Data Bocor Registrasi SIM Card, Sekjen ATSI sebut Pelaporan Dilakukan secara Offline

Merdeka.com - Merdeka.com - Sekjen Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Marwan O. Baasir mengatakan, skema pelaporan tentang perkembangan pelanggan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dilakukan secara offline.

"Teknis pelaporannya itu, kami kirimkan secara offline. Gak ada yang online. Laporan itu, kami kirimkan sebagai laporan resmi. Ya pakai kertas," ujar Marwan kepada awak media saat ditemui di sebuah acara, Jakarta, Kamis (8/9).

Menurut Marwan, pelaporan ini sesuai yang diwajibkan pemerintah melalui Permenkominfo Nomor 5 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Dalam pasal 169, disebutkan bahwa Penyelenggara Jasa Telekomunikasi wajib menyampaikan laporan setiap tiga bulan kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Direktur.

"Kominfo memiliki kewenangan dalam hal pengawasan. Menerima laporan jumlah pelanggan dari penyelenggara berdasarkan permenkominfo," kata dia.

Ia pun mengatakan, merujuk aturan tersebut, data-data yang harus disetorkan adalah identitas pelanggan jasa telekomunikasi yang melakukan registrasi dan nomor Mobile Subscriber Integrated Services Digital Network Number (MSISDN) yang digunakan.

"Data-data yang dilaporkan itu, NIK, MSISDN, No KK, dan tanggal registrasi," jelas dia.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 1,3 miliar data registrasi SIM Card prabayar dicuri hacker. Informasi awal itu didapatkan dari akun Twitter @SRifqi. Dalam tautannya itu disebutkan bahwa dugaan data bocor itu didapat berasal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Diketahui, Bjorka merupakan nama hacker yang menyebut telah mencuri data-data itu.

Sementara itu, Dirjen APTIKA Kominfo, Semuel A. Pangerapan menyatakan bahwa Kominfo tidak memegang data registrasi SIM Card. Ia menyebut, Kominfo hanya memegang data agregat pelanggan yang dilaporkan. Kasus ini pun tengah diinvestigasi oleh BSSN dan cybercrime Polri. [faz]