapkan pendekatan yang lebih berprinsip dan sistematis kepada Pyongyang. Ini mungkin mengartikan lebih sedikit interaksi ad hoc dan sejumlah metode guna menangani Kim."

Sepanjang proses dengan Trump, Pyongyang terus mengembangkan dan memajukan persenjataannya, memamerkan serangkaian senjata baru -termasuk ICBM baru yang besar sekali- pada parade militer untuk memperingati ulang tahun ke-75 partai berkuasa bulan lalu.

Korea Utara telah melakukan puluhan peluncuran rudal sejak runtuhnya KTT Kim-Trump kedua di Hanoi pada Februari 2019, tetapi Korea Utara sudah memastikan untuk tidak melanggar garis merah ICBM atau uji coba nuklir presiden AS.

Pyongyang mungkin menunda uji coba senjata strategis tahun ini "karena pertimbangan untuk Trump", kata Shin Beom-chul, peneliti pada Institut Riset Korea untuk Strategi Nasional.

"Korea Utara berharap Trump terpilih kembali," kata dia kepada AFP.

Namun Pyongyang menjadi kian frustrasi karena hubungan pribadi antara Kim dan Trump yang dibangga-banggakan tidak mengarah kepada pelonggaran sanksi atau konsesi-konsesi substansial lainnya dari Washington.

Pada Juli, adik perempuan Kim yang sangat berkuasa mengatakan AS sepertinya "bermusuhan" terhadap Utara "tidak peduli seberapa baik hubungan antara para pemimpin puncaknya".

Kemenangan Biden akan "sangat memperumit kalkulasi Pyongyang", kata Park Won-gon, profesor hubungan internasional pada Handong Global University.

Korea Utara membenci Biden karena perannya dalam pemerintahan Obama yang mengadopsi kebijakan "kesabaran strategis" dengan menolak berhubungan dengan Pyongyang kecuali jika dia menawarkan konsesi terlebih dahulu atau sampai rezim itu runtuh dari dalam.

Korea Utara melakukan uji coba nuklir empat bulan setelah masa jabatan pertama Obama, tetapi kemungkinan akan menunggu guna menilai pendekatan pemerintahan Biden sebelum meluncurkan provokasi besar dalam upaya merebut "keunggulan", kata Kim sang mantan analis CIA.

"Kim Jong Un mungkin memahami bahwa peluncuran yang tidak tepat waktu bisa menimbulkan reaksi yang merugikan dari AS dan mitra-mitranya," kata dia.

Sebaliknya, Park memperkirakan, Pyongyang mungkin mengambil langkah tingkat rendah guba berusaha menarik perhatian presiden AS yang baru.

"Ada kemungkinan besar bahwa Pyongyang bakal membidik Korea Selatan," kata dia. "Negara itu bisa menilai bahwa adalah lebih aman menciptakan ketegangan di Semenanjung Korea."


sh/slb/je