Dari laboratorium sampai suntikan vaksin: bagaimana BioNTech-Pfizer memenangkan lomba vaksin

·Bacaan 7 menit

Berlin (AFP) - Saat sarapan pagi yang dingin pada 24 Januari itu, Ozlem Tureci dan suaminya Ugur Sahin memutuskan, "kita perlu menembakkan pistol start untuk ini".

Sahin "telah menyimpulkan dari publikasi yang menerangkan kasus virus corona di Wuhan ... bahwa ada kemungkinan besar pandemi bakal segera terjadi," kata Tureci.

Keputusan pasangan yang merupakan pendiri perusahaan kecil Jerman bernama BioNTech itu melahirkan Operasi Lightspeed di mana para ilmuwan perusahaan tersebut mengalihkan semua sumber daya mereka mulai dari penelitian terapi kanker sampai menemukan vaksin untuk menghentikan Covid-19.

"Sejak hari itu ... belum ada satu hari pun kami beristirahat dari mengerjakan proyek ini," kata Tureci.

Empat hari kemudian, pada 28 Januari, Jerman mengkonfirmasikan kasus pertama infeksi virus corona yang juga penularan pertama dari manusia ke manusia di bumi Eropa.

Epidemi yang paling parah menghantam China itu segera berubah menjadi krisis kesehatan global yang memaksa pemerintah-pemerintah menutup perbatasan, sekolah, dan kantor, serta memaksa penduduk mereka tetap di rumah guna menghentikan penyebaran virus corona.

Ketika BioNTech dan perusahaan-perusahaan farmasi lainnya beraksi mencari formula juara, sekelompok perusahaan "Mittelstand" di Jerman dan pakar-pakar manufaktur dan logistik lain yang lebih besar segera berubah sangat penting.

Hanya beberapa menit berkendara dari markas BioNTech di kota Mainz, salah satu perusahaan semacam itu diam-diam menggenjot produksinya.

Sedikit diketahui di seluruh dunia, perusahaan Schott yang berusia 130 tahun sebenarnya adalah pemain utama dalam industri farmasi karena botol-botol kaca kecilnya dirancang untuk menampung vaksin yang menyelamatkan jiwa.

Tiga perempat dari sekitar 100 uji coba inokulasi virus corona di seluruh dunia akan akhirnya menggunakan produk Schott.

Perusahaan itu sendiri bertujuan menghasilkan cukup botol untuk menampung dua miliar dosis vaksin virus corona sampai akhir 2021, kata kepala komunikasi Christina Rettig kepada AFP.

Schott sendiri awalnya mengkhawatirkan virus tersebut di pabriknya di Mitterteich di Bavaria.

Kota itu menjadi salah satu hotspot virus corona pertama di Jerman pada Maret setelah sebuah festival bir, dan Rettig mengatakan sejumlah pekerja Schott dari Republik Ceko akhirnya "tidak bertemu teman dan keluarga selama berpekan-pekan" karena perbatasan ditutup.

Dengan sebagian besar penerbangan penumpang dilarang, simpang siur di terminal bandara Frankfurt hampir lenyap pada musim semi.

Namun demikian area pengirimannya terus berdengung. Puluhan ribu kotak gaun dan masker bedah yang sangat dibutuhkan sedang transit.

Kepala infrastruktur pengiriman Fraport, Max Philipp Conrady, tahu bahwa itu baru awal dari pertempuran yang dilancarkan divisinya dalam melawan pandemi.

Tidak ada yang tahu perusahaan mana yang akan menemukan vaksin atau kapan akan siap, tetapi Frankfurt sudah menjadi pusat pengiriman barang farmasi terbesar di Eropa.

Maka perencanaan harus dimulai untuk tantangan logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu mengangkut jutaan dosis vaksin penyelamat nyawa manusia di seluruh dunia.

Hanggar pengatur suhu Fraport yang luas menangani 120.000 ton vaksin, obat-obatan, dan produk farmasi lainnya pada 2019.

Operator ini sudah mengantisipasi permintaan penyimpanan dingin dan meningkatkan investasi dalam "boneka" berpendingin teknologi tinggi yang akan melakukan pengangkutan dari hanggar ke pesawat. Kini bandara itu memiliki 20 unit penyimpan dingin, jadi beberapa kargo dapat dimuat pada saat bersamaan.

Fraport bukan satu-satunya investasi yang meningkatkan solusi guna menjaga keadaan tetap dingin.

Mengingat sudah pasti vaksin BioNTech perlu disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius (minus 94 Fahrenheit), maka keahlian manajemen rantai dingin menjadi komoditas panas berikutnya di kawasan itu.

Di tengah pergulatan global dalam memecahkan masalah guna mempertahankan vaksin berada pada suhu yang tepat saat dikirim ke seluruh dunia, tampaknya ada perusahaan Jerman untuk setiap aplikasi yang tidak jelas.

Binder di Tuttlingen memiliki "freezer super" yang sudah digunakan sejak Maret guna mendinginkan virus corona yang digunakan dalam penelitian laboratorium oleh BioNTech dan pengembang vaksin Jerman lainnya, CureVac.

Namun permintaan semakin meningkat seiring dengan kemajuan BioNTech dalam lomba membuat vaksin itu.

"Itu sungguh dimulai Agustus ketika kami menerima permintaan ini dari perusahaan logistik ... mereka sudah tahu kami harus menyesuaikan penyimpanan dingin kami ... dengan freezer untuk menyalurkan vaksin itu ke seluruh dunia," kata juru bicara Binder Anne Lenze.

Sementara Binder memastikan pendinginan statis hingga minus 90 derajat, perusahaan lainnya Va-Q-Tec membuat kotak bergerak dengan fungsi sangat dingin untuk proses transportasi yang sebenarnya.

Dengan menggunakan teknologi partikel silika, wadah ini bisa mempertahankan suhu mulai dari wadah yang mirip dengan lemari es sampai sedingin di kutub hingga 10 hari "tanpa perlu masukan energi", kata kepala eksekutif Joachim Kuhn kepada AFP.

Pada 18 November, BioNTech dan mitranya Pfizer akhirnya mengumumkan bahwa uji klinis Fase III mereka menunjukkan sekitar 95 persen kemanjuran vaksin mereka dalam melawan virus corona.

Kabar itu membuat pasar saham dilanda euforia dan digadang-gadangkan sebagai titik balik, cahaya di ujung terowongan gelap yang sangat panjang.

Saat itu, sektor logistik sudah mulai berkembang pesat.

Sebagaimana dikatakan Conrady dari Fraport: "Kami sudah siap sejak Agustus."

Merayakan dengan caranya yang bersahaja, para pendiri BioNTech tahu bahwa masih terlalu dini untuk berpuas diri.

"Sampanye bukanlah kebiasaan kami. Kami duduk dan menikmati secangkir teh dan menggunakan waktu untuk merenungkan apa yang telah terjadi sejauh ini dan apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Sahin kepada AFP.

Ratusan kilometer dari ibu kota Jerman, Albrecht Broemme yang berusia 66 tahun meletakkan sekelompok patung Lego di sana-sini saat membayangkan bagaimana mengubah bandara lama Berlin menjadi pusat pengiriman vaksinasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebagai mantan petugas pemadam kebakaran dan mantan kepala badan perlindungan sipil THW, Broemme dimohon untuk meninggalkan masa pensiunnya demi membantu dalam perang melawan pandemi.

Sejak awal, dia sangat berperan penting dalam merancang situs gawat darurat jika jumlah pasien melonjak di atas kapasitas rumah sakit.

Pada musim gugur, dia kembali diminta bantuan membuat konsep wahana vaksinasi untuk ibu kota Jerman.

"Saya datang bersama sebuah sistem, memikirkan berapa banyak bilik (vaksinasi) yang kami perlukan dan berapa banyak ruang yang kami perlukan untuk mencegah penyempitan," kata dia.

Setiap pengunjung akan mengikuti rute yang ditentukan mulai dari pendaftaran hingga vaksinasi yang sesungguhnya, kemudian ke konsultasi dengan dokter dan terakhir ke ruang tunggu selagi pemeriksaan terakhir dilakukan.

Pasien harus keluar masuk bilik dokter dalam beberapa menit, kata Broemme. Termasuk antrian dan waktu tunggu, "kami membayangkan semua ini akan memakan waktu satu jam."

Pada 2 Desember, vaksin BioNTech menjadi yang pertama mendapat lampu hijau untuk digunakan di Barat ketika Inggris memberikan persetujuannya.

Ketika negara-negara lain mulai dari Amerika Serikat sampai Arab Saudi hingga Singapura mengikutinya, Jerman tidak sabar mendorong badan regulasi obat Uni Eropa agar memajukan keputusannya mulai 29 Desember.

EMA akhirnya memberi lampu hijau sekitar satu pekan lebih awal pada 21 Desember.

Pada malam yang sama, Komisi Eropa menyatakan bahwa seluruh blok ini akan memulai operasi inokulasi mulai Minggu 27 Desember.

Ketika dosis vaksin mulai berdatangan di seluruh Eropa pada Sabtu, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn menyebutnya sebagai "hari harapan" tetapi mengingatkan bahwa membuat semua orang diimunisasi akan menjadi upaya "jangka panjang".

Dengan suntikan pertama bakal segera dilakukan, para pejabat berlomba memberikan sentuhan akhir terhadap pusat-pusat inokulasi darurat di seluruh Jerman.

Di pusat terbesar di negara ini di Hamburg, para dokter akan mampu menangani 7.000 suntikan setiap hari.

BioNTech juga menggelar webinar untuk perawat dan dokter yang akan segera memberikan suntikan dengan 1.100 pertanyaan terjawab selama sesi.

Truk-truk pembawa vaksin diluncurkan dari pabrik Pfizer di Belgia pada Rabu.

BioNTech mengatakan akan memasok langsung vaksinnya ke 25 lokasi distribusi yang diawaki oleh otoritas federal di Jerman yang kemudian akan mengirimkan bersama alokasi ke 294 distrik.

Otoritas-otoritas lokal selanjutnya akan menyalurkan suntikan ke 450 pusat vaksinasi.

Sejumlah unit mobil juga akan dikerahkan ke distrik yang lebih sulit dijangkau.

Dengan memperhatikan potensi sabotase oleh gelombang skeptis dan anti-vaksin yang berkembang, polisi federal dengan unit komando bersenjata mengawal kargo berharga ini saat bepergian.

Yang pertama disuntik adalah mereka yang yang paling rentan di rumah-rumah jompo, beberapa di antaranya sudah diamuk wabah virus mematikan itu.

Inokulasi tak bisa terjadi cukup cepat bagi Jerman yang mencatat angka kematian harian tertinggi hampir 1.000 orang selama satu pekan. Paling sedikit satu county melaporkan bahwa krematoriumnya penuh.

Dengan waktu yang terus mendesak, satu panti jompo jalan terus dengan vaksinasi pertama untuk penduduknya tak lama setelah dosis diberikan pada Sabtu atau sehari sebelum kampanye inokulasi nasional akan dimulai.

Edith Kwoizalla (101) menjadi orang pertama di Jerman yang menerima suntikan vaksin di panti jompo di negara bagian Saxony-Anhalt.

Bagi Kanselir Angela Merkel, setiap suntikan vaksin berarti nyawa yang harus diselamatkan.

"Ketika kita menyaksikan berapa banyak orang yang meninggal dunia akibat virus corona, maka kita bisa melihat berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan oleh vaksin."

bur-hmn/dlc/spm