Dari Menumbing menuju Den Hag, sebuah perjalanan pengakuan kedaulatan

·Bacaan 5 menit

Kenang-kenang Menumbing
Di bawah sinar gemerlap terang tjuaca
Kenang-kenang membawa kemenangan
Bangka, Djogdjakarta, Djakarta
Hidup Pancasila, Bhineka Tunggal Ika

Demikian tertulis jelas di prasasti yang ditandatangani oleh pendiri bangsa Drs Mohammad Hatta tertanggal 17 Agustus 1951. Prasasti tersebut terletak di pojok ruangan, tertanam di dinding sejajar dengan pigura berisi kisah para pendiri bangsa lainnya. Di antaranya Ir Soekarno, Mr Asa'at, Mr AG Pringgodidgo, Komodor Suryadi Suryadarma, Mohammad Roem, Ali Sastroamidjoyo, dan Haji Agus Salim.
​​​​​​​

Seorang pengunjung melihat mosaik Bung Hatta di ruang tata pamer di Pesanggrahan Menumbing, Muntok, Bangka Barat, Ahad (19/12/2021). (ANTARA/Indriani)
Seorang pengunjung melihat mosaik Bung Hatta di ruang tata pamer di Pesanggrahan Menumbing, Muntok, Bangka Barat, Ahad (19/12/2021). (ANTARA/Indriani)

Prasasti itu berada di Pesanggrahan Menumbing, di kawasan Bukit Menumbing dengan ketinggian 500 meter dari permukaan air laut. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Gunung Menumbing. Berada di pesanggrahan itu, dapat melihat Muntok, kota kecil yang berada di ujung Pulau Bangka, dari segala arah dan juga Selat Bangka yang memisahkan Pulau Bangka dan Sumatra.

Di kawasan yang terdiri atas empat bangunan itu, yakni satu bangunan utama, dua paviliun dan satu bangunan garasi itulah, menjadi saksi bisu tempat pengasingan para pendiri bangsa oleh Belanda pasca-Agresi Militer II. Mereka diasingkan di kota kecil itu dengan maksud menjauhkan dari semua kegiatan politik oleh Belanda.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Agus Widiatmoko, menjelaskan di kompleks bangunan tersebut para pendiri bangsa diasingkan oleh Belanda pada Desember 1948 hingga pertengahan 1949.

"Pengakuan kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bunda (KMB) di Den Hag pada sidang penutup 2 November 1949 itu erat kaitannya dengan Pesanggrahan Menumbing, karena semua berawal dari pemikiran para bangsa saat diasingkan di sini," ujar dia.

Belanda mengasingkan Mohammad Hata, Mr A Gafar Pringgodigdo, Mr As'at, dan Komodor Suryadarma di Pesanggrahan Menumbing pada 22 Desember 1948, lalu disusul Mr Ali Sastroamidjoyo dan Mr Moh Roem pada 31 Desember 1948.

Sementara Ir Soekarno, Haji Agus Salim, dan Sutan Sjahrir diasingkan di Prapat, Sumatera Utara. Pada 5 Februari 1949, Ir Soekarno dan Haji Agus Salim dipindahkan ke Muntok, yang pada masa sekarang berada di wilayah Kabupaten Bangka Barat. Berbeda dengan Hatta dan kawan-kawan, Ir Soekarno dan Haji Agus Salim ditempatkan di Pesanggrahan Muntok atau Banka Tin Winning (BTW).

"Belanda sebenarnya kecele, mereka mengira dengan diasingkan di Muntok, semakin menjauhkan rakyat dengan para pendiri bangsa karena di sini penduduknya adalah Melayu dan Tionghoa. Belanda menganggap penduduk setempat tidak mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nyatanya, tidak demikian semangat nasionalisme justru semakin menyala dengan kehadiran para tokoh pendiri bangsa di Muntok ini," terang dia.

Baca juga: Pesanggrahan Menumbing Bangka Barat mulai dipadati wisatawan

Pada awal pengasingan, Belanda menyekap Hatta, As'aat, AG Pringgodirgo dan Komodor Suryadi Suryadarma di salah satu kamar berukuran 5,4x6,4 meter pada periode 22 Desember 1948 hingga 18 Januari 1949. Lalu pada 30 Desember 1948, kedatangan dua penghuni lainnya, yakni Mohammad Roem dan Ali Sastroamidjojo. Belanda membangun kerangkeng berukuran 4,4x10,4 meter yang terbuat dari kawat harmonik gaas.

"Sangat mengenaskan karena mereka dikerangkeng dalam satu ruangan, listrik, dan air juga sangat terbatas," katanya.

Kerangkeng tersebut dibongkar pada 13 Januari 1949, sebelum kunjungan Komisi Tiga Negara (KTN) yang dibentuk Dewan Keamanan PBB dan dua pejabat Belanda. Setelah kunjungan, baru para pemimpin Republik dibebaskan bergerak di seluruh Pulau Bangka.

Pada saat pengasingan itu, menjadi tempat bagi para pemimpin bangsa untuk merumuskan pokok-pokok pikiran yang dibawa pada perundingan Konferensi Meja Bundar. Prasasti yang ditandatangani Bung Hatta menunjukkan bahwa Pesanggrahan Menumbing memiliki arti bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Agus menyebut sebuah surat berkop Wakil Presiden Republik Indonesia, ditujukan kepada LN Palar di New York, ditulis di Menumbing pada tanggal 2 Mei 1949 dan ditandatangani oleh Mohammad Hatta. Surat itu memberikan kesan bahwa Pesanggrahan Menumbing merupakan “Istana Wakil Presiden” dari tanggal 18 Januari hingga 5 Juli 1949.

Dibangun

Pesanggrahan Menumbing awalnya bernama Berghotel Menumbing yang dibangun oleh perusahaan timah Belanda, Banka Tin Winning (BTW) pada kurun waktu 1927 hingga 1930.

Bangunan yang dirancang oleh Antwerp J. Lokollo tersebut diresmikan penggunaannya pada 28 Agustus 1928. Menumbing sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti Manumbina yang berarti datang berulang untuk mengambil air bersih.

Sebagian besar bangunan dibangun dari batu granit dengan gaya arsitektur kolonial. Bangunan yang terdiri atas empat bangunan tersebut berada pada lahan 342x257 meter.

Pesanggrahan Menumbing ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM. 13/PW007/MKP/2010 ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 210/M/2015.

Selepas pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, Pesanggrahan Menumbing dikelola oleh PN Tambang Timah Bangka.

Pada pertengahan 2021, BPCB Jambi melakukan penataan ruang pamer. Untuk tahap awal, penataan ruang pamer dilakukan di Pesanggrahan Menumbing. Berikutnya adalah Pesanggrahan Muntok atau yang dikenal dengan nama Wisma Ranggam.

"Pesanggrahan ini memiliki nilai penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Kemenangan Indonesia dalam diplomasi internasional berawal dari sini," terang dia.

Baca juga: BKSAP DPR kunjungi tempat pengasingan Presiden Soekarno di Muntok

Setelah ditetapkan sebagai cagar budaya, pihaknya berupaya agar bangunan tersebut dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda. Selama ini, masyarakat hanya mengenal Pesanggrahan Menumbing dan Muntok sebagai tempat pengasingan. Padahal nilainya lebih dari itu.

BPCB Jambi kemudian melakukan penataan ruang tata pamer lebih modern. Misalnya saja sosok Bung Hatta dipamerkan dalam bentuk mosaik, penggunaan tata cahaya, visualisasi dengan tata lampu, hingga dikemas dalam bentuk permainan.

Sebelumnya, dalam ruangan tersebut hanya berisi foto-foto dan teks. Penataan ruang pamer itu dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak membosankan bagi generasi muda. Melalui penataan ruang pamer tersebut, diharapkan dapat memancing pemerintah daerah untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan potensi cagar budaya tersebut. Bangunan cagar budaya tersebut berada di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Menumbing.

"Kami ingin mengangkat tidak hanya wisata alam, tetapi juga ada wisata cagar budaya. Ke depan, diharapkan dapat menjadi laboratorium bagi mahasiswa untuk praktik Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Jadi perlu pengelolaan secara khusus," jelas dia.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Bambang Haryo Suseno, mengatakan keberadaan tokoh bangsa di Muntok berperan besar dalam merebut kemerdekaan Indonesia dalam jalur diplomasi pascaproklamasi.

Menurut Suseno, hal itu belum banyak diketahui masyarakat.

Oleh karenanya perlu upaya pengemasan sejarah tersebut dengan cara kreatif agar semakin dikenal masyarakat.

Muntok yang merupakan kota kecil di ujung Pulau Bangka, akan tetapi peranannya tidak sedikit dalam diplomasi pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.

Baca juga: Bangka Barat akan gelar pameran foto sejarah pengasingan Soekarno
​​​​​​​

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel