Darmawan Optimistis Politani Pangkep Masuk Kategori Kelas Dunia

VIVA
·Bacaan 3 menit

VIVA – Garis tangan manusia sungguh sebuah misteri. Tak ada satupun orang yang mampu menebak dengan pasti kemana angin nasib membawanya kelak.

Tak pernah terbayang dalam benak Darmawan bahwa suatu hari dirinya akan menjadi pejabat penting. Pria kelahiran Wajo, 2 Februari 1967 ini kini menjabat sebagai direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan atau Politani Pangkep. Pucuk pimpinan instansi pendidikan tempatnya mengabdi selama bertahun-tahun.

Semuanya berawal ketika Darmawan diminta oleh koleganya di Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan (BTP) untuk menjadi ketua jurusan. Doktor lulusan Universitas Hasanuddin ini dianggap mampu membangkitkan jurusan BTP yang ketika itu kondisinya sedang sangat terpuruk.

"Saat itu jumlah mahasiswa kami hanya 5 orang. Akhirnya saya setuju untuk menjadi ketua jurusan dengan syarat hanya menjabat satu periode saja," kisahnya.

Padahal ketika itu Darmawan sedang intens melakukan penelitian dan pendampingan masyarakat, bekerja sama dengan sejumlah lembaga internasional. Namun, dia tak ingin dianggap sebagai 'kacang yang lupa kulit' sehingga pengabdian sebagai ketua jurusan dianggap bagian dari kontribusinya bagi Politani Pangkep.

Darmawan menjabat sebagai kajur pada tahun 2006. Dia lantas membuat gebrakan untuk mendongkrak jumlah mahasiswa jurusan BTP. Jika sebelumnya Politani Pangkep hanya 'menjaga gawang' alias pasif menunggu mahasiswa, di era Darmawan dia menerapkan strategi 'jemput bola'. Setiap akhir pekan dirinya berkeliling ke SMA-SMK di daerah untuk memperkenalkan jurusan BTP.

"Jadi saya semacam road show. Menjalin komunikasi dengan sekolah-sekolah dan membuat MoU (memorandum of understanding). Walaupun waktu itu sempat kena tegur dari pimpinan karena sebenarnya bukan wewenang jurusan," kenangnya.

Dasar bertangan dingin, kerja kerasnya tersebut langsung terlihat hasilnya setahun berselang. Dari awalnya hanya 5 orang mahasiswa langsung melejit menjadi 47 mahasiswa alias meningkat nyaris sepuluh kali lipat. Bahkan pernah terjadi separuh jumlah mahasiswa yang diterima Politani Pangkep adalah peminat jurusan BTP.

Prestasi Darmawan tersebut membuatnya sempat dilirik menjadi suksesor direktur. Namun, ketika itu dirinya urung maju ke gelanggang dan diserahi amanah sebagai pembantu direktur (Pudir) I bidang akademik periode 2012-2016. Selama menjadi Pudir I dia melanjutkan terobosan yang sebelumnya dilakukan ketika masih di jurusan. Alhasil jumlah mahasiswa Politani Pangkep meningkat pesat dan namanya juga kian dikenal di level nasional.

Salah satu usulan Darmawan yang kemudian diimplementasikan di tingkat nasional adalah mempercepat pendaftaran penerimaan mahasiswa baru. Ketika itu dia melihat kondisi dimana Politeknik selalu menjadi pilihan kedua setelah universitas negeri. Oleh karena itu dia mengusulkan agar pendaftaran masuk dibuka lebih cepat ketimbang Sipenmaru universitas.

"Awalnya berat. Tapi kami terus dorong dan akhirnya hasilnya baik. Walaupun tentu saja harus ada strategi cadangan seperti jalur undangan dan jalur kerja sama," paparnya.

Berbagai inovasi yang dilakukan Darmawan membuatnya kembali masuk dalam radar pemilihan direktur Politani Pangkep untuk periode 2016-2020. Dan, rupanya memang garis tangan Darmawan sudah ditentukan. Direktur terpilih ketika itu harus berpulang ke rahmatullah hanya berselang beberapa bulan pasca terpilih.

Darmawan lantas ditunjuk menjadi pelaksana tugas sementara. Setelah dilakukan pemilihan ulang, nama Darmawan tetap yang teratas dan akhirnya dilantik sebagai direktur.

Selama mengemban amanah sebagai direktur Politani Pangkep, Darmawan mengakui ada banyak tantangan yang harus dihadapi baik dari internal maupun eksternal. Namun, dia mengaku tertolong berkat solidnya tim, mulai dari level pimpinan, dosen hingga pegawai.

Dia lantas kembali melakukan terobosan-terobosan sebagaimana ketika menjabat sebagai kajur dan Pudir I. Diantarnya Politani Pangkep menduduki peringkat 9 nasional kategori perguruan tinggi vokasi dari total 256 politeknik negeri dan swasta yang ada di seluruh Indonesia. Sejumlah proyek yang sebelumnya terbengkalai juga berhasil diwujudkan di masa kepemimpinannya. Contohnya adalah pembangunan dermaga dan simulator kapal.

Dan yang paling fenomenal adalah ketika dia berhasil mendatangkan menteri pendidikan untuk pertama kalinya ke kampus Politani Pangkep. Padahal, selama 32 tahun berdiri tidak sekalipun kampus tersebut pernah dikunjungi oleh menteri. Pengalaman tersebut membuatnya optimistis bahwa kampus yang dipimpinnya punya potensi untuk lebih dikenal. Apalagi, Politani Pangkep memiliki visi besar untuk masuk dalam kategori kelas dunia paling lambat tahun 2030 mendatang.