Dari Shanghai, Indonesia Bukukan Order Ekspor ke China Rp8,3 Triliun

Renne R.A Kawilarang
·Bacaan 4 menit

VIVA – Pemerintah Tiongkok kembali selenggarakan China International Import Expo (CIIE) untuk yang ketiga kalinya di National Exhibition and Convention Center (NECC), Shanghai. Ajang ini berlangsung sejak tanggal 5 November hingga Selasa kemarin 10 November 2020.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai mengungkapkan, meskipun dilaksanakan di tengah situasi pandemi global Covid-19 dan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, animo peserta dan pengunjung tidak berkurang. Perusahaan global 500s yang ikut dalam pameran ini tercatat hampir dua kali lipat lebih banyak dibanding penyelenggaraan CIIE tahun lalu, dengan total pengunjung mencapai 400 ribu orang.

Jumlah partisipasi perusahaan Indonesia terhitung tidak banyak jika dibandingkan dengan partisipasi pada tahun-tahun sebelumnya, diantaranya yakni PT. Purinusa Ekapersada, PT. Inlove Jewellery Trading, PT. Universal Luggage Indonesia, PT. Agarindo Bogatama, PT. Kapal Api Global, PT. Anugerah Citra Walet Indonesia, dan Mayora Group.

Hal ini karena penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat bagi orang yang akan memasuki wilayah Tiongkok. Meski demikian, perusahaan-perusahaan ini tampil apik dalam mewakili produk-produk unggulan Indonesia di sektor industri olahan kertas, perhiasan, dan makanan minuman.

“Tahun ini, Indonesia tidak datang dengan kekuatan optimal. Namun, perusahaan Indonesia yang bergabung di sini adalah salah satu yang terbaik di bidangnya, ada perwakilan industri makanan dan minuman, sarang burung walet, agar-agar, perhiasan, kertas dan produk pertanian seperti kopi.

Intinya, meski dalam keterbatasan, Indonesia tetap tampil prima dan siap penuhi permintaan pasar Tiongkok dengan produk-produk unggulan dan potensialnya!” ungkap Duta Besar Republik Indonesia untuk RRT dan Mongolia, Djauhari Oratmangun di sela-sela kunjungannya ke beberapa booth partisipan asal Indonesia, seperti yang dikabarkan KJRI Shanghai hari ini.

Dubes Djauhari bersama stasiun televisi CCTV 2 juga berkeliling ke lokasi-lokasi booth perusahaan Indonesia di CIIE. Dalam liputan ini, Dubes Djauhari kembali promosikan produk-produk unggulan Indonesia kepada konsumen Tiongkok.

Di tempat terpisah, Konsul Jenderal RI di Shanghai, Deny W. Kurnia, menyampaikan pentingnya penyelenggaraan CIIE tahun ini. “Penyelenggaraan CIIE tahun ini diharapkan dapat menjadi salah satu katalis bagi bangkitnya perekonomian regional dan global di tengah situasi pandemi Covid 19 yang saat ini masih berdampak buruk bagi sebagian negara di dunia,” kata Deny.

Selain turut berpartisipasi dalam CIIE, tahun ini Kemendag, KBRI Beijing, KJRI Shanghai dan ITPC Shanghai juga berkolaborasi selenggarakan Indonesia – China Business Forum and Matching yang diikuti sekitar 200 peserta secara offline dan online.

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag, Kasan Muhri beserta jajaran Ditjen PEN Kemendag turut mengawal dan hadir secara daring. “Performa perdagangan Indonesia dengan Tiongkok pada tahun ini mengalami peningkatan yang sangat baik, dengan semakin turunnya defisit perdagangan sebesar 13% dibanding tahun lalu. Potensi pasar di Tiongkok juga semakin tumbuh dari tahun ke tahun. Diharapkan, Indonesia dapat memanfaatkan peluang-peluang ini seoptimal mungkin,” ungkapnya dalam paparan yang disampaikan saat kegiatan forum bisnis dan matching.

Selain mempromosikan keunggulan Indonesia dan menyampaikan gagasan peningkatan kerja sama antara dua negara di berbagai bidang, dalam paparannya, Dubes Djauhari juga mengajak seluruh peserta untuk mengikuti Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition 2020 (TEI – VE 2020) yang akan berlangsung tanggal 10 – 16 November 2020 secara online.

Lima Perusahaan China
Dalam forum tersebut, Dubes Djauhari bersama dengan Konjen RI di Shanghai, Deny W. Kurnia, dan seluruh peserta ikut menyaksikan penandatanganan Letter of Intent (LOI), antara lima perusahaan Tiongkok dengan Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Atase Perdagangan RI di Beijing, Marina Novira dan Kepala ITPC Shanghai, Indra Prahasta.

“Melalui LOI ini, 5 perusahaan Tiongkok tersebut menyatakan akan melakukan pembelian produk Indonesia berupa batu bara, buah tropis, produk turunan kelapa, produk perikanan, makanan dan minuman serta produk pertanian lainnya, dengan total nilai sebesar US$584 juta atau sekitar 8,3 triliun rupiah,” ungkap Marina usai penandatanganan LOI.

Kegiatan ini ditutup dengan mempertemukan sebanyak 18 perusahaan Indonesia dengan 6 perusahaan Tiongkok dalam kegiatan Business Matching, yang juga menghasilkan beberapa potensi kerja sama pembelian produk-produk pertanian, mamin dan perikanan Indonesia.

“Sebagai Perwakilan Perdagangan, ITPC Shanghai dan Atase Perdagangan di KBRI Beijing konsisten bekerja sama agar potensi pasar Tiongkok yang sangat besar ini dapat digarap secara optimal, tentunya hal ini tidak terlepas dari dukungan stakeholders baik yang berada di Indonesia maupun di Tiongkok,” pungkas Indra, yang juga merangkap sebagai koordinator pelaksana kegiatan bisnis forum dan matching tahun ini.

Selain melakukan kunjungan ke perusahaan-perusahaan Indonesia yang turut serta dalam CIIE, serta forum bisnis dan matching, Dubes Djauhari juga melakukan pertemuan dengan anggota Indonesia Chamber of Commerce (INACHAM), kunjungan ke kantor ZTE di Shanghai dan beberapa pertemuan dengan para pelaku usaha Tiongkok, guna membahas upaya peningkatan investasi perusahaan asal Tirai Bambu itu ke Indonesia.