Dari Peta Hingga TNI, Rektor Unhan Jelaskan Peran Bung Karno

Agus Rahmat, Eduward Ambarita
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pembela Tanah Air atau Peta, disebut sebagai cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tapi masyarakat juga diminta memahami, siapa sebenarnya tokoh-tokoh di baliknya.

Rektor Universitas Pertahanan, Laksmana Madya Amarulla Oktavian, menyatakan keberadaan Peta yang kemudian menjadi dasar bagi TNI dalam mempertahankan kedaulatan negara, tidak terlepas dari peran sejumlah tokohnya.

Di balik berdirinya Peta, ada tiga unsur penting yang tak bisa dilupakan yakni Proklamator yang juga Presiden RI ke-1 Soekarno (Bung Karno), tokoh pergerakan, ulama, dan pihak Jepang.

"Saat itu 1943 ada tiga unsur utama yang berperan, yaitu peran ulama Islam, Bung Karno yang saat itu belum menjabat sebagai Presiden, kemudian peran tentara Jepang," kata Amarulla saat menjadi pembicara dalam acara peringatan Ke-76 Peta yang diselenggarakan Yayasan Peta secara virtual, pada Minggu 14 Februari 2021.

Baca juga: Istana Tanggapi Sentilan JK: Pemerintah Tidak Antikritik

Saat itu, dari ulama terutama Islam ada KH Mas Mansyur dan tokoh pergerakan yakni Gatot Mangkoepradja. Mas Mansyur diketahui juga sebagai tokoh Muhammadiyah yang juga salah satu anggota Empat Serangkai Pusat Tenaga Rakyat (Putera) itu membawa suara kaum santri.

Sedangkan Gatot Mangkoepradja menulis seracik surat kepada Panglima Tentara Jepang untuk membentuk barisan pemuda lokal untuk membela Tanah Air.

Dari pergerakan itulah, terbentuk Peta yang berisi para tentara sukarelawan yang bertugas menjaga kemerdekaan Republik Indonesia saat itu.

"Di dalam surat itu yang sangat heroik adalah tinta yang digunakan itu berasal dari darah Raden Mangkoepradja sendiri," kata Amarulla.

Yang tak kalah penting, lanjut Amrulla, yaitu peran Bung Karno yang melakukan politik kooperatif. Bung Karno mengajak rakyat untuk menjadi tentara terlatih sebagai jalan menuju kemerdekaan Indonesia.

Dalam perjalanannya, Peta turut mengawal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Seperti tercatat dalam sejarah salah satu komandan kompi, Chudanco Peta Latief Hendraningrat yang menjadi pengibar bendera Sang Saka Merah Putih.

Peta juga melahirkan Sistem Rakyat Semesta (Sishankamrata), sebagai sistem yang memanfaatkan potensi di dalam negeri untuk mempertahankan keamanan negara.

"Peta juga berperan penting di dalam perjuangan 1945 sampai 1949 dengan melahirkan doktrin perang gerilya. Di sini Panglima Soedirman dan para petinggi TNI lainnya saat itu sangat memahami bagaimana perang gerilya untuk menghadapi penjajah Belanda," kata Amarulla yang juga meraih gelar Doktor dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Dia juga menjelaskan, Sishankamrata secara hukum tertuang dalam UUD 1945. Lantaran pentingnya, maka masih digunakan oleh TNI.

"Sishankamrata ini akhirnya dijabarkan dalam UU, komponennya yaitu utama, cadangan, dan pendukung. Jadi sangat penting sekali memahami Sishankamrata ini mulai dari rohnya para pejuang Peta. Di sini ada 80 ribu pasukan Peta saat itu yang berhasil membentuk 400 ribu prajurit militer," jelas dia.

Sementara itu, Mahasiswa S3 atau program doktoral Universitas Pertahanan, Hasto Kristiyanto menilai peran penting Bung Karno membuktikan bahwa Proklamator RI itu memiliki visi sangat jauh agar Indonesia terus berdiri ke depan.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan ini menganggap, visi Bung Karno bahkan sudah hidup dalam pikiran sang proklamator tersebut, jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Pembentukan Peta melaui kepeloporan Bung Karno dimaksudkan sebagai langkah strategis konsolidasi negara dalam rangka kemerdekaan Indonesia," kata Hasto.

"Jauh sebelumnya sejak 1930-an, Bung Karno telah menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia akan terjadi dalam suasana perang, ketika pasifik membara sehingga pembentukan Peta sangat penting dalam perspektif pertahanan bagi negara yang akan segera merdeka dan memerlukan hadirnya angkatan perang yang membela dan melindungi kemerdekaan Indonesia," tutur Hasto.